Bagian 1
 
SEDETIK SETELAH MENGAKHIRI PERCAKAPAN singkat dengan seseorang di ujung telepon, mendadak gurat wajah Radit mengeras. Matanya berkecamuk. Dipandanginya pesawat telepon yang kini membisu dengan kening berkerut kencang. Pikirannya diliputi konflik. Benarkah itu?
            Sesaat Radit menimbang-nimbang. Mengetuk-ngetuk jemarinya dengan cepat di atas meja, tanda ia dalam kegelisahan yang parah. Sedetik kemudian ditariknya langkah menuju ke tepi  jendela. Termenung panjang di sana. Ada kemarahan yang membakar hatinya, memeras perasaannya demikian hebat. Tapi, entah kenapa ia masih belum sepenuhnya memercayai kebenaran informasi yang baru saja didengarnya itu.
Radit mengusap peluh yang tiba-tiba membanjiri tengkuknya. Padahal,  alat pendingin udara di dalam ruangan berukuran empat kali lima yang sedang didiaminya bekerja normal seperti biasa. Mungkin, degub jantungnya yang berdetak kencang, memompa aliran darahnya lebih cepat dari biasa, membuat peluh itu mengucur deras.
            Ah… Radit menggeleng cepat. Mencoba mengabaikan informasi itu. Mungkin itu hanya orang iseng yang ingin mencuri perhatiannya di siang yang panas ini, bisik hatinya menenangkan. Melangkah kembali ke meja kerja. Menjatuhkan tubuhnya di kursi. Ada banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan lebih membutuhkan perhatiannya, daripada memikirkan gosip murahan yang belum tentu kebenarannya.
Radit menarik napas. Melirik sesaat ke luar jendela. Menemukan pucuk angsana yang mengintip dari jendela lantai tiga ruang kerjanya bergoyang lembut dipermainkan angin, seperti mengangguk daun itu berkata, membenarkan kata hatinya yang gelisah. Radit tersenyum tawar. Tak ingin terhanyut lebih jauh.
            Dihimpun kembali seluruh konsentrasinya yang sempat berantakan karena telepon singkat yang diterimanya beberapa menit yang lalu. Menatap huruf-huruf dan angka-angka yang tertera pada lembaran kertas di hadapannya dengan tatapan tajam dan fokus. Seakan tak ada yang lebih penting dari itu. Namun, baru beberapa detik berlalu, pikiran Radit kembali melayang. Kenapa ini? Ada apa dengan hatinya? Di hadapan kertas-kertas yang sedang ditekuninya, kenapa pikirannya justru tersedot pada satu wajah. Walau hatinya tak sepenuhnya meyakini kebenaran informasi itu, ia tak mampu mengingkari, hatinya telah terusik.
            Radit menutup lembaran kertas di tangannya dengan cepat. Mencari-cari sesuatu di antara tumpukan buku di sudut meja. Benda yang selalu sulit ditemukan di saat-saat genting seperti ini. “Brak!” Ada yang terjatuh. Jurnal laporan keuangan tak sengaja tersenggol tangannya dan kini berserakan di lantai. Namun, Radit benar-benar tak peduli. Begitu kunci mobil yang dicari berhasil ditemukan, Radit bangkit. Melangkah cepat. Membuktikan firasat  yang menenggelamkannya pada perasaan galau  yang teramat dalam.
            Bam!!! Pintu ditutup dengan kencang. Minie, sekretaris Radit yang sedang asyik mengetik, tersentak. Belum pernah Minie melihat bosnya menutup pintu dengan kasar. Apalagi memperlihatkan wajah segugup itu. Walau baru beberapa bulan Minie menjadi sekretaris Radit, ia tahu persis  bosnya bukanlah tipe lelaki yang meledak-ledak. Tapi, kenapa sekarang berbeda? Pembawaan bosnya yang biasanya selalu tenang dan penuh wibawa kini dibalut ketegangan yang terlihat jelas. Minie menggigiti bibir, cemas. Baru saja Minie bersiap-siap mengingatkan jadwal meeting dengan klien penting beberapa menit lagi, Raditya, bosnya, sudah menghilang dan tak terlihat lagi. Tubuh itu seperti tersedot ke dalam mesin waktu dan hilang menjadi debu.
 
