
Kisah sebelumnya:
Hubungan cinta Btari dan Bara harus kandas tanpa ada kata perpisahan ketika Btari harus menikahi kakak angkatnya, Radit. Di satu sisi, Radit mendapatkan informasi secara misterius ketika Bara mengajak Btari bertemu di sebuah kafe. Radit juga mendapar informasi ketika Btari menjenguk Bara di rumah sakit akibat kecelakaan. Semua itu membuat Radit merasa perlu bertemu dengan si penelepon misterius.
Taman kota, 17. 55Wib.
SEKOTAK COKELAT telah terbungkus rapi dalam balutan pita silver yang menawan. Dengan takjub mata elang Bara memandang tajam, kemudian tersenyum. Ribuan angan-angan yang sedang beriak indah di benaknya perlahan meloncat surut. Seingatnya, sepanjang hidup, belum pernah ia melakukan hal seromantis ini. Memberi sekotak cokelat kepada seorang kekasih. Seperti remaja yang baru pertama kali mengenal cinta. Bara menggeleng heran. Menertawakan kekonyolan dirinya sendiri.
Pandangan Bara beralih. Menatap jok kosong di sampingnya yang terdiam bisu dalam dingin dan beku. Hanya tinggal menunggu waktu, gumamnya dalam hati. Seseorang yang selalu menyesaki ruang hatinya akan duduk di situ. Membuat jok itu menjadi hangat, seperti hatinya yang selalu beriak tiap mengingat keindahan melankolis yang menyentuh batinnya itu.
Bara menurunkan setengah kaca mobilnya. Mengeluarkan sedikit kepala. Menengadah lurus-lurus ke atas. Pada senja yang temaram, mata elang Bara bergerak liar mencari-cari sesuatu di angkasa, dan gurat wajah Bara mendadak bersinar cerah saat berhasil menemukan apa yang dicarinya. Walau hanya sisa-sisa siluet senja kemerahan yang terlukis di hadapan, di antara temaram lampu taman yang mulai dinyalakan, ia dapat menangkap sosok pendar bulat yang samar mengintip dari balik rimbun pohon asem di pojok parkiran sebuah mini market sederhana. Bulan! Bara mengusap wajah. Tersenyum lega. Pertanda itu makin terlihat nyata.
Dari awal Bara sudah merasa. Dirinya dan Btari adalah satelit yang saling membelit. Hanya butuh sedikit waktu untuk dapat menikmati keindahan itu bersinar utuh dalam genggamannya. Bara sangat yakin, Btari akan memilihnya. Menepati janji untuk menemuinya selepas magrib, di tempat ini, seperti yang telah mereka sepakati. Melaju bersamanya melewati persimpangan di depan sana, kemudian melupakan semua yang pernah terjadi di hari kemarin.
Bahkan detik ini, di saat dirinya mengkhayalkan saat itu akan datang. Sang novelis itu akan merasakan sendiri petualangan lewat ujung sol sepatunya, bukan lagi lewat oleh-oleh cerita yang selama ini selalu ia bawa pulang. Bara menelan ludah. Tak pernah tebersit selama ini di benaknya. Di umurnya yang menginjak usia tiga puluh tahun, ia akan melarikan istri orang.
“DIA SUDAH MENUNGGU DI SANA.” Perempuan berwajah tirus dengan rambut ikal sebahu itu memandang tajam ke satu arah,dari balik pohon akasia yang meranggas. Matanya memerah. Tak dihiraukan putik-putik kuning akasia yang jatuh mengotori syal putih tulang yang dikenakannya. Kebahagiaan yang tertangkap jelas di wajah lelaki yang sedang diamatinya, di dalam mobil yang terparkir di ujung jalan taman kota itu, perlahan memudarkan semua harapannya.
Radit bergeming. Menatap ke tujuan yang sama.
“Mereka akan bertemu di tempat itu, malam ini, entah jam berapa.”
Ekspresi Radit masih bertahan sama.
“Kamu tahu artinya?” Wajah yang dirundung duka dan kekalutan itu kali ini menoleh. Menatap tajam, tepat ke manik mata Radit yang membeku. Hanya tinggal menghitung waktu, Kita berdua akan kehilangan orang yang kita sayangi,” jelasnya kemudian. Menjawab sendiri pertanyaannya dengan nada pilu.
