
Foto : 123RF
Dahayu mematung di depan dinding separuh kuning. Bintik keringat menyembul di kening, lantas meluncur dan jatuh di lengannya yang kini terasa lengket seperti dioles selai nanas. Angin musim panas yang menerobos melalui jendela hanya menjadi tamu sia-sia yang tak berdaya mendatangkan kesejukan di dalam ruangan. Tangannya menggenggam sebatang kuas berlumur cat. Di sisi kakinya, di atas lantai kayu beralas sehelai kain terpal, tampak nampan plastik berisi cairan cat berwarna kuning pisang. Ia siap melanjutkan duel yang belum usai.
Duel? Digigitnya bibirnya yang kering. Duel adalah tindakan membela diri demi sebuah kehormatan. Mungkin saja pertarungan itu tidak seimbang, sebab lawannya sebentuk benda mati. Dinding itu cuma berdiri diam di hadapannya, pasrah menunggu eksekusi sang algojo.
Adilkah? Dahayu menyeka butir keringat yang muncul lagi di keningnya. Tentu saja adil baginya. Sesungguhnya, tidak ada niat buruk terlintas di kepalanya. Ia akan berteguh pada pendiriannya untuk memberikan warna indah pada ruangan itu, sekalipun suaminya tak sependapat dengannya. “Aku suka warna putih. Putih terkesan bersih, netral, dan gampang dipadu dengan perabot apa pun,” ucap suaminya di suatu sore, saat dinding putih interior rumah mereka memantulkan kilap mutiara yang memesona.
Dahayu menggelengkan kepala. “Putih bukanlah warna.” Suaminya mengerutkan kening. “Maksudmu?” “Putih adalah terang, sedangkan hitam adalah gelap. Keduanya tidak termasuk dalam lingkaran warna yang pernah kupelajari di sekolah. Tentunya kau paham, Sayang, rumah ini membutuhkan warna agar tampak cantik.” Sesaat jemari Dahayu lincah membolak-balik brosur berisi beragam jenis cat tembok yang diperolehnya cuma-cuma dari sebuah toko bahan bangunan. Pada halaman tengah ia berhenti dan menatap baik-baik foto ruangan yang dicat dengan warna memukau.
"Nih, lihatlah, aku ingin melapis dinding dengan warna kuning pisang.” Dahayu menyodorkan brosur kepada suaminya yang menyambarnya dengan malas. “Kuning tidak bisa menghasilkan suasana elegan,” pria itu mengernyitkan hidungnya yang mancung.
“Emas berwarna kuning, dan bukankah emas itu elegan?”
“Emas berwarna emas, bukan kuning,” tukas suaminya, gusar. “Tapi, kuning dapat menghadirkan suasana hangat. Kita butuh kehangatan di tengah alam yang muram ini. Coba kau hitung, matahari muncul sempurna hanya tiga bulan, selebihnya kita hanya berteman angin dingin dan salju putih.” Suaminya tertawa kecil. Biru bola matanya makin cemerlang berlatar dinding putih rumah mereka. “Putih lebih cocok. Percayalah,” sahutnya, diiringi tatapan lembut.
Dahayu menghela napas. Dialog antara ia dan suaminya terasa sia-sia. Berbulan telah berlalu tanpa hadir solusi terbaik. Mungkin suaminya tidak mengerti betapa cat bukan sekadar bahan pelapis tanpa makna. Warna cat berpengaruh besar pada suasana ruangan. Baginya, cat mirip alat kosmetik yang bisa mengubah wajah buruk jadi nikmat dipandang, ataupun sebaliknya. Diperlukan ketepatan memilih warna cat, terlebih untuk hunian, sebuah rumah dengan tiga kamar tidur yang menjadi ‘sarang’ pilihannya setelah suaminya menikahinya dan memboyongnya untuk tinggal di Amerika Serikat.
Saat pertama melihat rumah itu, Dahayu langsung jatuh hati. Meski agak tua, rumah itu tampak terawat. Lantainya tersusun dari bilah kayu merbau yang menciptakan suasana hangat. Lingkungan sekelilingnya asri dengan barisan pohon birch. Mayoritas warga yang tinggal di kompleks perumahan itu merupakan imigran asal Asia. Cuma
segelintir orang kulit putih tinggal di sana, termasuk sepasang wanita yang tanpa sungkan merayakan orientasi seksual mereka dengan memancang panji-panji pelangi sebesar bendera negara di depan rumah mereka.
Sempat Dahayu merasa geli melihat kompleks perumahan itu. Ia bisa merasakan betapa kelompok minoritas selalu ingin berkumpul dengan sesamanya. Seperti juga orang-orang kulit putih di negaranya yang sebagian menumpuk tinggal di beberapa kawasan di Jakarta Selatan. Pun orangorang Tionghoa yang tersebar di berbagai kawasan di dunia dan memilih bersatu dalam kantong-kantong yang disebut pecinan atau chinatown.