 

           
Café Gladiola, 12.30 WIB
BTARI menatap sekaleng ikan salmon di atas meja dengan tatapan tawar. Warna pink daging salmon yang terdapat pada gambar di kaleng berbentuk kotak berwarna biru cerah itu tak sedikit pun membuat senyumnya mengembang. Padahal, empat bulan yang lalu, dengan merengek ia meminta dibawakan oleh-oleh ikan salmon liar dari tempat hewan-hewan itu hidup berlimpah ruah. Tapi, sekarang ia seperti tak berselera.
            “Kamu tidak suka oleh-oleh yang kubawakan Btari?”  tanya Bara. Suara baritonnya memecah keheningan. Btari mengangkat wajah. Kegetiran di wajah Btari  makin bertambah, saat matanya tertumbu di wajah Bara. “Saat ini di sana sedang musim panas, waktunya salmon-salmon itu pulang dari lautan menuju ke hulu untuk melepas telur-telurnya. Andai bisa kubawakan salmon segar untukmu, pasti rasanya berbeda dengan yang di kaleng itu!” tunjuk Bara ke arah sekaleng salmon di atas meja dengan matanya.
“Ini sudah lebih dari cukup.” Akhirnya suara lembut Btari terdengar juga. Ditariknya kaleng salmon itu lebih dekat ke arah tubuhnya. “Maaf telah merepotkanmu.”
“Aku justru ingin direpotkan olehmu  tiap waktu,” balas Bara cepat. “Andai itu masih bisa.” Di akhir kalimat suara Bara berubah getir.
Btari dapat membaca arti kalimat itu. Dengan cepat dipalingkannya wajahnya. Menatap ke luar jendela. Pada jajaran tanaman heliconia yang tumbuh rimbun memagari halaman kafe yang terlihat sepi siang ini. Ia benar-benar merasa bersalah.
“Kupesankan strawberry milkshake kesukaanmu!” tunjuk Bara pada gelas yang mulai berembun di atas meja.  “Selera kamu masih sama, ‘kan?”
Btari hanya melirik.
“Kamu terlihat lebih kurus Btari, dan… sedikit pucat.”
Btari tak menjawab. Pandangannya makin nanar menatap jauh ke jalanan yang ramai.
“Btari,” panggil Bara.
Btari kembali menoleh. Tatapan keduanya kembali bertemu di satu titik.
“Apa kamu bahagia?” tanya Bara hati-hati sekali.
Btari menelan ludah. Tak siap. Pertanyaan yang paling ditakutkan itu akhirnya meluncur juga bagai aliran gletser membekukan hatinya. Pertanyaan yang membuat dirinya berdiri di titik penentuan. Antara berkata jujur tentang apa yang dirasakannya atau menyembunyikan semuanya dalam kebohongan kata.
“Jujurlah!” pinta Bara memohon. Membaca keresahan Btari. Wajah Btari langsung tertunduk dalam. “Aku hanya ingin tahu.” Kali ini nada Bara setengah memaksa.
Sekian detik berlalu dalam keheningan yang tak beranjak. Tak ada jawaban. Apalagi penjelasan. Hanya helaan napas panjang Btari terdengar berat menjelaskan semuanya. Bara mengerti arti helaan itu. Ia benar-benar merasa terpukul. Diberanikannya mengusap jemari Btari perlahan. Mata Btari malah terpejam.
“Andai saja waktu bisa diulang,” desahnya geram.
“Sudahlah!” akhirnya terdengar lagi suara lembut Btari memotong keresahan yang mengambang. Mata Btari yang sekian detik terpejam perlahan terbuka kembali. Ditatapnya Bara dalam-dalam, tepat ke manik mata kelam Bara yang mulai membadai. “Tidak ada gunanya menyalahkan keadaan!”
“Bukankah untuk itu kita di sini, Btari? Membicarakan kemungkinan yang masih tersisa?”
Kepala Btari menggeleng lemah. “Kita sudah membahas semuanya di telepon tadi malam. Tiga jam! Apa itu masih belum cukup?” Vibrasi suara Btari kali ini terdengar jelas. Ada kabut tipis menggenang di matanya. Tangis yang tertahan.
 