“Kenapa bukan kamu…?” akhirnya suara Radit terdengar juga. Memecah keheningan.
Kening perempuan itu langsung berkerut.
“Kalau kamu sangat menginginkan lelaki itu, kenapa bukan kamu yang mencegahnya?” Radit balas menatap Renata, begitu perempuan itu memperkenalkan namanya. Si penelepon misterius yang sore ini berada tepat di sampingnya, yang akhirnya dapat dilihat sosoknya secara nyata, dan ternyata sepupu Minie, sekretarisnya.
Renata terdiam. Bola matanya yang sejak tadi ditutupi kabut bening air mata mendadak nanar. Sedetik kemudian Renata mengembuskan napas. “Karena aku… sudah tidak memiliki cukup kekuatan untuk itu,” tandas Renata, dengan suara berat.
Radit mendekatkan wajah. Menatap lebih dalam. Memohon penjelasan.
“Dulu… kami adalah sepasang kekasih,” jelas Renata kemudian, dengan suara getir nyaris tertelan. Kembali menatap lelaki di dalam mobil yang terparkir di ujung jalan taman kota itu. Bagai gas helium tatapan itu tak berpijak, sulit ditangkap.
“Saling mencintai! Menderu dengan semangat yang sama, menjelajahi semua tempat. Tapi, satu kesalahan yang kubuat menghancurkan semuanya.” Renata mendesah kuat, terdengar begitu berat dan menyayat. “Sejak saat itu, Bara tidak pernah mau mendengar tiap kuajak bicara.”
“Kalau begitu, berusahalah untuk mendapatkan hatinya kembali.”
“Sudah!!! Aku sudah melakukan banyak usaha untuk itu.” Nada suara Renata kini meninggi. “Kamu lihat ini!” Renata menunjuk kursi roda yang didudukinya. “Kecelakaan ini terjadi karena pengorbananku untuk menolong Bara dari amukan buaya yang hampir menewaskannya di Sungai Amazon setahun yang lalu. Kulakukan semuanya demi mendapatkan kembali hatinya. Tadinya aku hampir berhasil. Tapi….” Renata melirik Radit dengan tatapan sinis. “Karena Btarimu itu, atau siapalah namanya, Bidadari, begitu biasa kudengar Bara menyebutnya, hadir di kehidupan Bara, dia benar-benar melupakanku,” tandas Renata dengan mata menyala terbakar kemarahan.
Alis Radit langsung mengencang. Ia mulai tak suka dengan pembicaraan ini. Mendengar ada lelaki lain yang memanggil Btari dengan sebutan ‘Bidadari’. Btari yang dalam bahasa Sanskerta berarti ‘bidadari’, hanya ia yang boleh memanggil seperti itu, walau secara diam-diam.
“Tadinya aku sempat bernapas lega mengetahui Btari akhirnya menikah dengan lelaki lain. Tapi, pertemuan-pertemuan mereka sejak kepulangan Bara dari Alaska, serta janji mereka untuk bertemu malam ini, membuat ketakutanku kembali menyeruak. Dan kamu….” Kini Renata menatap lurus-lurus ke wajah Radit yang membeku. “Suami seperti apa yang hanya diam saja mengetahui istrinya akan dilarikan orang!” sindir Renata tajam.
Kalimat terakhir Renata benar-benar membuat Radit terpojok. Memukul perasaannya sebagai seorang lelaki demikian dalam. Namun, Radit masih berusaha tenang tak terpengaruh. Hanya matanya menatap Renata tajam. Memperlihatkan ketidaksetujuannya dengan tegas. Renata balas menatap dengan ekspresi yang bertahan sama.
“Lakukan sesuatu!!!” perintah Renata dengan nada tinggi. Kali ini benar-benar memaksa.
Terdorong oleh ucapan Renata dan emosi yang kian memuncak, Radit melangkahkan kaki, menuju seseorang yang menjadi sumber kemarahan, yang susah payah diredamnya selama seminggu ini. Lelaki yang masih saja duduk dengan tenang di dalam mobilnya, menanti senja turun perlahan, tak menyadari bahaya sedang mengancamnya dari balik pohon akasia yang sedang merangggas.
