Pesan pertama dari Gendhis masuk pukul 19.07. Karena kami hanya saling mengirim pesan di hari ulang tahun atau hari raya, aku langsung tahu ada sesuatu yang tidak biasa.
 
Hi, Nik. How’s life? Kamu punya nomor kontak Ganis? Om Djito meninggal. Nobody can reach her. Reply ASAP please. Thanks.
 
Telapak tanganku berkeringat ketika membaca dua nama dalam pesan tersebut. Kujelaskan pada Gendhis bahwa aku sudah lama sekali hilang kontak dengan Rengganis.
 
Rasanya déjà vu, ya. Ingat enam belas tahun lalu? Ketika kalian nemenin aku di malam Eyang meninggal? Betapa sangat membantu dikelilingi teman di saat seperti itu. Kita harus datang untuk Ganis. Dia butuh kita.
 
Aku menelan ludah. Bagaimana mungkin aku melupakan malam itu? Tak lama kemudian Gendhis mengabarkan bahwa Ganis telah berhasil dikontak dan sedang dalam perjalanan pulang ke Salatiga. Almarhum Om Djito akan dimakamkan lusa. Dalam pesan terakhirnya, Gendhis juga memberikan nomor kontak Ganis serta beberapa akun media sosialnya. Aku memilih untuk menjelajahi akun media sosial Ganis.

Dalam waktu kurang dari satu jam, jarak belasan tahun di antara kami mengerucut. Ternyata, saat ini Ganis tinggal dan bekerja di Kanada. Sama seperti aku, ia juga belum menikah. Dari foto-foto yang diunggah, sepertinya ia sering berganti pasangan. Ah, betapa waktu bisa mengubah seseorang. Dulu, Ganis tak pernah sekali pun menunjukkan minat pada lawan jenis.

Aku mencari sebuah amplop cokelat dari dalam lemari. Tak butuh waktu lama untuk menemukan foto kami bertiga: Gendhis, Ganis, dan aku. Aku ingat, itu adalah photobox pertama kami. Tak hanya bersekolah di SMU yang sama, kami juga tinggal berdekatan. Ganis dan Gendhis di sebuah kompleks perumahan mewah, sementara aku di kampung persis di sebelah kompleks mereka.

Mataku beralih pada kuku tangan kananku yang cuil tak beraturan. Aku menelan ludah sekali lagi. Demi masa lalu, sudah selayaknya aku datang ke pemakaman  ayah Ganis. Dan demi masa kini, masa laluku harus kukubur bersama pemakaman itu. Aku pun berdiri dan berkemas.
 
 

Salatiga tak lagi sedingin yang kuingat. Begitu turun dari taksi, peluhku langsung bercucuran. Sebuah bangunan yang kusam dan muram berdiri di depanku. Aku membetulkan tali tasku untuk kesekian kalinya ketika menyusuri kamar-kamar yang berjejer rapi di sisi kiri. Sejujurnya, aku tidak ingin bertemu dengan Ganis. Aku hanya perlu mengambil sebuah gambar dengan ponselku, lalu mengirimkannya dengan sebuah ucapan belasungkawa. Itu jauh lebih sederhana. Itu jauh lebih…

Kereta pikiranku berhenti ketika aku melihat sebuah pigura foto yang diapit dua buah lilin besar. Sepasang mata di foto itu memaku kakiku pada titik di mana mereka berpijak, membuatku menjadi gadis berusia tujuh belas tahun lagi. Hingga seseorang memanggilku.

“Manik?”

Ganis berjalan menghampiriku. Kecuali rambut yang kini berwarna cokelat, ia masih sama seperti yang dulu. Mulutku membuka dan menutup berusaha mengatakan sesuatu. Namun, semua kalimat yang ada di ujung lidahku terasa salah. Akhirnya aku hanya mengulurkan tangan dan mengucapkan turut berduka.

Aku tak bisa menahan hela napas lega ketika Ganis memberi tahu bahwa peti sudah ditutup. Tidak dapat kubayangkan rasanya harus menuang minyak sambil menatap wajah itu sekali lagi. Di depan peti putih itu aku menunduk. Aku tidak sedang berdoa untuk jenazah di dalamnya. Aku berdoa untuk keberuntunganku malam ini.