 

Bara mengalah. Digenggamnya jemari Btari yang terasa dingin dengan lebih erat. Ingin sekali Bara memeluk Btari siang ini. Menenggelamkan tubuh mungil dalam balutan one-shoulder warna ungu itu ke dalam rengkuhannya. Melepas rindu yang sekian lama tertahan. Tapi, sekarang itu tak bisa dilakukannya lagi. Bagi Bara, masih diperbolehkan menggenggam jemari Btari tanpa mendapat reaksi penolakan darinya, sudah lebih dari cukup. Ia harus tahu diri.
“Sebenarnya, aku datang ke sini hanya untuk mengucapkan terima kasih padamu,” ucap Btari kemudian dengan suara pelan nyaris tertelan.
“Untuk apa?”
“Telah menjadi jendelaku.”
Kening Bara langsung berkerut kencang.
“Sejak hari pertama kita berkenalan, kamu telah menjadi mataku untuk melihat dunia. Lewat cerita petualanganmu, kamu membuka cakrawala pikiranku yang tak hanya seluas kedai kopi dan ruang kerja. Kamu membawa harum padang sabana di Afrika ke indra penciumanku, memperlihatkan bagaimana buaya Amazon yang ganas itu menaklukkan mangsa. Mengajariku cara bertahan hidup di hutan-hutan perawan dan suku-suku pedalaman yang belum tersentuh peradaban, yang selama ini hanya kulihat keeksotisannya lewat foto-foto kalender. Kamu tahu Bara?” Btari diam sesaat. “Menunggu kepulanganmu dari satu ekspedisi adalah saat-saat yang paling membuatku bersemangat sekaligus mendebarkan. Ceritamu adalah  energi terbesar bagi pengembaraan pikiran  perempuan pengkhayal sepertiku yang hanya bisa terpaku di depan notebook karena keterbatasanku.”
Embusan napas Btari terdengar berat. Melontar sesak yang bersarang di dada. Ditatapnya Bara lebih dalam, kemudian berkata dengan suara yang ditegar-tegarkan. “Terima kasih, telah menjadi jendelaku untuk melihat dunia lewat cerita perjalananmu hampir setahun ini.” Btari menarik tangannya perlahan dari genggaman Bara. Diusapnya cairan bening yang menetes setitik di sudut matanya, kemudian kembali menatap Bara. “Maaf, mulai hari ini aku akan menutup jendela itu!” tandas Btari dengan senyum.
Wajah Bara langsung tertunduk dalam. Ia tak menyangka Btari sanggup mengatakan hal itu tanpa beban. Harapannya tamat. Dikatupkan kedua matanya kuat-kuat. Merasakan kehilangan itu menyusup begitu cepat. Menyesak dan membeku di seluruh kapiler darahnya.
 
 