“Sebenarnya tidak perlu tinggal mengelompok,” saran suaminya, ketika ia ngotot memilih rumah itu. “Lebih baik membaur dan melebur.” Dahayu membalas dengan senyuman. “Yang penting aku betah. Nanti setelah beberapa tahun di sini, jika bosan kita bisa pindah ke tempat lain.” Suaminya bersungut-sungut, meski akhirnya setuju membeli rumah itu. Dahayu tidak menyia-nyiakan waktu untuk meninggalkan jejak di tiap ruangan. Ia membungkus jendela-jendela dengan tirai batik, melapis meja makan dengan tenun ikat, menghias ruangan dengan wayang golek dan lukisan kamasan serta penyekat ruangan berukiran khas Jepara. Sebagian barang-barang ituharus didatangkan dari Indonesia lewat jasa pengiriman vialaut yang ditanggapi suaminya dengan helaan napas yang cukup panjang.
Hanya satu yang menimbulkan gusar Dahayu tentunya. Dinding ruangan yang putih. Putih yang memicu debat panjang antara ia dan suaminya hingga kini. Putih yang juga bukan jadi pilihan Lakshita Banerjee, tetangganya, seorang wanita paruh baya asal India yang bekerja sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit di kota itu.
Lakshita melapis dinding rumahnya dengan cat hijau jeruk nipis. “Wow!” seru Dahayu takjub, saat pertama melihat warna itu. Baginya, warna itu sangat berani dan tidak
biasa di tempat yang sepertinya cuma mengenal putih, kelabu, krem, dan cokelat. Kali lain Lakshita mengundangnya berkunjung ke rumahnya, Dahayu menyambut penuh semangat. Ada rasa istimewa yang muncul ketika ia memasuki rumah wanita itu. Seolah dirinya tersedot dalam lorong waktu beraroma rempah dan dimuntahkan di tengah
kemeriahan wilayah Delhi. Tidak sekali pun ia jenuh menikmati ruangan yang dihiasi tirai sutra kuning kunyit, bantal-bantal kesumba bermotif gajah, dan tapestri teratai hijau berkelopak dua belas.
Hidungnya menikmati aroma masala dan kenikir yang mengambang di langit-langit rumah. Di tengah kemeriahan itu pula ia dan Lakshita akan duduk dan berbincang panjang lebar tentang kerinduan mereka pada tanah air masing-masing sambil menikmati chai panas dan chakali renyah berbumbu. Tidak cuma interior, halaman rumah Lakshita Banerjee pun tampil berbeda. Jika musim panas tiba, ia menanam sepasang pohon pisang yang dibelinya dari Ryan Applegate, satu-satunya
hortikulturis di kota mereka yang memiliki greenhouse yang dipenuhi tanaman tropis.
“Bagus sekali,” nada cemburu terdengar di sela suara Dahayu. Ia kagum Lakshita mau berepot-repot membeli tanaman tropis yang mungkin hanya bertahan hidup selama tiga bulan di halamannya. “Aku membutuhkan energi tropis yang dipancarkan tanaman itu,” jawab Lakshita. “Energi tropis yang cuma sebentar,” balas Dahayu. “Lebih baik sebentar daripada tidak sama sekali.” Beberapa hari pikiran Dahayu hanya dipenuhi pohon pisang hingga tidurnya terganggu. Setelah menimbangnimbang,
akhirnya ia menghubungi Ryan Applegate dan menyampaikan pesanannya.
Si hortikulturis datang ke rumahnya pada suatu siang bersama sebatang pohon pisang dan sekarung pupuk. Pria itu membantunya menanam pohon yang tingginya hampir mencapai dua meter di halaman rumahnya. Ryan menjelaskan beberapa hal mengenai cara merawat pohon pisang yang disimak Dahayu dengan antusias. “Omong-omong, kau beruntung sekali, ya, koleksi pohon pisangmu hidup sepanjang tahun,” kata Dahayu, sambil membayangkan suatu saat nanti ia akan membuat nasi bakar ayam-kemangi yang dibungkus daun pisang.
“Di dalam rumah kaca milikku, pohon pisang bisa tumbuh sepanjang tahun tanpa terganggu musim dingin. Tapi akibatnya, biaya listrik yang harus kubayar selama musim dingin untuk menghangatkan rumah kaca bisa mencapai ribuan dolar,” jawab Ryan, sembari tergelak. Dahayu meringis membayangkan jumlah uang yang bisa dipakainya untuk membayar cicilan rumahnya itu. “Kalau kau menanamnya di halaman, pohon pisang ini hanya akan bertahan sepanjang musim panas. Setelah itu, ia akan mati karena udara dingin,” jelas Ryan Applegate.
