Bagian 2
Kisah sebelumnya
Hubungan cinta Btari dan Bara harus kandas tanpa ada kata perpisahan ketika Btari harus menikahi kakak angkatnya, Radit. Bara yang waktu itu sedang tugas di Alaska dan tidak bisa dihubungi, harus menerima kenyataan pahit kehilangan kekasihnya. Di satu sisi, Radit mendapatkan informasi secara misterius ketika Bara mengajak Btari bertemu di sebuah kafe.
 
Di kamar, Radit tak segera mengganti pakaian. Ditariknya simpul dasi agar lebih longgar, menggulung lengan kemeja hingga ke siku, lalu merebahkan tubuh di atas ranjang. Sesaat tubuh Radit terayun-ayun lembut. Ia ingin mengistirahatkan sejenak kepenatan yang menggelayuti tubuhnya. Entah kenapa, sepanjang hari ini tubuhnya terasa sangat letih, seperti dibebani karung ribuan kilo. Padahal, tak banyak aktivitas yang dilakukannya. Selepas jam makan siang, ia hanya melamun di meja kerjanya sampai sore. Semua jadwalnya hari ini di-cancel. Tak ada meeting atau aktivitas ini-itu. Mungkinkah pemandangan yang dilihatnya di balik jendela Café Gladiola, siang tadi, telah menyedot hampir seluruh energinya?

Huh…,” Radit mengembuskan napas dengan berat. Seiring dengan sayatan di hatinya. Ah… kenapa kini perasaannya jadi sangat melankolis. Mungkin itu hanya pertemuan dua sahabat  yang telah lama berpisah. Radit mencoba mencari-cari alasan. Menghibur kegundahannya. Pemikiran itu terdengar tak yakin. Tapi, sudah ratusan kali dipaksakan. Ia tak ingin terlihat sebagai lelaki pencemburu. Itu bukan gayanya. Walau hingga detik ini ada jarak di antara mereka, ia sangat yakin bidadari kecilnya itu tak akan tega mengkhianatinya. Lihat saja! Semua  masih seperti kemarin, mesra, walaupun berjarak. Baginya, itu sudah lebih dari cukup menjelaskan bahwa semua baik-baik saja.

Perlahan namun pasti terdengar langkah kaki mendekati pintu. Makin dekat,  makin jelas. Dan… pintu yang tak tertutup rapat itu perlahan terbuka lebar. Dari balik pintu terlihat wajah ayu Btari menyembul. Radit tersentak. Memandang Btari tak berkedip. Meraba respons. Memilah reaksi.
“Mas, mau mandi dulu atau langsung mencicipi brownies?” tanya  Btari dari bibir pintu. Tubuh Btari mematung di situ.

“Ayolah Bidadariku! Biarkan aku sesaat mendekap tubuhmu. Kamu tahu aku sangat merindukanmu. Masuk dan berbaringlah di sampingku. Rasa itu pasti lebih nikmat dari brownies cita rasa apa pun. Basuh hatiku yang sedang gelisah.”
“Mas Radit!” panggil Btari kembali.
“Eh…,” Radit tergagap. Tersadar dari jerat pikirannya. “Hmm… sepertinya Mas mau mandi dulu. Gerah.” Radit menelan ludah. “Setelah selesai mandi, Mas akan keluar dan mencicipi brownies buatanmu,” jawab Radit cepat. Tak ingin Btari curiga dengan pikiran yang sedang membelitnya.
“Baiklah!” Hanya itu kata yang meluncur dari bibir Btari. Tak ada rayuan, canda, apalagi paksaan. Btari membalikkan tubuh. Meninggalkan Radit terduduk sendirian di tepi ranjang.
 
 

 
TIGA HARI SETELAH KEJADIAN DI CAFÉ GLADIOLA Radit mulai terlihat tenang. Ia mulai dapat meyakini bahwa  perasaan yang tebersit di hatinya hanyalah sebuah kecemasan abstrak, tanpa alasan. Tak perlu ditanggapi dengan serius, apalagi cemburu. Si penelepon misterius itu juga tak pernah lagi menghubungi, membuatnya lega. Radit kini kembali menjalani aktivitasnya yang superpadat dengan penuh semangat.

