
SALJU YANG TURUN hampir sepanjang hari nyaris meruntuhkan niatnya. Petugas Hotel La Luimere di Piazza, tempatnya menginap, bahkan mengingatkan agar ia menunda perjalanan. “Il tempo e’ bruttissimo!” Cuaca yang buruk, katanya, tak hanya akan membuatmu kedinginan, namun juga didera rasa bosan. Andai kematian seperti perjalanan yang bisa ditunda.
Terbayang wajah ibunya yang berbaring pucat. Dokter sudah memberi tahu, Ibu tak lagi punya banyak waktu. Ia sesungguhnya tak terlalu percaya keajaiban, tapi ia teringat kata-kata Romo Pambudi, “Bila pun kamu tak percaya doa, tak ada salahnya bila kamu mendoakan ibumu.”
Di sela kesibukannya mengurus paroki, Romo yang santun dan penuh perhatian itu selalu menyempatkan mengunjungi ibunya yang sudah berbulan-bulan menjalani kemoterapi dan kondisinya makin lemah. Barangkali doa memang tidak menyembuhkan, tetapi membuat kita tidak kehilangan harapan.
Saat tahu ia akan ke Roma untuk urusan pekerjaan, Ibu berharap ia menyempatkan mengunjungi Katakombe Santa Fallecia yang diceritakan Romo Pambudi. “Lagi pula, Nak, doa tak pernah sia-sia,” suara ibunya lemah. Tapi, doa tak bisa menyelamatkan perkawinan Ibu.
Ibu, wanita Jawa yang sabar, menikah dengan lelaki yang lebih banyak menghabiskan kesibukan di luar rumah dan meninggalkannya untuk menikah dengan wanita yang lebih muda, tetapi tak lebih cantik. Ia saat itu berusia dua tahun lebih tua dari Westi, adiknya yang masih TK. Ibu menjadi begitu pendiam, dan kesehatannya dengan cepat menurun.
Ia menyangka ibunya terlalu mencintai lelaki itu, mengharapkannya kembali. Setelah ia masuk kuliah barulah menyadari, bukan lelaki itu yang membuat Ibu nyaris sepanjang hari berdiam diri, tetapi karena tak ingin anak-anaknya tahu
tentang penyakitnya.
Kapal yang membawanya dari Civitavecchia terasa bergerak lamban. Cahaya matahari yang lembut membuat permukaan laut berkilauan, dengan gelombang kecil yang mengingatkannya pada kesedihan ibunya. Seakan-akan laut ini menjelma ranjang di mana ibunya terbaring tenang. Laut sebenarnya tak pernah tenang, karena selalu menyembunyikan rahasia. Dan seperti laut yang tenang itulah Ibu selalu menyembunyikan perasaannya. Laut tanpa debur, meski bergelora di kedalamannya.
Di Palermo, ia menyempatkan mencari informasi di sebuah tokoh buku kecil, yang lebih banyak menyediakan cendera mata dan kartu pos serta buku-buku traveling untuk turis, tapi ia merasa sedikit beruntung menemukan buku kecil tentang riwayat para martir yang kemudian dibacanya sepanjang perjalanan bus menuju Trapani.
Ia ingat, suatu kali Ibu memeluknya dalam bus. Saat itu ia berumur 8 tahun, dan mereka baru pulang dari rumah sakit, yang terletak di kota kabupaten, berjarak lebih dari 50 kilometer dari desanya. Dokter puskesmas merujuk Ibu ke rumah sakit, untuk periksa lebih lanjut.
Dan Ibu pulang dari rumah sakit sore itu dengan tangis yang selalu ditahannya dan hanya terus memeluknya. Tuhan tak pernah memberi kita penderitaan, tapi memberi kita pelajaran tentang ketabahan, samar-samar ia seperti mendengar suara ibunya.
Mungkin benar seperti kata ibunya, Tuhan mencintai orang-orang yang tabah. Dan ia tak akan melupakan, betapa tabah cinta ibunya. Kemiskinan tak membuatnya menyerah membesarkan anak-anaknya. Ibu membuka toko kelontong kecil, sambil menerima jahitan, begitulah cara ia berjuang menyekolahkan dua anaknya.