Namun, baru dua langkah kaki Radit menjauh, gerakannya mendadak terhenti oleh tarikan tangan Renata yang mencengkeram tangannya kuat. Kepala Radit langsung menoleh cepat.
“Bukan dia tujuanmu.” Renata menggeleng kuat.
Tarikan napas Radit terdengar memburu dan kencang.
“Apa pun yang kamu lakukan pada Bara, tidak akan mengubah keadaan, jika Btari tetap datang malam nanti!”
Tubuh Radit menegang dan kencang.
“Cegah Btari untuk datang!!!”
“Huh….” Radit menengadah tinggi-tinggi. Memejamkan mata kuat-kuat. Mengembuskan napas berulang-ulang. Sedetik kemudian dibawa tubuhnya berbalik arah, melangkah setengah berlari, menuju jalanan beraspal di belakang mereka berdiri. Tempat mobilnya terparkir dengan tenang sejak setengah jam yang lalu. Menghidupkan mesin. Menginjak gas dengan cepat.
Putaran roda mobil berdecit kuat di belokan pertama. Sorot mata Radit menyala-nyala menembus jalanan ibu kota yang ramai. Semua sudah dapat menjelaskan hantaman badai yang sedang berkecamuk di hatinya saat ini. Sorot mata itu bahkan lebih terang daripada sorot lampu mobilnya yang melaju kencang menembus pekatnya senja yang telah berganti wajah menjadi malam.
Pelang-pelang toko, lampu-lampu jalan yang mulai dihidupkan, jalanan yang dilewati, berubah menjadi potongan slide. Satu per satu terpampang jelas, bergerak mundur di ingatan Radit.
Pesta pernikahan sederhana tiga bulan yang lalu.
Dengan wajah bahagia ia berdiri di antara rangkaian lili dan mawar putih. Kamar rumah sakit dengan dinding putih bersih dan aroma alkohol yang menyengat disulap menjadi begitu indah dan hidup. Mengenakan brokat putih gading dengan ujung yang menjulur panjang menyapu lantai, serta rambut disanggul sederhana dengan rangkaian melati terselip di antara helaiannya, Btari berdiri dengan anggun di sampingnya, menyalami beberapa kerabat yang hadir. Tidak ada hari seindah hari itu. Hari ketika ia menikahi Btari dan menjadi sempurna sebagai seorang laki-laki.
Di kamar rumah sakit tiga hari sebelum pernikahan.
Bunda terbaring lemah di ranjang, dengan selang yang berseliweran tertancap di beberapa bagian tubuh. Setelah hampir satu pekan Bunda koma setelah menjalani operasi pengangkatan kanker otak stadium akhir, satu-satunya yang membuat Bunda kembali dalam kesadaran adalah sebuah keinginan. Permintaan terakhir yang benar-benar mengejutkan semua orang yang menunggui Bunda siang dan malam. Sambil memandang lemah, Bunda meminta ia dan Btari untuk mendekat. Dengan bibir yang bergetar dan suara pelan nyaris tertelan, Bunda memintanya untuk selalu menjaga Btari dengan menikahinya. Pagi itu, sambil menggenggam tangan dingin Bunda, ia mengangguk haru. Sementara Btari terpojok di tepi ranjang, tanpa suara maupun ekspresi yang bisa dibaca.
Getar pertama 12 tahun lalu
Sejak pertama kali melihat Btari, di depan pintu rumahnya, dua belas tahun yang lalu, hati lelaki kecilnya sudah dapat merasa, ada yang berbeda dalam caranya memandang gadis kecil yang terus tergugu pilu dalam dekapan Bunda, yang juga terlihat murung di balik balutan kerudung hitamnya, siang itu. Pelan… namun pasti, ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bisik-bisik itu pun mulai terdengar. Harum tanah merah itu juga masih tercium samar. Pemakaman itu baru saja usai. Gempa dahsyat telah mengubur kedua orang tua Btari di dalam reruntuhan puing-puing rumah mereka sendiri. Beruntung Btari selamat dari kejadian itu, karena sedang dalam perawatan dii rumah sakit. Tidak ada saudaranya di Yogyakarta yang sanggup mengurusi gadis kecil dengan penyakit jantung bawaan sejak lahir, selain Bunda yang hanya seorang sahabat karib ibunya. Detik itu juga ia tersentuh. Berjanji dalam hati tanpa seorang pun yang tahu. Ia akan menjaga gadis kecil itu, dengan caranya. Membuat wajah melankolis yang sarat duka itu tersenyum bahagia, hingga lesung pipinya yang indah dapat menggaris tajam di wajah. Janji seorang lelaki kecil yang baru saja belajar dewasa.