Minie, sekretaris Radit, juga terlihat gembira. Melihat bosnya kembali bergairah. Wajah Radit terlihat kembali bersinar cerah. Minie tak perlu lagi direpotkan dengan schedule yang harus dijadwal ulang. Menjadi sasaran kekecewaan rekan bisnis bosnya yang merasa terabaikan, akibat konfirmasi pembatalan jadwal meeting, atau telepon yang tak kunjung tersambung ke ruang kerja Radit.

Tapi… ketenangan itu tak berlangsung lama. Semua ketegangan itu kembali muncul bagaikan teror. Waktu menunjukkan pukul tiga siang. Radit mengangkat telepon dari seseorang yang disambungkan dari meja Minie. Suara di seberang sana terdengar sangat terburu-buru.
“Bara kecelakaan! Sekarang diopname di Rumah Sakit Telaga Hijau. VIP Catleya. Mereka pasti akan bertemu di sana. Jangan tanya siapa aku! Aku hanya orang yang bersimpati padamu dan sangat menginginkan Bara.”
Tap. Telepon di seberang sana ditutup dengan cepat. Radit kembali tercekat. Diam tanpa kata. Digenggamnya gagang telepon itu dengan erat. Pikirannya kembali mengawang. Persis seperti tiga hari yang lalu. Ada debaran tak teratur yang kini memburu di dadanya. Hatinya kembali sekarat.
 
 