Kegigihan Ibu melecutnya untuk berprestasi di sekolah, hingga mendapat beasiswa, yang memungkinkannya bisa kuliah.
Pemandangan langit kelabu di atas bukit-bukit Monte Lepre yang gersang mengingatkannya pada mata ibunya yang terkatup redup, tapi menyimpan ketabahan. Dalam suasana cuaca yang membosankan, ia seperti merasakan kehangatan, seolah-olah sedang berada dalam pelukan Ibu.
Perbukitan gersang dan gedung-gedung tua mengingatkan pada novel Mario Puzo. Kebaikan bukan hanya milik kaum
beriman, para bandit pun percaya kebaikan. Tapi bukan novel The Sicilian yang kini dibacanya, melainkan buku kecil tentang kisah-kisah mukjizat para santo dan santa itu.
Bukan tentang keteguhan dan keberanian Salvatore Guiliano melawan kerakusan carabieneri, polisi dan aparat hukum korup, juga Don Croce Malo yang kejam. Tapi tentang Beata Eustochium yang juga lahir di Messina, Sisilia sampai Santa Fallecia dan Santo Philip Benizi, orang-orang suci yang mati mengenaskan tetapi diberkati kemuliaan dan keajaiban.
Meski, jujur saja, ia tak terlalu berharap pada keajaiban. Di zaman ini, keajaiban lebih terasa seperti bualan.
KETIKA IA MENDAKI jalan setapak menuju Monte Erice, langit sebersih satin putih, pepohonan seperti tengah disucikan oleh cahaya lembut. Salju memang menutupi hampir seluruh perbukitan, tetapi udara tak sedingin yang dibayangkannya,
bahkan terasa seperti pelukan yang menenteramkan. Mungkin juga karena berkeringat, setelah lebih sepuluh kilo meter ia
berjalan mendaki. Jalan kecil berkelok-kelok menyisir perbukitan granit ini memang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.
Di bawah sana bayangan rumah-rumah kian kelabu terkelambu kabut. Harum lembap kayu dan bebatuan berlumut membuatnya merasakan kesunyian yang kudus. Pulau Egadi yang tampak kecokelatan bagai roti diolesi selai kacang yang sedang dihangatkan, dan pantai San Vito Lo Capo mengingatkannya pada hijau lembut permukaan agar-agar.
Tampak kastil dari abad pertengahan berdiri di ketinggian pada sebuah tebing, juga gereja dengan menara lateral yang menjulang dan berkilat oleh cahaya matahari seolah diluluri madu. Tapi, bukan ke gereja megah itu ia menuju. Ia melihat kelokan itu.
“Dari situ kau akan menemukan undakan batu menurun,” begitu petunjuk pemilik kedai kopi yang ditemuinya sebelum menaiki perbukitan ini. “Kau tinggal mengikuti undakan itu untuk sampai ke gereja yang kau cari. Stai attento. Hati-hati, di musim dingin undakan batu itu sangat licin.”
Setelah melewati rimbun pepohonan, ia melihat bangunan tua yang seolah-olah abadi dalam sepi. Bahkan menjelang Natal seperti itu tak banyak yang datang. Orang-orang pastilah lebih memilih mengunjungi Basilika Santo Petrus di Vatikan. Dan ia jadi teringat kelakar Romo Pambudi.
Yang akan kau kunjungi bukanlah tempat menarik untuk foto-foto, yang bisa dipamerkan dengan bangga di media sosial. Ia bisa menangkap sindiran halus itu. Orang-orang kini lebih memilih tempat ziarah yang indah untuk latar belakang potret mereka. Bahkan di tempat-tempat suci, orang-orang kini lebih sibuk selfie ketimbang berdoa.
Ia memandang bangunan sederhana dengan pintu kayu tanpa ukiran dan tembok batu yang makin kelabu dipulas waktu itu.