Rasanya, baru kemarin ia menemukan senyum itu. Di salah satu sudut kedai kopi yang ramai. Setelah hampir dua bulan setengah berkutat di kesunyian hutan tropis yang lembap, kembali di tengah keramaian terkadang sering membuatnya jengah, hingga sebuah insiden kecil terjadi di sore yang cerah itu.
Ia ingat benar detik-detik saat ransel cokelat yang disandangnya dengan berat menyenggol tubuh mungil yang sedang menciumi aroma secangkir latte di sebelah bangku kosong yang akan didudukinya. Membuat cairan hitam pekat itu tertumpah dan menodai kemeja putih polos yang dikenakan tubuh mungil itu. Ia telah bersiap dengan segala risiko. Memohon maaf atas semua kesalahannya. Namun, yang didapat kemudian justru membuatnya terenyak. Sebuah senyuman terbit dari bibir gadis manis berlesung pipi itu. Senyum yang mampu merontokkan semua kepenatannya. Mencairkan kebekuan yang ada.
 Bara mengangkat wajah. Menatap Btari nanar. Senyum itu masih tersisa di bibir Btari, walau kini terasa hambar.
“Hei, bagaimana Alaska?” tanya Btari kemudian, mengaduk-aduk milkshake di dalam gelas, membunuh keresahan.
Lagi-lagi Bara terenyak. Tak menyangka Btari akan menanyakan hal itu.
“Kamu bertemu beruang grizzly di sana?”
Bara hanya diam.
“Kata orang matahari terbenam saat musim panas di Alaska seperti permen lolipop di dalam mulut,  makin dilihat makin ingin disesap, betul begitu?”
Lagi-lagi tak ada jawaban. Hanya mata kelam Bara menatap tajam tepat ke manik mata Btari yang terlihat lelah.
“Kenapa Bara?” Btari tersenyum tawar. Disesapnya milkshake di dalam gelas sesaat, kemudian kembali menatap. “Kamu pikir aku membenci Alaska? Karena telah merenggutmu dari aku?” Kini tawa kecil Btari mulai terdengar.
Bara benar-benar tak suka dengan pembicaraan ini. Dipalingkannya wajahnya. Menatap ke luar jendela. Ia benar-benar tak sanggup. Kata-kata yang baru saja diucapkan Btari terdengar bagai sindiran di telinganya, dan tawa Btari seperti menyempurnakannya.
“Ayolah Bara, ceritakan padaku tentang Alaska!” pinta Btari, seakan tak peduli  reaksi Bara. “Izinkan aku ikut menikmati perjalananmu seperti waktu kemarin!” Rahang Bara malah mengeras. Perlahan Btari menyentuhkan jemarinya ke tangan Bara. “Hanya untuk…,” terdengar tarikan napas yang tertahan dari bibir Btari,  “…yang terakhir kali,” ucap Btari kemudian.Suaranya parau, melesak dalam sampai ke jiwa.
Hati Bara langsung tersayat. Ditengadahkan kepalanya tinggi-tinggi. Menatap langit-langit kafe dengan perasaan perih. Sedetik kemudian kepala Bara tertunduk jatuh. Tatapannya membeku, tepat ke manik mata Btari yang merapuh. Btari balas menatap. Mata indahnya mengerjap penuh harap.
Btari benar-benar tak peduli. Siang ini, ia justru ingin berkecipak di mata kelam Bara dan tenggelam di dalamnya. Ia sangat merindukan saat-saat romantis itu. Mengembara berdua bersama cerita petualangan Bara, tentang hutan-hutan yang dijelajahinya, alam bebas yang dicumbui, merengkuh dunia lewat mata elangnya, dengan sudut pandangnya memaknai hidup. Bagi Btari, saat itu Bara terlihat sangat gagah sebagai seorang lelaki. Sungguh, ia telah kehilangan saat-saat itu dan ingin menggenggamnya kembali, walau hanya beberapa saat.
Terakhir kali Bara membagi cerita petualangan serunya saat melakukan ekspedisi ke Afrika bagian selatan. Membawakannya oleh-oleh gelang dari jalinan ilalang kering yang dibuatnya sendiri dengan sangat unik. Itu sudah lama sekali. Enam bulan yang lalu. Sebelum Bara kembali melanjutkan ekspedisinya ke Alaska dan baru kembali lagi ke Indonesia kemarin siang. Sudah tiga tahun Bara memproduseri sekaligus menjadi salah satu anggota tim ekspedisi Jelajah Bumi. Sebuah program di salah satu stasiun televisi yang mendokumentasikan dan memaknai arti profesionalisme dalam bertualang. Bagi tim ekspedisi itu, bumi terlalu luas dan berharga untuk didiamkan. Membuat Bara menjadi makhluk paling sulit dihubungi, bahkan di saat ia sangat membutuhkan Bara.
Ok ok….” Akhirnya Bara mengalah. Menatap Btari pasrah. Wajah Btari langsung bersinar cerah.
Menemukan kerjap mata indah itu lagi membuat Bara tak sanggup. Ia tak ingin membuat Btari kecewa. Ada kebebasan penuh harap yang ingin direngkuh manik mata itu. Persis, seperti saat pertama kali mereka bertemu di suatu sore, di kedai kopi itu, setahun yang lalu. Setelah permohonan maafnya karena telah menumpahkan latte dibalas dengan senyuman, mata Btari yang cerlang langsung menatap penuh selidik, saat menemukan ransel cokelat yang sedang disandangnya dengan berat masih menyisakan debu dan aroma rumput liar yang segar.
 