Tanpa sadar, putaran roda mobil telah memasuki halaman rumah tropis dengan jendela-jendela besar yang terpasang hampir di tiap dindingnya. Rumah yang ditempatinya bersama Btari sejak tiga bulan yang lalu. Radit menginjak rem dengan cepat. Bergegas keluar dari dalam mobil. Melangkah setengah berlari, melintasi hamparan rumput di halaman, menjejak di lantai keramik teras depan yang dingin, memutar handle pintu dengan cepat, mendorong daun pintu itu ke dalam.
Rumah yang dimasukinya begitu gelap dan sepi, bahkan lampu-lampu belum juga dinyalakan, padahal malam telah menjelang sejak setengah jam yang lalu, membuat jantung Radit bergemuruh kencang. Jangan-jangan!!! Sebuah pikiran melintas cepat di benak Radit. Dengan cepat ia berlari, memasuki ruang tamu, singgah sebentar di ruang tengah, kemudian menuju kamar Btari yang berada tepat di samping kamarnya, dengan sorot mata tajam dan awas, diterangi lampu jalan dan bulan yang mengintip samar lewat celah jendela yang masih terbuka lebar. Tapi, tak ditemukan wajah Btari di sana.
Pencarian Radit beralih, menuju lantai dua rumahnya dengan perasaan cemas dan harapan yang kian pudar dan tak jelas. Tepat di anak tangga terakhir yang diinjaknya, akhirnya Radit sedikit bernapas lega. Samar-samar ia melihat seberkas cahaya, menerobos lembut lewat celah pintu kamar yang tak tertutup rapat. Ruang kerja Btari.
Dengan cepat Radit mendekat, mendorong pintu kayu yang tak tertutup rapat itu dengan jantung bergemuruh kencang. Berharap kali ini ia dapat menemukan Btari di dalam sana. Tapi… baru setengah pintu didorongnya ke dalam, mendadak napas Radit tercekat. Langkahnya tertahan. Apa yang ditemukannya di pojok ruangan benar-benar membuatnya tak percaya. Btari, dia ada di sana. Tubuh itu tertunduk lemas, membenamkan wajah di kedua lengan yang dipangku di atas meja. Sementara sebuah pigura yang membingkai wajah Bunda tergenggam di tangannya. Sangat pelan, nyaris tak terdengar, suara tangisan Btari terdengar bagai sayatan pisau yang mengiris gendang telinga Radit. Isak kesedihan yang sudah lama sekali tidak pernah didengarnya sejak 12 tahun yang lalu, di bulan-bulan awal Bunda membawa Btari dari Yogyakarta ke rumah mereka di Jakarta. Radit benar-benar trenyuh. Begitu tersiksakah Btari? Begitu jahatkah dirinya selama ini?
Entah menyusup dari mana keberaniannya, dengan cepat Radit melangkahkan kaki mendekati Btari. Memeluk tubuh rapuh Btari dari belakang, untuk pertama kali.
“Cukup, Riri! Jangan terus menangis!”
Btari tersentak. Melepas pelukan itu dengan cepat. Menggerakkan kursi putarnya. Berbalik arah.
“Mas tahu ini menyakitkan. Hanya saja, tolong…! Mas tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini lagi.”
Mata Btari yang basah oleh air mata seketika membulat tajam.
“Mas melihatnya, semuanya.”
Tubuh Btari mendadak kaku tak bergerak.
“Pertemuan di kafe, rumah sakit, dan maaf… Mas mendengar semua percakapan kalian di kamar Catleya seminggu yang lalu.”
Muka Btari langsung pias.
“Semua sudah cukup membuat Mas menyadari posisi Mas di hatimu. Kalau kamu mencintainya, Mas rela kamu pergi. Mas tidak akan mempersulit keadaan.”