Gereja ini memang dibangun bukan untuk kemegahan, tapi untuk menandai kesakitan dan kepedihan. Karena pada mulanya hanyalah katakombe. Perbukitan cadas dengan gua besar dengan banyak lorong berkelok-kelok dan ceruk Loculi pada dindingnya.
SEPERTI MEMASUKI KEGELAPAN abad penuh penderitaan, abad kelam bagi yang beriman, ketika para martir
bersembunyi dalam ketakutan tetapi tak pernah kehilangan harapan. Kegelapan itu terasa mencekam sekaligus meneduhkan.
Cahaya remang lampu dari kapel kecil itu membuat serakan batu-batu besar seperti bayangan yang ingin menyembunyikan
diri dalam lorong-lorong panjang gua bawah tanah tuffa.
Dan bayangan-bayangan itu seolah datang dari ketiadaan yang membuat sekelilingnya terasa kosong. Kesunyiannya mengingatkan pada kengerian yang ingin dilupakan. Berabad silam jenazah suci itu ditemukan dalam reruntuhan dengan tubuh yang masih utuh.
Keajaiban tidak datang tiap hari, tapi kejaiban akan datang pada mereka yang beriman. Di bawah kekejaman Marcus Aurelius, di tahun 106-165, Fallecia, janda dengan tujuh anak itu dipaksa mengingkari imannya. Para penyiksa seperti mendapatkan kegembiraan mempraktikkan bermacam alat penyiksa ke tubuh wanita itu. Mula-mula dengan coffin torture, rangka besi pipih yang dibentuk melekuk sesuai tubuh korban hingga terkerangkeng dan digantungkan di pinggir jalan. Tiap yang lewat boleh melemparinya dengan batu.
Ia seperti mendengar kembali kesakitan itu, ketika sekoloni sarang semut api dilemparkan ke tubuh wanita yang telah dilumuri minyak gajih. Bau gurih gajih bercampur keringat dan borok yang mulai membusuk membuat semut-semut itu menggigit secuil demi secuil tubuh wanita itu. Masuk ke telinganya, hidung dan liang matanya. Berminggu terkerangkeng
dan tergantung menanggung kesakitan, ia hanya terus berdoa, hingga membuat bosan para penyiksanya.
Tapi, para algojo tak pernah kehabisan imajinasi untuk tahu apa yang terbaik buat ibunya. Setelah lebih 10 tahun, sejak tahu kanker telah menyebar dan bertahan menanggung semua kesakitannya, kematian terasa jadi jalan yang melegakan bagi Ibu.
Dari Ibu, ia belajar menyimpan sakit dan penderitaan. Di sisa waktu ketika Romo Pambudi sering menemani Ibu berdoa, ia memilih berdiam diri. Kanker sudah membuat Ibu begitu menderita, dan ia tak mau lagi membebaninya. Ia juga belajar
menyembunyikan kesakitan. Bedanya, ia tak berdoa serajin Ibu. Justru Dokter Yap yang tak percaya, ketika menyerahkan hasil laboratorium terakhir, sebelum keberangkatannya ke Italia.
“Sebagai dokter, saya tak dididik untuk percaya keajaiban. Tapi, ini sungguh tak masuk akal.” Dokter Yap telah menyarankan untuk menjalani radioterapi kanker otaknya, bahkan mengatakan kemungkinan hidupnya tak akan lebih setahun lagi, tapi kini mendapati semuanya telah bersih. Dengan berkelakar, Dokter Yap menggambarkan, “Otakmu seperti barusan dicuci dengan detergen pembersih!” Dokter yang telah lebih dari dua tahun menangani penyakitnya itu menatap tak percaya.
Bagaimana seorang ibu merasakan penderitaan anak-anaknya takkan pernah bisa dipahami anak-anaknya. Ia tak pernah menceritakan kanker otak yang ia derita kepada Ibu, tetapi kini ia tahu mengapa Ibu memintanya ke Katakombe Santa Fallecia. (f)