 
Rumah Sakit Telaga Hijau, 15.45 WIB
            BTARI BERLARI KECIL di koridor rumah sakit. Langkahnya terseret. Terlihat jelas ia sedang tergesa-gesa. Wajahnya tegang. Menyiratkan kecemasan yang dalam. Berkali-kali Btari menyembunyikan helaian rambut lurusnya yang tergerai di balik telinga dengan jari-jari tangan yang bergetar. Menggigit-gigiti bibir merahnya, membunuh keresahan. Tatapan matanya awas mencari sebuah ruangan.
            Di depan sebuah pintu yang tertutup rapat mendadak langkah Btari terhenti. Membaca tulisan yang tertera di hadapannya. CATLEYA. Dengan cepat Btari mendorong pintu itu dalam sekali gerakan. Sesaat Btari terpaku. Menatap tubuh penuh perban yang tergolek lemah di atas ranjang. Mengamati dengan cermat dan teliti. Sedetik kemudian tubuh Btari menghambur jatuh. Air matanya tumpah tak terbendung.
            “Hei, jangan cengeng begini, Btari!” bisik Bara lembut, tepat di telinga Btari. Btari mengangkat wajah. Menatap Bara pilu bersama isaknya yang kian meradang. Dengan menahan rasa sakit yang ditutupi, perlahan Bara membawa tubuhnya bangkit, bersandar di tepi ranjang.
          “Aku baik-baik saja,” jelas Bara kemudian. Melepas senyum getir yang dipaksakan. Kepala Btari langsung menggeleng lemah. Menatap Bara tak percaya.
          “Cuma kecelakaan kecil,” lanjut Bara lagi. Mencoba menenangkan Btari. Tapi… bukannya surut, tangis Btari malah pecah. Wajah Bara langsung berubah panik. Diusapnya air mata yang mengalir deras di pipi Btari dengan lembut. Reaksi Btari sungguh membuatnya bingung.
“Kamu benar-benar membuatku takut, Bara,” ucap Btari, di antara isaknya yang tertahan. Bara makin tak paham. “Aku… aku takut kehilanganmu!” Btari terbata. Menghambur jatuh dalam pelukan Bara kembali. Membenamkan wajahnya di dada Bara, lebih dalam. Tak ada kepura-puraan lagi seperti pertemuan di Café Gladiola tiga hari yang lalu. Terlalu sakit rasanya memendam perasaan ini sendirian. Btari ingin Bara tahu apa yang selama ini dirasakannya.
Bara benar-benar tak percaya. Kata-kata Btari seperti obat yang disesap nadinya. Melenyapkan sakit. Dipeluknya  Btari lebih erat. Sangat kuat. Seperti tak ingin melepaskannya lagi.
Detik-detik romantis itu pulang tanpa diduga-duga. Terlalu lama rindu di hati keduanya tertimbun dan membubung. Terbelenggu jaring waktu tanpa kunci yang membebaskan. Kini… semua rasa itu tumpah dengan jelas di kamar rumah sakit. Tak ada lagi yang ditutupi. Semua kerinduan itu lebur dan tuntas.
“Aku bahagia sekali, Btari, akhirnya bisa menemukan kamu yang dulu lagi,” bisik Bara, haru.
“Sampai kapan pun aku tetap Btari yang sama.”
“Tapi, sikapmu tiga hari yang lalu sangat berbeda.”
“Maafkan aku!” desah Btari menyesali.
“Harusnya dari awal kita bisa jujur tentang perasaan ini.”
“Kondisiku. Posisiku. Aku mohon… mengertilah!”
“Ya… ya… aku mengerti. Berusaha untuk mengerti.” Bara mengatup matanya kuat-kuat. Mendesah pelan.  “Walau rasanya sulit bagiku. Teramat sakit.”
“Tapi tolong!” Btari menarik perlahan tubuhnya dari pelukan Bara. Melepas pandangannya ke sekujur tubuh Bara. Menggeleng lemah. “Jangan lakukan tindakan bodoh seperti ini lagi!” pinta Btari dengan sangat. Menatap Bara dengan bias kecemasan yang terlihat jelas.
Wajah Bara langsung tertunduk dalam.
“Harusnya tidak seperti ini, Bara!” Ada penekanan yang tak kentara dalam suara Btari, tapi cukup terasa. Direngkuhnya pipi Bara dengan kedua tangan. Mengajak mata Bara untuk menatap  matanya lurus-lurus ke dalam. Bara mengelak. Dengan cepat dipalingkannya wajah, menatap ke luar jendela. Menutupi keresahannya.
“Bara yang kukenal adalah lelaki kuat, tangguh, dan penuh semangat menjalani hidup. Bukan rapuh seperti ini!”
Bara mendesah.
 “Kenapa Bara?” tanya Btari penuh tekanan. Merengkuh kembali wajah Bara dengan jemarinya kuat-kuat. Sementara mata sendu Btari menatap tajam. Tepat ke manik mata elang Bara yang merapuh.
Ok ok…,” Bara mengalah. Menarik tangan Btari dari wajahnya dengan cepat. Menggenggamnya dengan erat. “Aku akui, aku tidak sekuat yang terlihat. Tidak setegar yang kamu bayangkan. Kehilangan kamu, benar-benar membuatku hancur, Btari!” jelas Bara,dengan vibrasi yang terdengar jelas.
“Tapi, melarikan mobil dengan kecepatan tinggi setelah minum bukan jalan penyelesaian,” balas Btari tak kalah tajam.
“Lalu aku harus bagaimana?” Btari terdiam. “Apa yang harus kulakukan agar dapat keluar dari situasi ini!” suara bariton Bara menandak tajam. Wajah Btari langsung tertunduk dalam. “Ayo, jelaskan Btari, jangan hanya diam!” Bara menggoyang pundak Btari. Memohon jawaban. Mata Btari malah terpejam.
“Hari-hari berat yang kujalani di Alaska tak sebanding dengan rasa sakit karena kehilanganmu. Beberapa kali aku harus bertarung dengan beruang yang tiba-tiba muncul mengganggu ketenangan tidur malam kami di tenda, makan dari tanaman liar karena perbekalan yang makin menipis, berjalan ratusan mil dan kadang harus memutar arah karena musim panas membuat salju mencair dan sungai-sungai meluap tak dapat dilintasi. Tapi, tak sekali pun aku berkhianat, walau hanya di dalam pikiran. Hanya empat bulan saja aku meninggalkanmu, Btari. Empat bulan!!! Tapi, lihat dirimu sekarang!!!” Bara membuka tangannya lebar-lebar. Menatap Btari tajam dengan sinar mata yang berkecamuk. “Kamu sudah menjadi istri orang!” teriaknya. Sedetik kemudian tubuh Bara mengempas kuat ke sisi ranjang, sementara kepalan tangannya menghunjam bantal, hingga terdengar suara berdebam kencang. Tak ada lagi yang ditutupi. Kekecewaan yang terpendam selama tiga hari, kini menguap sudah.
Air mata Btari menitik jatuh.
 