Btari terenyak. Kaget setengah mati. Duduknya langsung menegak. Apa yang baru saja didengarnya bagai tamparan angin yang mengembuskan sejuk sekaligus membuatnya beku. Ia benar-benar tak percaya, lelaki yang ada di hadapannya ini sanggup mengatakan hal itu. Ditatapnya Radit lebih dalam. Mencari kejujuran di manik mata itu. Radit mengangguk pelan, seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan Btari. Mata Btari malah terpejam. Perlahan tubuh Radit jatuh bersimpuh di hadapan Btari. Diusapnya pipi Btari yang basah oleh air mata dengan sangat lembut, untuk pertama kali.
“Ini semua salah Mas, kalau saja Mas mau memahami hatimu sebelum semuanya terjadi, mungkin tidak akan sesakit ini.”
Perlahan isak Btari mulai terdengar lagi.
“Kamu tahu Riri. Mas sangat mencintaimu. Jauh sebelum Bunda meminta Mas untuk menikahimu dan menjadi penjagamu. Mas tidak tahu kenapa perasaan ini sampai bisa ada.” Radit diam sesaat. Mengembuskan napas berat. “Tapi, inilah kenyataannya. Perasaan di hati ini perlahan berubah dari cinta seorang kakak kepada adik angkatnya, menjadi cinta lelaki dewasa.”
Kepala Btari menggeleng lemah, tak percaya.
“Hingga Mas rela melakukan apa pun untukmu. Bahkan, mengikuti permintaanmu untuk tidur di kamar yang terpisah, walau kita sudah tiga bulan menikah. Bagi Mas, yang terpenting kamu ada bersama Mas, itu sudah lebih dari cukup.”
Tatapan Btari makin tak percaya.
“Tapi… mendengar isakmu yang begitu menyedihkan hari ini, Mas jadi tersadar, Mas tidak ingin membuatmu lebih tersiksa. Terjerat dalam dilema yang begitu menyiksa. Kalau Mas tahu hatimu telah terikat dengan seseorang, Mas pasti tidak akan membiarkan pernikahan kita berlangsung.”
Isak Btari makin menyayat.
“Jadi… Mas mohon, berhentilah bersedih dan menangis diam-diam, karena itu membuat Mas merasa bersalah,” pinta Radit dengan sangat. Menggenggam tangan Btari erat-erat. “Mas rela kehilanganmu, asal kamu bahagia, Ri,” ucap Radit, menatap Btari dengan sinar mata yang merapuh. “Berjanjilah istriku…!”
Btari tak mampu berkata-kata. Isaknya pecah. Tangisnya tumpah. Ditatapnya Radit dengan perasaan haru. Perasaan yang sulit dijelaskan. Ada genangan bening tersaput tipis di bola mata Radit. Tangisan seorang lelaki. Membawa Btari melihat Radit dengan pandangan baru. Lelaki yang selalu melindunginya dari gangguan anak-anak kompleks sebelah, yang sering membelikan komik Jepang favoritnya kemudian menyelipkannya diam-diam di bawah bantal, dan tak pernah absen menjaganya di saat ia harus menjalani operasi jantung bawaan berulang kali yang dideritanya sejak lahir, terlihat sangat berbeda malam ini. Rapuh, bahkan melankolis. Jauh dari kesehariannya yang terlihat dingin dan kaku.
Sikap Radit yang begitu hangat, genggaman tangannya, pelukannya, semua membiaskan rasa yang baru di hati Btari. Btari dapat menangkap dengan jelas, keikhlasan yang berpendar begitu besar dalam tiap kata, tindakan, dan tatapan Radit. Menenggelamkannya pada makna cinta yang belum pernah ditemukannya selama ini, bahkan, di diri lelaki yang sangat dicintainya.
Perlahan Radit bangkit. Mendaratkan ciuman di kening Btari, lama… dan dalam. Ditatapnya Btari untuk terakhir kali.
“Masalah perceraian, akan segera Mas urus, kamu tidak perlu memikirkannya. Dan… kapan pun kamu membutuhkan Mas, telepon saja! Mas akan selalu ada. Menjagamu seperti kemarin,” ucap Radit dengan senyum.
Perlahan langkah Radit menjauh. Meninggalkan Btari terpaku di kursi kerjanya. Termangu dan tergugu panjang.
Taman kota. 21.00 WIB
BARA MULAI GELISAH. Berkali-kali mengusap wajah. Pandangannya tak pernah lepas menatap pertigaan jalan di hadapannya dengan sorot tajam dan tarikan napas tertahan. Malam sudah naik sepertiga waktu, namun seseorang yang dinantinya belum juga terlihat di ujung jalan sana. Bara mendekatkan wajahnya ke kaca. Menengadah ke langit malam. Bulan yang tadi bersinar cerah kini tinggal setengah tertutup awan. Perlahan rintik gerimis mulai turun. Memerciki wajah Bara yang menempel di kaca mobil yang tak tertutup rapat. Masih dengan keyakinan yang sama Bara menyandarkan kembali tubuhnya di jok mobil. Melipat kedua tangannya di dada erat-erat. Btari pasti akan menemuinya malam ini, entah jam berapa, ia akan terus menunggu.
SETELAH MENGIRIM SEBUAH PESAN MELALUI PONSELNYA, Btari beranjak meninggalkan ruang kerjanya, menuruni anak tangga demi anak tangga kayu yang berderit halus saat diinjak, kemudian melangkah pasti menuju sebuah kamar dengan bias halogen yang mulai meredup. Diputarnya handle pintu yang tidak pernah terkunci itu perlahan. Mendorong daun pintu itu ke dalam. Pelan… sangat pelan. Hati-hati sekali. Tak ingin menimbulkan bunyi.
Perlahan Btari berjalan mendekati tempat tidur yang berada di sudut ruangan. Tak ada keraguan yang tebersit di wajah dan langkahnya sama sekali. Dengan lembut Btari menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Menyusup perlahan masuk ke dalam selimut. Tangannya bergerak pelan merangkul tubuh yang sedang tertidur pulas dengan posisi membelakanginya. Mencium rambut lelaki itu dengan rasa sayang. Rasa yang baru saja ditemukannya.
“Maafkan aku, Mas Radit! Telah menyia-nyiakan kamu selama ini,” bisik Btari lembut, tepat di telinga Radit.
Btari tak menyadari, lelaki yang sedang dirangkul dan diciumnya itu masih terjaga dalam kesadaran. Radit dapat mendengar dengan jelas bisikan lembut Btari di telinganya. Merasakan hangatnya pelukan dan ciuman Btari yang datang padanya. Hati Radit bergolak. Antara percaya dan tidak. Tapi, Radit tidak ingin membuat keadaan ini cepat berakhir. Dibiarkan saja Btari membelai rambutnya dengan sayang. Menikmati kebahagiaan yang menjalar cepat di hatinya seperti embusan angin yang lewat. Radit kini yakin, ke mana Btari akan melabuhkan hatinya.
“Ah… bidadari kecilku, terima kasih untuk keikhlasanmu yang kini datang padaku tanpa paksaan. Berbaringlah di sini terus bersamaku.”
Taman kota. 22.00 WIB
DI SAAT KEGELISAHAN mulai memuncaki batin Bara, sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk ke dalam telepon genggamnya, dari Btari. Dengan cepat Bara membuka pesan itu, dan mulai membaca.
“Bara… lama aku berpikir dan akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaanmu, atau lebih tepatnya permintaanmu di rumah sakit seminggu yang lalu. Kamu masih ingat pembicaraan kita di kafe tentang aurora borealis? Sampai detik ini aku masih terkagum-kagum tiap mengingat keindahan cahaya utara yang kau ceritakan itu, yang hanya dapat disaksikan di bulan-bulan tertentu di Alaska.
Itulah gambaran dirimu bagiku, Bara. Kamu adalah cahaya yang memesona dan menghipnotisku, tapi tak dapat kunikmati tiap waktu. Aku baru tersadar, yang kubutuhkan hanya sebuah cahaya sederhana, tak perlu memesona dan beraneka warna, tetapi selalu setia menghangatkanku tiap waktu. Bahkan di saat-saat tersulit dalam hidupku.
Maafkan aku, Bara… aku telah memilih. Aku harap kali ini kita bisa benar-benar melepas dengan ikhlas.”
Kepala Bara langsung terjatuh lemas di kemudi. (Tamat)
Baca juga:
Cerber: Sebatas Aurora [1]
Cerber: Sebatas Aurora [2]