“Kamu kedinginan?” tanya Ganis, begitu aku membuka mata.

Dengan wajah bingung aku menggeleng.

“Tanganmu bergetar dari tadi,” lanjutnya.

Aku menatap tanganku sendiri dengan ngeri. Sejak kapan mereka bergerak seperti itu?

“Aku ambilkan teh hangat. ”Ganis berdiri tanpa menunggu jawabanku.

Masih bossy dan dominan seperti yang dulu.

Ganis kembali sambil membawa dua cangkir yang tampak mengepul. Aku menerima satu yang disodorkan padaku. Ketika kupegang, cangkir itu ikut bergetar hingga isinya nyaris tumpah. Ganis terlihat akan mengatakan sesuatu ketika pintu terbuka dan seraut wajah familiar menyembul di baliknya.

Entah bagaimana Gendhis bisa langsung melihat kami di antara sekian banyak tamu. Mungkin karena ia mengenakan sepatu berhak tinggi di atas sepasang kaki yang sudah jenjang itu.

I’m so sorry, Dear,” bisiknya, sambil memeluk Ganis.

Ganis menggumamkan terima kasih. Kemudian Gendhis berpaling padaku.

“Kamu datang juga.” Gendhis mendekapku erat. “Bahkan lebih cepat dariku. I miss you so much.”
 
 


Gendhis menyeret sebuah kursi untuk duduk di sisi kananku, berseberangan dengan Ganis. Pembicaraan kami di sudut ruangan hanya berhenti sesekali ketika Ganis menyambut tamu yang datang. Aku terus merasa ada sesuatu yang janggal, tapi  tak tahu apa. Kuanggap itu karena jeda kosong di antara kami bertiga.

Jam tanganku menunjukkan pukul sebelas malam. Di rumah duka hanya tersisa beberapa anggota keluarga. Aku menerima tawaran Gendhis untuk mengantarkanku pulang ke hotel. Sementara Ganis memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi.
Ketika berdiri, Gendhis mengibaskan rambutnya sambil membuka kancing bajunya yang paling atas.

“Panasnya bukan main,” keluhnya.

Ganis yang saat itu sedang berbicara mengenai di mana sebaiknya kami bertemu lagi sebelum aku pulang ke Jakarta, tiba-tiba berhenti bicara. Matanya menatap sesuatu tanpa berkedip. Sesuatu pada Gendhis. Sesaat, hanya untuk sesaat, semua warna meninggalkan wajahnya. Aku mencoba melihat apa yang telah mencuri perhatian Ganis. Namun, dari posisi dudukku, aku tidak melihat apa pun selain baju Gendhis yang basah oleh keringat.

“Nis, kita jadi ketemuan di mana?” tanyaku untuk kedua kalinya.

Ganis menoleh padaku. “Nanti kukabari lewat WA.”
 
 

Aku bangun esok harinya karena sebuah suara asing. Bukan dering teleponku, bukan pula dering alarmku. Butuh beberapa detik sebelum aku sadar bahwa aku tidak sedang berada di kamar kosku. Butuh beberapa detik lebih lama lagi untuk menyadari bahwa yang berbunyi adalah telepon di samping tempat tidurku.

“Ya?” suaraku terdengar serak dan pecah.

“Selamat pagi, Ibu Manik. Maaf menelepon pagi-pagi. Ada seorang tamu yang menunggu di lobi dan memaksa untuk bertemu dengan Ibu. Namanya Ibu Ganis.”

Aku langsung terduduk. Ganis?

Aku meraih ponselku untuk mengecek waktu, tapi benda itu mati.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku.

“Pukul 5.30 pagi, Bu,” jawab suara di seberang dengan sopan.

Aku mengucek mataku. Pemakaman baru akan dilaksanakan pukul sembilan.

“Tolong bilang pada Bu Ganis, saya akan turun sepuluh menit lagi.”
 
Aku tidak mandi. Sepuluh menit tidak cukup untuk itu. Aku hanya mencuci muka dan berganti baju. Aku menemukan Ganis duduk di tepi kolam renang. Sudah mandi dan berias.

“Kamu baik-baik saja, Nis?” tanyaku khawatir.

Ia mengangguk. “Belum pernah merasa sebaik ini,” jawabnya pelan.

“Mau bicara di resto, sambil makan atau minum sesuatu?” tawarku.

No, thanks. Enggak biasa sarapan. Aku cuma perlu bicara dengan seseorang. Sebentar saja.”

Seandainya aku mandi pagi ini, atau bangun lebih awal, maka intuisiku tidak akan setumpul ini. Aku akan tahu ada sesuatu yang salah. Kunjungan yang terlalu pagi biasanya begitu.

“Kamu tahu kenapa aku pulang ke Salatiga?” Ganis bertanya sambil memandang air.

“Untuk pemakaman ayahmu?”

Ganis menggeleng. “Untuk memotong simpul terakhir yang mengikatku pada masa lalu.”

Tengkukku meremang. Itu juga yang membuatku pulang.

Psikiater yang kutemui beberapa bulan terakhir yang menyarankan itu. Jika tidak, ia khawatir aku tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan lelaki mana pun.”

Aku menggumamkan ‘oh’ sambil menunggu ia melanjutkan ceritanya.

“Kamu tahu kalau papiku berselingkuh?”

Untuk pertanyaan kali ini Ganis menatapku lekat. Paru-paruku mendadak menolak bekerja. Aku megap-megap mencari udara. Namun, rupanya Ganis tidak membutuhkan jawaban.

“Bertahun-tahun aku dihantui oleh pertanyaan ‘siapa’. Berkali-kali kutanyakan kepada Papi, tapi ia tak pernah memberiku sebuah nama. Ia terus saja menyangkal.”

“Itukah sebab orang tuamu bercerai?” tanyaku dengan tenggorokan tercekat.

Sudut bibir Ganis terangkat. “Bukan. Ada alasan yang lain lagi.”

Senyumkah itu yang barusan kulihat?

“Ia menyangkal sampai maut menjemputnya. Kupikir aku tak akan pernah tahu kebenarannya.”

Ia menengadah melihat langit. “Siapa sangka aku mendapatkan jawabannya kemarin.”
 
 


Cukup sudah. Aku tidak bisa menanggung beban ini lebih lama lagi. Ganis jelas-jelas sedang mempermainkanku. Akan kujelaskan kepadanya bahwa semua itu terjadi tanpa rencana. Aku tidak pernah berniat menyakitinya. Pada malam ketika eyang Gendhis meninggal, setelah mengantar pulang Ganis yang sedang flu berat, Om Djito mengantarkanku. Ia memintaku pindah ke kursi depan seperti biasanya. Ia mengucapkan selamat malam seperti biasanya. Yang tidak biasa malam itu adalah  ia mencium bibirku dan menelusupkan tangannya ke dalam rokku.

Aku tersengat oleh berbagai sensasi yang dikirim oleh pancaindraku. Aku cepat-cepat turun dan masuk ke rumah. Instingku berkata, ini salah. Ketika ia mencoba kedua kalinya di kesempatan yang lain, instingku masih mengatakan hal yang sama. Namun, tubuhku merespons berbeda. Begitu pula untuk kali ketiga dan seterusnya.

Berkali-kali aku berjanji akan berhenti melakukannya, tapi berkali-kali pula aku menundanya. Campuran perasaan ini begitu asing dan nikmat. Bahagia, takut, bersalah, dan bergairah sekaligus. Hingga suatu hari sepulang sekolah, almarhumah ibuku menyambutku dan berkata, “Hanya kehormatan yang kita miliki, Nduk. Hanya itu.”

Wajahku memutih. Aku tidak perlu bertanya apa arti ucapannya. Aku juga tak ingin bertanya bagaimana ia mengetahuinya. Satu yang aku tahu. Jika Ibu bisa mengendus rahasia yang kusimpan baik-baik, orang lain juga bisa. Aku pun mengakhirinya.

Reaksi Om Djito tidak seperti yang kubayangkan. Kupikir, dan kuharap, ia akan menahanku. Setidaknya menanyakan alasanku. Ternyata ia hanya memasukkan sesuatu ke dalam saku bajuku, mengecupku untuk terakhir kalinya dan bilang, “Jangan sampai Ganis tahu.”
 
 

“Nis, aku bisa…”

“Jangan bilang kamu bisa mengerti perasaanku. Kita tahu itu omong kosong besar,” potong Ganis. Suaranya meninggi, tapi ia tidak terlihat murka.

“Kalung itu seharusnya menjadi milikku. Aku tak sengaja melihatnya di tas kerja  Papi, sebelum ulang tahunku. Tapi, aku tidak pernah menerima hadiah itu. Dan baru kemarin aku tahu sebabnya. Kalung itu memang tidak pernah dibeli untukku.”
Ganis tertawa pahit. “Nama pelacur sialan itu berinisial G. Sama seperti namaku.”

Kalimatnya barusan melumerkan tulangku bagai api melumerkan besi. Aku tahu persis kalung yang ia maksud. Itu adalah benda yang dimasukkan Om Djito ke kantong bajuku pada 1 September 2001. Ia memberiku sebuah kalung emas putih dengan bandul huruf G ketika aku memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Seminggu sebelum ulang tahun Ganis.

Aku ingat, betapa marahnya aku saat itu. Kulempar kalung itu ke dalam lemari baju. Jika saja kalung itu tidak memiliki bandul huruf, aku akan berpikir bahwa benda itu memang disiapkan untukku. Namun, huruf itu berteriak dengan lantang. Kalung itu adalah alat tutup mulut.

Aku menangis berhari-hari setelahnya. Tak hanya patah hati, aku merasa terhina. Bodohnya, aku mengira hubungan kami begitu istimewa. Di pesta sweet seventeen Ganis yang begitu meriah aku membuat keputusan. Aku tidak akan menginjakkan kaki ke rumah Ganis lagi. Aku tak sanggup melihat wajah-wajah di rumah itu. Wajah yang kukhianati dan yang mengkhianatiku. Aku pun mencari jalan keluar yang paling mudah. Berpacaran. Kali ini dengan teman sekolahku. Dengan begitu, aku punya alasan untuk menghindar.
 
 


Lima tahun lalu, beberapa bulan setelah Ibu meninggal, aku memutuskan untuk menjual rumah kami. Ketika sedang menyortir barang-barang, aku menemukan kalung itu masih teronggok di sudut lemari. Seharusnya aku meninggalkan benda itu begitu saja atau membuangnya di tempat sampah. Bukan mengirimnya kepada Gendhis tanpa identitas. Hanya karena namanya diawali huruf G.

Sekarang aku tahu apa yang membuat Ganis terlihat terluka tadi malam. Ia melihat kalung itu melingkar di leher Gendhis.
“Aku masih sanggup membagi Papi dengan Mami. Tapi tidak dengan wanita lain. Harusnya ia tahu aku benci diduakan.”
Aku menatap Ganis dengan mual. Mulutku terasa kering ketika sebuah kalimat  terus terulang di kepalaku. Jangan sampai Ganis tahu. Om Djito tidak pernah berkata, “Jangan sampai istriku tahu.

Now she can have him all she likes,” gumam Ganis lirih.

Sedetik kemudian ia beranjak berdiri dan tiba-tiba saja terlihat ringan dan cerah.

“Sama-sama pergi dengan belladonna, seperti Romeo dan Juliet. Romantis sekali, bukan?”

Aku masih berusaha memahami kalimatnya barusan ketika ia merapikan gaun putihnya dan berkata, “Batalkan pesawatmu. Ada satu pemakaman lagi yang harus kita hadiri.”

Air mata membuat siluet Ganis yang menjauh tampak buram. Seharusnya aku mengatakan sesuatu. Namun, aku hanya duduk menggigil. Salatiga tidak pernah terasa sedingin ini. (f)
 
***
 
Widjati Hartiningtyas
 
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/