 

Entah intuisi atau sebuah kebetulan saja, namun, Btari langsung dapat menebak, petualangan yang panjang pasti telah digumuli dirinya bersama ransel yang disandangnya. Dan, mata Btari langsung berbinar-binar penuh harap saat ia mengatakan baru saja keluar dari penyusuran di empat rangkaian sungai, di pedalaman hutan tropis yang masih perawan. Binar mata penuh kebebasan yang baru pertama kali ditemukannya di wajah super melankolis gadis selembut Btari, sungguh memberinya kesan mendalam. Kesan yang beberapa detik kemudian berubah menjadi ketidakpercayaan, saat Btari mengatakan sesungguhnya dia memesan latte di kedai ini hanya untuk mencium aromanya, tanpa pernah meminumnya, karena sebuah alasan, dan ia cukup mengganti latte yang ditumpahkannya itu dengan sebuah cerita.
“Kita mulai dari bagian yang mana?” tanya Bara kemudian, dengan desahan napas berat yang terdengar jelas.
“Seperti biasa,” jawab Btari penuh semangat.
“Yang paling berkesan.”
“Ya….” Btari mengangguk pasti.
Mata Bara mengawang lagi. Menarik semua ingatan tentang hari-harinya selama empat bulan terakhir. Sebuah tempat di daerah liar. Tempat di mana hanya ada sedikit jalan dan orang. “Huh…,” Bara mendesah pelan. Bagaimana ia bisa menjelaskan, menjelajahi Alaska seperti membawanya kembali pada masa-masa itu. Saat dirinya terlalu sibuk pada pekerjaan, hingga membuatnya kehilangan Btari.
Bara!” Btari mulai tak sabar. Menunggu Bara memulai cerita. Bara mengusap wajah cepat. Merapatkan kembali benaknya pada sesuatu yang paling dihikmatinya.
Hmm… mungkin kita bisa mulai dari… saat kami melihat aurora borealis di langit Alaska,” ucap Bara kemudian menemukan jawaban.
“Cahaya utara itu!” Btari berdecak kagum.
“Ya….” Bara mengangguk. “Ketika itu kami baru saja keluar dari jalan desa terpencil berpenduduk kurang lebih tiga puluh jiwa, menyusuri tepian sungai dengan air yang sedang meluap karena es yang mencair kala musim panas tiba.  Saat itulah kami melihat medan magnet bumi bertabrakan dengan udara yang mengalir dari matahari, hingga menyebabkan langit di belahan bumi utara bersinar dengan kombinasi warna kuning, merah, hijau, biru, ungu….”
“Bagaimana…? Bagaimana keindahannya?” potong Btari tak sabar. Matanya menatap penuh kekaguman, seakan ia sedang menyaksikan fenomena alam langka itu di mata Bara.
Bara terdiam. Sebelum menjawab, disempatkan Bara menatap Btari yang duduk di hadapannya lebih lama, lebih dalam. Keindahan yang jauh melebihi aurora borealis yang dilihatnya di Alaska malam itu. Keindahan yang sekarang tak mungkin lagi dimilikinya. Ada samurai yang menggores hatinya, rasanya lebih sakit dari harakiri.
 