 

Untuk pertama kali timbul keheningan yang panjang di antara mereka. Perlahan namun pasti isak Btari mulai terdengar lagi mengisi kelengangan kamar yang sunyi. Ditingkahi desau angin yang melintas cepat lewat jendela, membuat tirai tipis yang menutupinya bergoyang lembut seperti ikut merasa.
“Maafkan aku!” lirih Btari di antara isaknya. Bara tak bereaksi. “Semua begitu tiba-tiba,” lanjut Btari lagi. “Aku tidak bisa menolaknya.” Wajah Bara langsung mengeras. “Saat itu kondisi Tante Ve sangat parah.” Btari tersedu pilu. “Kanker itu telah menggerogoti hampir seluruh saraf otaknya. Satu-satunya keinginan Tante Ve yang tersisa sebelum dia pergi hanya untuk melihat kami menikah.” Ekspresi Bara masih bertahan sama. Perlahan Btari mengangkat wajah. Memberanikan diri menatap mata Bara yang memerah. “Bara…,” panggil Btari lirih. ”Kamu tahu, kan… bagaimana arti Tante Ve bagi hidupku?”
“Lalu… bagaimana dengan aku?” tanya Bara. “Aku yang mencintaimu mati-matian, mengapa tidak pernah kamu pikirkan?”
Btari menggeleng lemah. “Aku sudah berusaha menghubungimu, Bara! Untuk menunjukkan pada mereka bahwa aku memilikimu. Tapi, tidak pernah bisa. Aku terjebak dan tidak bisa berbuat apa-apa.”
Huh…,” Bara mendesah kuat. Mengatup matanya rapat-rapat. Merutuki kealpaannya. Ya… andai saja ia tidak egoistis. Menyisakan sedikit waktu untuk terus menghubungi Btari, pasti semua tidak akan terjadi. Meninggalkan Btari tanpa kabar, demi obsesi petualangannya menjelajahi Alaska, menyisakan realitas yang sangat menyakitkan.
Hanya beberapa kali ia menghubungi Btari, saat ia dan timnya baru mendarat di Anchorage, kota terbesar di negara bagian Alaska. Sebelum keluar dari kota itu, menjelajahi tanah-tanah kasar dan liar Alaska yang hampir tak berpenghuni, ditutupi tundra beku tanpa pepohonon di bagian utara, yang hanya dapat dicapai dengan pesawat udara. Menganggap kekasihnya tak mungkin terenggut. Tanpa firasat. Perlahan Bara membuka mata. Menatap Btari dengan ekspresi yang sedikit melunak.
“Aku rela kamu salahkan, karena aku tidak bisa setia padamu, Bara. Tapi, aku mohon… mengertilah kondisiku saat itu,” kata Btari dengan tatapan memelas. Memohon pengertian Bara dengan sangat.
Mata Bara yang memerah menahan kemarahan, perlahan mencair. Diusapnya air mata yang mengalir deras di pipi Btari dengan lembut. Ia tak sanggup melihat Btari terluka lagi. Untuk sesuatu yang bukan sepenuhnya kesalahan Btari. Ya… selama hampir setahun mereka berpacaran, belum sekali pun ia memperkenalkan diri sebagai kekasih Btari kepada keluarganya. Hanya dua kali ia mengantar Btari pulang, itu juga sebatas pintu pagar rumahnya saja. Selebihnya, mereka selalu bertemu di pusat-pusat keramaian atau kedai kopi, di antara waktu break shooting yang singkat, untuk kemudian ia berangkat kembali, meningggalkan Btari dalam waktu yang lama. Perlahan Bara merengkuh tubuh Btari yang rapuh masuk ke dalam dekapannya.
Isak Btari pecah.
Rasa sakit itu meledak dengan cepat. Dari detik ke detik, menuju menit demi menit yang begitu menyiksa. Membeku dalam lorong ketidakberdayaan yang panjang, hingga sebuah jalan mendadak berkedip cepat dalam lokus pikiran Bara.
“Btari…,” panggil Bara tiba-tiba. Menarik tubuh Btari dari pelukannya. Menjauh beberapa senti ke belakang.
Btari tersentak. Isaknya seketika reda.
“Kamu mencintainya?”
Btari terenyak. Tak menyangka Bara akan menanyakan hal itu.
Bara menatap tajam. Tak sabar menunggu penjelasan. Sedetik, dua detik, satu menit berlalu. Tak ada jawaban. Bara segera mengambil kesimpulan.
“Bukan bermaksud untuk mengungkit-ungkit kembali luka itu, tapi sekarang Tante Ve telah tiada.”
Kening Btari langsung berkerut kencang.
“Ikutlah denganku!” pinta Bara.
Mata Btari langsung membulat tajam.
“Kita akan menjadi teman seperjalanan yang saling menguatkan.”
Tak ada jawaban.
“Tiap pagi aku bisa merasakan kopi buatanmu. Kapan pun kamu lelah, kamu bisa bersandar di bahuku.”
Masih tak ada jawaban.
“Tidak perlu lagi ada kesedihan. Tidak perlu lagi air mata ini.” Bara mengusap air mata di pipi Btari lembut.
Suasana tambah hening. Senyap.
“Masih banyak waktu untuk berpikir, sebelum aku dan tim berangkat seminggu lagi. Aku tidak akan memaksa, Btari. Tapi, aku dapat merasakan apa yang kamu inginkan, dan saat hari itu tiba, aku sangat yakin, kamu akan datang dan menggenggam tanganku.”
Kini kamar Catleya benar-benar sepi, dan hening. Hanya dua pasang mata saling menatap dan terus menatap. Bertukar rasa dalam tanya yang tak terjawab.
 
 

 
RADIT BENAR-BENAR TAK MAMPU mencerna kata-kata yang tertulis di dalam buku yang sedang dibacanya. Konsentrasinya kacau. Konflik batin menyerang rasanya. Kini ia tak mampu lagi memanipulasi perasaannya. Weekend yang biasa ia nikmati dengan santai sambil membaca aneka buku, sekarang bagaikan waktu panjang yang menyiksa. Bahkan, mocca cheescake dan secangkir kopi hitam yang dihidangkan Btari belum disentuhnya sama sekali. Teronggok manis di sudut meja. Terabaikan.
Jelas sekali Radit melihat ulangan adegan romantis itu dari balik pintu kamar Catleya, seminggu yang lalu, saat lelaki itu mengalami kecelakaan dan harus dirawat inap di sana. Percakapan-percakapan di dalam ruangan itu juga masih terekam dengan jelas di ingatannya. Membuat kepalanya berdenyut kencang. Bingung. Harus mendudukkan dirinya di posisi yang mana. Objek pengkhianatan, atau justru makhluk paling jahat yang telah memisahkan ikatan  dua hati yang telah terikat dalam rasa.
Huh…,” Radit mengembuskan napas kuat-kuat. Menutup buku di tangan dengan cepat. Melepas kacamatanya yang terasa berat. Meletakkan kedua benda itu  di atas meja. Dibawa tubuhnya bangkit. Melangkah perlahan menuju ke tepi jendela. Mengedarkan pandangan, mencari seseorang di luar sana. Seperti sudah diduga. Dengan cepat ia dapat menemukan tubuh mungil itu di sana, di salah satu sudut halaman belakang rumah mereka, sedang asyik bercengkerama dengan tanaman-tanaman kesayangannya, di kebun mininya, sore-sore begini, seperti biasa.
Radit dapat melihat dengan jelas. Tubuh mungil Btari dalam balutan T-shirt motif garis-garis dan rambut diikat scarf kuning, sedang asyik bercumbu dengan aneka tanaman yang tumbuh subur di dalam wadah polybag yang berjajar rapi mengelilinginya. Terkadang Btari membungkukkan badan, sekadar mengecek kelembapan tanah. Selang beberapa detik kemudian mata indah itu dengan teliti mengamati  tiap jengkal batang, daun, atau kuncup-kuncup bunga yang mulai mekar. Memastikan apakah terdapat hama atau penyakit yang akan merusak tanaman kesayangannya itu.
Tak ada yang berubah dalam cara Btari memperlakukan tanaman-tanaman itu, sama halnya seperti Btari memperlakukan dirinya. Walau kini, seseorang dari masa lalu itu kembali hadir dan menawarkan sesuatu kepadanya. Dari dulu, Btari memang paling pintar menyembunyikan perasaannya.
 
 

Radit tahu persis tanaman apa saja yang ditanam Btari di kebun mininya itu. Tempat kedua setelah ruang kerja Btari di lantai dua yang mampu membuat tubuh mungil itu betah berlama-lama menghabiskan waktu. Beberapa kali Radit sempat masuk  ke dalam kebun yang dibatasi pagar bambu dan perdu-perdu kecil itu saat Btari tak berada di rumah. Sekadar melihat-lihat dan ingin tahu.
Aneka jenis sayuran kegemaran Btari, seperti paprika, tomat cherry, selada merah dari Thailand, tumbuh subur di sana. Tak ketinggalan baby kaylan kesukaan Radit juga terselip di antaranya, membuat ia tersenyum haru saat melihatnya. Sementara di sudut yang lain, beberapa pot tanah liat ditumbuhi rimbun seledri dan bawang daun. Kubis dalam masa pembibitan. Bahkan kangkung dan bayam juga ikut meramaikan kehidupan di dalam kebun mini itu. Tapi, ada beberapa tanaman yang terlihat asing di mata Radit. Wajar saja, pengenalannya tentang flora tidak sedalam Btari yang seorang sarjana pertanian. Walau kini Btari lebih dikenal sebagai seorang novelis papan atas dengan karya-karya spektakuler dan selalu menjadi best seller, tapi  Btari tidak pernah meninggalkan kecintaannya pada dunia yang telah memberinya gelar itu.
“Btari Arandayu…” Pelan… sangat pelan, Radit mengucapkan nama itu. Menekan tangannya di dada kuat-kuat. “Andai saja kamu tahu aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, apa mungkin kamu mampu membuatku terperosok dalam dilema yang menyiksa ini, bidadariku…?”
Di keheningan senja yang dingin dan berangin samar-samar terdengar dering telepon memanggil. Pandangan Radit yang bagai gas helium menatap Btari dari balik jendela kembali menjejak. Dengan malas Radit mengeluarkan benda mungil itu dari saku celananya. Tanpa melihat nomor telepon yang tertera di layar ponselnya Radit menekan tombol reject. Dering telepon itu langsung lenyap. Ia sedang tidak ingin diganggu, sore ini ia hanya ingin menikmati aktivitas Btari di antara kuncup dan mekaran bunga di halaman belakang  rumah mereka, secara diam-diam. 
Tak sampai satu menit, dering telepon kembali memanggil. Radit menggeretak geram.  Menatap nomor tak dikenal yang tertera di layar ponselnya dengan raut wajah sedikit kesal. Tapi… sebuah pikiran tiba-tiba melintas cepat di benaknya. Jangan… jangan…! Buru-buru Radit menekan sebuah tombol. Membawa telepon genggamnya merapat ke telinga.
“Kita harus bertemu!” Suara misterius yang sudah mulai akrab di telinganya menyapa dengan cepat, sebelum Radit sempat mengucapkan sepatah kata.
Radit kembali tercekat.
“Aku tunggu di taman kota.”
Huh…,” Radit mengembuskan napas dengan kuat. Melayangkan pandangannya kembali pada tubuh mungil Btari yang kini sibuk menabur beberapa skop kompos ke dalam polybag tanaman tomat cherry yang mulai mengeluarkan bunga.
“Sekarang!!!”  Suara di ujung telepon itu benar-benar memaksa.
“Ya, mungkin sudah waktunya kita bertemu.” (Bersambung)

***

Triana Rahayu


Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/


Baca juga:
Cerber: Sebatas Aurora [1]
Cerber: Sebatas Aurora [3]