“Tidak apa-apa. Musim panas tahun depan, aku bisa membelinya lagi darimu,” jawab Dahayu, lalu mengucapkan terima kasih sebelum pria itu pamit pulang. Dada Dahayu terasa sesak saking senangnya. Ia tersenyum-senyum membayangkan wajah Lakshita Banerjee, jika melihat ia pun memiliki pohon pisang. Ia masih sibuk mengagumi tanaman itu ketika suaminya pulang dari kantor. Sepasang mata pria itu membelalak melihat sesuatu yang berbeda di halaman rumah. “Seharusnya kau menanam pohon apel, bukan pisang,” protesnya. “Ingatlah, kau berada di sini, bukan di sana,” telunjuknya mengarah ke lonceng angin berbentuk angklung yang menghiasi langit-langit teras rumah mereka. “Kau membuang-buang uang saja membeli tanaman yang tidak cocok hidup di sini.”
Hidung Dahayu mengernyit. Lamunannya yang sempat mengembara terusik oleh bau cat. Perhatiannya kembali terpusat pada dinding di hadapannya yang sebagian telah tertutup oleh warna kuning pisang. Butiran keringat kembali meluncur dari keningnya dan jatuh membentur lantai merbau. “Musim panas kali ini sangat bermakna bagiku sebab ada pohon pisang dan dinding kuning pisang,” bisiknya pada dirinya sendiri. Dahayu mengembuskan napas seraya menyeka pipinya yang basah dengan punggung tangan. Udara panas dan gerah akibat suhu yang mencapai 45 derajat Celsius. Sama menyiksanya saat nanti musim dingin tiba, ketika suhu dapat menukik hingga -45 derajat Celsius hingga alat pemanas ruangan terseok-seok menaikkan suhu ruangan.
"Aku harus segera merampungkan pekerjaan ini,” tekadnya, seraya mencelupkan kuas ke dalam nampan plastik berisi cat kuning pisang. Ia berharap pekerjaan itu sudah rampung saat suaminya pulang dari bermain golf. Dengan gerakan yang cukup terlatih, Dahayu mengoleskan kuas pada permukaan putih yang masih tersisa. Hasil karyanya tentu memuaskan, sebab ia telah mengambil kursus singkat di toko bahan bangunan untuk memainkan kuas pada dinding sehingga polesan cat rata dan tidak menumpuk. Lehernya mengilat oleh keringat yang lagi-lagi disekanya dengan punggung tangan. Pada saat yang sama lidahnya mencecap sesuatu yang asin.
“Puiiih,” semburnya, merasakan keringat yang jatuh dari keningnya dan mendarat di bibir. Sungguh menyebalkan ketika konsentrasinya harus terusik oleh peluh yang makin membanjir. Kepala, rambut, dan punggungnya terasa basah, lipatan lengan atasnya melembap. Tak lama lagi kaus oblong yang dikenakannya akan mirip sehelai kain yang terendam air. Dahayu menajamkan konsentrasi, berusaha melupakan panas dan gerah. Pekerjaannya hampir rampung.
Tangannya lincah memainkan kuas hingga tak lama seluruh permukaan dinding yang putih telah tertutup warna kuning pisang. Kini suasana tropis idamannya tercipta sempurna di dalam rumah. Matanya mengerjapngerjap, menatap silau sekelilingnya. Keringatnya makin deras bercucuran. Mengapa ia makin tak nyaman? Telapak kakinya yang telanjang terasa panas. Ia mengangkatnya bergantian seraya mengaduh. Lantai merbau kecokelatan tampak seperti minyak jelantah yang meletup-letup di atas penggorengan.
Dahayu menatap ngeri lantai itu. Mendadak pintu terbuka. Ia mengangkat wajah dan melihat suaminya muncul di ambang pintu. “Panas sekali… astaga… apa lagi yang kau lakukan, Dahayu?” Pria itu menatap tak percaya pada dinding yang kuning menyala. Sejenak ia menggeleng-gelengkan kepala seraya menatap tajam istrinya. “Kepanasan?”
Dahayu menjawab gugup, “Aku seperti telur mata sapi di atas minyak panas dalam penggorengan.”
Suaminya menghela napas. “Tepatnya, kau seperti segumpal kuning telur yang dikelilingi putih telur dalam penggorengan, tak ingin melebur, enggan membaur.” Pria itu berkata lagi, “Kau ada di sini, bukan di sana, Sayang. Kau harus belajar mengenal putih, bukan kuning melulu.”
Sesaat Dahayu hanya mematung sebelum mengangguk lambat. Suaminya tersenyum dan merangkul pinggangnya. “Baiklah, besok kita akan pergi ke toko bahan bangunan dan membeli cat putih. Kita akan menempatkan putih kembali pada posisinya,” sahutnya, seraya menyeka keringat di kening Dahayu dengan tangannya yang menenangkan.
Ernita Dietjeria
Cek koleksi fiksi femina lainnya di: