Foto-foto : Shutterstock

 
Lelaki itu menyorongkan sebuah buku. Tua dan menguning. Kutelan ludah. Usianya pasti lebih tua dariku. Label harga masih menempel di sudut kanan atas. Tertera nominal lima ribu rupiah di sana. Saat ini aku hanya bisa membeli tiga buah gorengan dengan uang sebesar itu.
 
“Ayo ambil, ini punya abak kau.” Ia menyodorkannya lebih jauh ke arahku.
 
Aku mengangguk ragu seraya meraihnya dalam satu tarikan. Baunya sepuh. Sama sepuhnya dengan lukisan wanita di sampul buku itu. Kutengarai dialah sosok ibu yang dimaksud lewat judul yang tertulis.
 
“Kukira Bapak tak suka baca buku fiksi,” ucapku datar. Aku tak memutuskan untuk mengubah panggilan bapak menjadi apak, meski ini tanah kelahirannya.
 
Ia mengulas senyum misterius. Membuatku hilang akal, apakah harus jatuh penasaran atau bergidik ketakutan. Kumis berubannya mengembang.
 
“Dia sering kali menulis dan lebih sering lagi membaca. Penulis buku itu bapak kau,” balasnya, sambil menyesap kopi dalam-dalam sehingga aku bisa membayangkan perjalanan cairan kental hitam itu mengaliri kerongkongannya. Jawaban itu membuat keningku mengerut.
 
Kubaca lagi nama yang tertera di sampul buku berwarna hijau dalam genggamanku. Bunga Malam. Itu sebuah nama pena. Bukankah nama itu terlalu feminin untuk seorang pria.
 
“Ini saja, Pak? Bapak yakin tidak ada yang lain?” tanyaku dengan nada sedikit mendesak.
 
Rasanya sedikit berlebihan jika Bapak memintaku jauh-jauh datang ke Padang menemui kawan lamanya hanya untuk sebuah buku tua.
 
Ia kembali menyesap kopinya. “Apak antar ke bandara, ya?” tawarnya tulus, meski wajahnya masih tampak dingin.
 
Baru lima belas menit yang lalu aku tiba di rumah ini. Begitu tiba dengan wajah dan langkah lelah, ia menyuguhiku kopi panas. Dan tanpa buang waktu segera menyerahkan barang yang menjadi alasanku menemuinya.
 
Aku bahkan belum makan apa pun sejak siang. Kini ia tampak terburu-buru memintaku pergi. Ya, memang kukatakan kepadanya bahwa aku terburu-buru. Tapi, rasanya seperti diusir secara halus. Kopiku bahkan baru kusesap tiga kali. Masih setengah gelas tersisa. Rasa penasaranku masih meluap-luap.

Ia membimbing langkahku keluar rumah menuju mobil kijang tua yang terparkir di halaman. Tak ada garasi di rumah ini.
 
Sebelum membuka pintu mobilnya, Apak Asrul berhenti menatap pohon rambutan besar di sebelah kanan. Ia bertahan cukup lama tanpa menghiraukan gatal dari sapuan rerumputan tinggi di bawah pijakannya yang pasti menggelitik kulit di sela-sela sandalnya.
 
Ada sebuah bangku kayu panjang di bawah pohon itu. Bangku tua lapuk tak layak pakai, mungkin usianya sudah setua pohon rambutan itu sendiri.
 
“Dulu di sini abak kau sering kali membaca buku atau sekadar melamun,” ia bergumam tanpa menolehku. Masih lekat tatapannya pada pohon itu.
 
Dia melanjutkan, “Biasanya sore menjelang magrib kami duduk di sini sebelum berangkat ke surau sana.” Telunjuknya mengarah lebih jauh ke arah kanan. Mungkin dulu yang dimaksud Apak Asrul adalah ketika Bapak masih kanak-kanak.
 
“Sekarang surau itu sudah diganti jadi masjid besar di pusat kampung. Dekat kantor kecamatan. Tentu kau melewatinya tadi?” Sudut matanya melirikku.
 
”Iya, Pak,” jawabku singkat.
 
 

 
“Ba a kaba abak kau?*” sambilmenyalakan mesin mobilnya, ia membuka percakapan kaku di antara kami. Tidak seperti perjalanan ketika menjemputku dari bandara tadi yang hening, kali ini Apak Asrul mau berbasa-basi.
 
Aku belum sempat menjawab ketika ia melanjutkan pertanyaannya.
 
“Kenapa dia tak datang sendiri ke sini. Bertahun-tahun kami tak jumpo. Kenapa cuma kau yang dikirimnya untuk mengambil buku itu?”
 
 Siapa pun dapat melihat rasa kecewa yang tertahan lewat kata-katanya. Lebih jelas lagi jika melihat matanya yang sedikit lembap.
 
Aku menghela napas tertahan. Kemarin pagi saat tersadar dari tidur panjangnya di ranjang rumah sakit, Bapak memintaku menemui Apak Asrul untuk mengambil titipannya. Titipan apa?
 
Saat itu aku belum tahu dan tak sempat bertanya karena napas Bapak mulai tersengal lagi sehingga harus dipasangi oksigen kembali. Ibu melihatku dengan tatapan memohon. Maka, dengan berbekal nomor ponsel Apak Asrul dari Ibu, aku segera memesan tiket pesawat ke Padang.
 
Sampai saat ini Apak Asrul hanya tahu aku datang untuk meminta barang milik Bapak. Seperti yang telah kusampaikan lewat SMS sebelumnya. Kukatakan aku sangat terburu-buru sehingga meminta kesediaannya untuk menyegerakan dan mempersingkat pertemuan kami.

Hal pertama yang kudapati ketika pertama kali melihatnya di bandara adalah wajah kecewa.
 
“Abak kau?” tanyanya pelan. Matanya mencari-cari.
 
Kepalaku menggeleng lemah saat itu. “Aku datang sendiri, Pak.” Aku mencium tangannya takzim seperti aku mencium tangan bapakku sendiri. Ini pertama kalinya aku tahu Bapak punya kawan karib. Sebelum ini, yang kutahu Bapak hanya memiliki kenalan.
 
Aku berdehem pelan. Membuat Apak Asrul berpaling dari tatapannya ke depan padaku. Mobil melaju pelan. “Bapak kritis, Pak. Saat sadar kemarin tiba-tiba Bapak minta aku menemui Apak Asrul.”
 
Apak Asrul, yang meskipun telah berumur seperti Bapak, masih gagah dan garang dengan kulit gelapnya, tak kusangka tidak mampu menahan laju air matanya yang turun dengan segera. Ia tampak terkejut. Dan ia menangis dalam hening. Wajahnya mengendur kembali menatap lurus ke depan.
 
Maka, dalam hitungan detik air mataku pun ikut turun. Bukan karena menangisi bapakku yang kritis, tapi haru dan heran bercampur mendapati kenyataan bahwa Bapak memiliki sahabat yang ikut merasakan kesakitannya. Bapakku yang dingin dan pendiam.
 
Mobil kami melewati masjid yang tadi dimaksud Apak Asrul. Masjid seperti inilah yang kini lebih sering didatangi Bapak di Jakarta, bukan lagi surau kecil masa kanak-kanaknya dalam bayanganku. Apak Asrul masih tenggelam dalam keheningannya hingga tak begitu menghiraukan apa yang kami lewati. Sedalam itu persahabatan mereka. Masih ada sisa air yang menggantung di sudut matanya.
 
“Pak, bagaimana bisa Bapak menulis sebuah buku? Apalagi ini buku fiksi. Aku tak pernah melihat Bapak membaca buku jenis ini.”
 
Pertanyaan itu kulontarkan untuk dua alasan. Pertama tentu untuk menuntaskan rasa penasaranku. Ini sisi Bapak yang tak kukenal. Ini dunia yang tak pernah kuduga pernah disinggahinya. Kedua, untuk memecah keheningan yang memilukan bagiku, terlebih bagi Apak Asrul.
 
Ada senyum tiba-tiba muncul di wajah Apak Asrul yang merona, meski masih sembap. Seolah ada kabar bahagia hendak ia bagi dengan segera. Sirna raut kecewa yang sedari tadi menggantung di sana.
 
“Abak kau itu penyair teri. Syairnya kecil-kecil, tapi banyak. Melimpah ruah,” katanya, sambil tertawa geli. “Tiap hari...ah, bukan... tapi tiap waktu apa saja yang dilihatnya dijadikan puisi,” lanjutnya, menggebu.
 
“Disebut penyair teri karena syairnya pendek-pendek, tapi bertebaran. Gurih-gurih membuat ketagihan. Sedap dicampur di banyak masakan. Artinya menyenangkan di tiap suasana. Syairnya terkadang terlalu datar, terkadang terlalu dalam. Menjadi gurauan untuk kami semua.” Ia tertawa lebar hingga tampak gigi menguningnya.
 
Aku tersenyum menghargai. Rasanya aku sedang mendengar cerita tentang orang lain, bukan bapakku. Tidak ada sedikit pun karakter Bapak ada dalam cerita itu.
 
Setelah menghela napas panjang, Apak Asrul melanjutkan ceritanya.
 
 

 
“Oleh karena syairnya tak pernah naik kelas, maka bapakmu beralih pada hobi lainnya. Mengarang cerita. Berawal di Pantai Padang sore itu.” Ceritanya terhenti ketika ia menepikan mobilnya di depan sebuah toko kecil. Toko itu sudah tutup.
 
“Tunggu sebentar di sini.” pintanya tergesa. Ia bergegas turun dari mobil menuju rumah di belakang toko. Seorang perempuan muncul dari balik pintu rumah itu, bahkan sebelum sempat Apak Asrul mengetuknya.
 
Wanita beruban itu menyerahkan sebuah bungkusan yang langsung diterima oleh Apak Asrul.
 
Setelah percakapan singkat yang mengharukan, itu kesimpulanku karena wanita itu tampak membendung air matanya dengan kedua tangan, mereka berpisah.
 
Wanita itu masih berdiri di depan pintu saat Apak Asrul mulai memacu mobilnya. Aku menurunkan sedikit kaca jendela sehingga ia dapat melihatku. Kami saling bertukar senyum hingga saat mata kami tak lagi saling menangkap.
 
“Mak Risa, kawan abak kau juga. Waktu kecil kami sering dibagi karupuak sanjai oleh amaknyo. Abak kau paling suka karupuak sanjai saka. Tapi kubawakan juga karupuak balado di sini. Buku pertamanya ditulis ditemani karupuak ini.”
 
Ia menyerahkan bungkusan itu padaku. Semoga Bapak masih sempat menikmatinya sebelum komplikasi penyakit itu benar-benar membawanya pergi. Aku mengangguk seraya menyampaikan terima kasih.
 
”Apak boleh lanjutkan ceritanya?” pintaku memohon.
 
Ia terdiam sejenak. Mungkin mengingat-ingat di mana ia mengakhiri ceritanya tadi.
 
“Ah ya. Di Pantai Padang. Demi melihat ombak yang bergulung damai, abak kau teringat cerita Malin Kundang. Semua anak Padang menyayangi amaknyo. Tidak satu pun ingin berakhir seperti Malin Kundang si anak durhako. Menjadi batu dan mungkin berlumut. Tapi lain dari biasanya, abak kau tidak bersyair, melainkan menyusun paragraf pendek untuk dimasukkan dalam bukunya. Aku lupa isi paragraf itu.”
 
Ia terkekeh sebentar, lalu kembali muram.
 
Aku ikut tertawa. Di jalan lengang ini malam tidak seramai jalan Jakarta. Mungkin akan menyenangkan, jika aku tumbuh besar di sini. Mobil kami berjalan pelan melewati landmark kota ini. Jam Gadang menjulang gagah, meski telah berumur. Bapakku asli daerah ini. Tapi, ini pertama kalinya aku memiliki kesempatan melihatnya langsung.
 
Seperti tahu apa yang kuperhatikan. Apak Asrul memacu mobilnya lebih lambat lagi. Sekilas namun pasti aku terpaku pada angka empat di jam itu. Ia tidak dibuat sebagaimana angka Romawi yang kuketahui.
 
Lalu Apak Asrul bijak melanjutkan ceritanya, “Isi paragraf itu disimpannya sampai kami remaja. Abak kau mulai senang menulis khayalannya. Meski terseret-seret sehingga memakan waktu lama akhirnya dia menyelesaikan tulisan Ibu itu. Di tiap kesempatan dia memintaku membaca tulisannya. Di tiap itu juga kubilang tulisannya kacau. Sampai-sampai dia mengubahnya berulang-ulang di banyak tempat. Terkadang di bab 1 terkadang di bab 5. Padahal, kubilang kacau karena aku pun tak tahu tulisan bagus itu seperti apa. Aku kan tidak suka membaca,” tawanya pelan dan tertahan.
 
Ah, ternyata mereka benar-benar sahabat tanpa sekat.
 
 


 
Saat tawanya reda dan lebih tenang, ia berubah lebih serius, “Tapi, dia tidak pernah menyerah, dikirimnya tulisan itu pada penerbit. Sialan itu pun jadi penulis. Naskahnya diterima, dibuat jadi buku, dijual di mana-mana. Sayangnya, dia pakai nama Bunga Malam. Nama tanpa filosofi yang tercetus begitu saja.”
 
Aku melihat ada sorot bangga di mata Apak Asrul. Ia pun tersenyum lebar.
 
“Oh… jadi begitu,” bibirku membulat. Akan kuceritakan kisah ini kepada Ibu nanti kalau-kalau Ibu belum mengetahuinya dengan rinci. Ngomong-ngomong aku mengenali tekad kuat seperti itu memang milik bapakku.
 
“Dan yang lebih disayangkan lagi, buku itu jadi buku pertama dan terakhirnya. Abak kau merantau di Jakarta dan hingga saat ini belum kembali. Dia memintaku menyimpan satu eksemplar bukunya untuk diminta lagi kelak. Kelak yang dimaksud adalah hari ini saat dia sudah jatuh sakit. Betul-betul kurang ajar Hamzah. Mestinya dia tahu kami sangat rindu,” dengan emosi Apak Asrul mengatakannya.
 
Aku menatapnya prihatin. Ingin rasanya mewakili Bapak untuk meminta maaf. Namun, rasa penasaranku belum usai. “Kenapa, Pak? Kenapa Bapak berhenti menulis?” aku tak bisa menahan diri untuk mendesaknya.
 
Lagi-lagi Apak Asrul menghela napas dalam. Kumisnya yang semula mengembang kini layu.
 
“Buku Ibu itu dibuat didasari oleh cinta abak kau pada amaknyo. Isinya tentang ibu dengan pengorbanannya dan anak dengan baktinya. Bayangkan, Apak membacanya dua kali.” Ia terkekeh geli seolah membaca adalah hal konyol untuknya.
“Dengan dasar itu dia berusaha mewujudkan mimpi Mak Ida, enek kau. Meninggalkan mimpinya sendiri. Abak kau tergugah oleh tulisannya sendiri.”
 
Aku terenyak mendengarnya. Aku memahami apa maksud perkataan Apak Asrul tentang mimpi Nenek. Pada malam-malam lalu, saat Nenek masih ada di antara kami, ia sering kali mengantarku tidur dengan sebuah cerita berulang-ulang. Tentang Bapak, tiada yang lain.
 
Betapa aku mengetahui bahwa begitu berbangga hatinya Nenek pada Bapak. Seolah memahami kekecewaanku pada kekosongan hari tanpa Bapak yang sibuk tiada tara dengan usahanya di dalam dan luar negeri. Nenek menanamkan padaku -yang kusimpan baik-baik dalam benak- bahwa Bapak adalah sosok yang pantas dicintai.
 
Dulu sewaktu kecil, Bapak sering kali menemani Nenek memasak di dapur. Membantu meniup tungku atau sekadar duduk di atas dingklek dekat pintu. Saat itu Nenek selalu menyampaikan pada Bapak tentang mimpinya melihat anaknya kelak berdasi, bersepatu mengilap, berambut klimis, berkemeja wangi, dan dihargai banyak orang. Itu saja.
 
Tapi, Nenek tidak pernah melarang Bapak bermain, mengayuh sepeda, melanglang ladang, menyanyi, berpuisi atau apa pun yang Bapak sukai. Ia tak pernah memaksakan kehendaknya pada Bapak. Tak perlulah belajar, jika tak ingin. Yang ia mau, Bapak belajar dengan kemauannya sendiri. Bekerja keras dengan inginnya sendiri. Namun, Nenek tak pernah usai berdoa untuk mimpinya itu. Hingga suatu waktu Bapak memboyong Nenek ke Jakarta dan benar-benar mewujudkan mimpinya. Sebatas itu yang Nenek ceritakan kepadaku dengan mata berbinar-binar.
 
Jadi, di balik keistimewaan cerita Nenek itu, ada dunia kecil Bapak yang ditinggalkan. Dunia yang pasti amat dirindukannya hingga ia titipkan potongannya kepada orang yang ia percaya.
 
Tiba di Bandara Internasional Minangkabau, aku pamit pada Apak Asrul dengan mencium tangannya. Ada rasa hangat yang sulit kujelaskan ketika ia mengusap rambutku seperti anaknya sendiri. Kami saling melepas dengan lambaian tangan.
 
Tunggu aku, Pak, aku segera kembali membawa dunia yang kaurindukan beserta salam rindu dari sahabat-sahabatmu.
*Ba a kaba = Apa kabar
 
***
 
MatahariPagi

 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/