 

 
DARI BALIK KACA MOBILNYA Radit melihat semua adegan itu dengan mata tak berkedip. Memandangi lelaki dan perempuan di balik jendela Café Gladiola yang terlihat begitu asyik dengan obrolannya. Mata keduanya merekat seperti lem. Erat. Tak ada ruang buat wajah yang lain. Menatap penuh kerinduan. Ekspresi wajah perempuan itu dipenuhi lukisan cinta. Semburat merah dan senyum bahagia tak lepas menghiasi bibirnya. Sesekali, wajah itu berubah lara, mengigit-gigiti bibir merahnya resah. Tapi, hanya sesaat. Lelaki dengan tubuh tinggi dan kulit cokelat terbakar matahari yang duduk di hadapan perempuan itu, terlihat bagai oase yang menyejukkan. Hati Radit tergigit.
Sedetik kemudian kepala Radit terjatuh lemas di kemudi. Kewibawaannya runtuh. Hatinya porak-poranda. Tersayat, dan rasanya sakit sekali. Pemandangan di balik jendela Café Gladiola itu menyulut emosinya, tanpa tahu harus berbuat apa.
Beberapa menit berlalu, Radit masih tak ingin meyakini apa yang baru saja dilihatnya. Ia berharap itu hanya halusinasi semata. Suguhan yang romantis, tapi terlihat bagai film sadis. Pikirannya benar-benar kacau, apalagi hatinya. Jangan ditanya bagaimana rasanya, karena ia sendiri sulit  untuk menjelaskannya.
Terdengar  embusan-embusan napas berat yang memburu dari bibir Radit. Sedetik kemudian Radit menegakkan kembali kepalanya. Dibetulkan letak kacamatanya yang berantakan. Menatap lurus-lurus ke depan. Radit berusaha tenang. Tak terpengaruh. Menunjukkan sikap tegar, walau sebenarnya rapuh. Menyalakan mesin mobil. Menginjak gas. Kembali ke kantor.
 
 

 
HARUM AROMA KUE yang sangat dikenal menyeruak sampai ke ruang tamu. Menandingi harum lavender yang biasa menyambutnya pulang. Benar-benar menggoda. Radit dapat mendeteksi dengan jelas dari mana sumber keharuman itu berasal. Segera ditariknya langkah, membelokkan kaki menuju ke satu tempat di bagian belakang rumahnya. Dapur! Tepat. Dengan cepat ia dapat menemukannya. Sesosok tubuh mungil dengan rambut dijepit ke atas, memamerkan leher jenjangnya, sedang sibuk mengeluarkan sebuah loyang yang terlihat sangat panas dengan begitu cekatan dari dalam oven, membawanya ke island.
“Hei… kamu sudah pulang, Mas.” Keterkejutan di wajah cantik itu tak mampu ditutupi, saat menemukan Radit berdiri terpaku menatapnya dari depan pintu.
“Ada yang bisa aku bantu Riri?”
Btari menggeleng cepat.
Radit tersenyum tawar.
Kini, dua loyang brownies tergeletak di island. Espresso brownies kesukaan Radit, bersanding manis dengan layer blondie brownies favorit Btari. Asap mengepul, membuat harum cokelat menjalar cepat menyesaki ruangan. Radit sudah dapat membayangkan pasti akan nikmat sekali rasa brownies itu saat pelan-pelan lumer di dalam mulut, karena dibuat oleh tangan yang sangat ahli. Btari paham benar selera mereka berbeda. Jika membuat brownies pasti dengan dua versi, untuk memuaskan keinginan mereka masing-masing.
Radit bergeming. Menatap Btari menggerakkan jemarinya yang lentik dengan lincah. Membereskan potongan-potongan dark chocolate yang tersisa, memasukkan ke dalam wadah kotak kaca, kemudian menyimpannya di dalam lemari es. Ada banyak pertanyaan memburu di kepala. Meminta untuk segera diucapkan. Tapi, entah kenapa, kata-kata itu seperti tertelan kembali  ke dalam tenggorokan. Radit begitu menikmati keindahan yang tersaji di hadapannya. Tak ingin merusak suasana.
Ganti baju dulu, Mas!” ucap Btari sambil menoleh sekilas ke arah Radit. Sementara kedua tangannya berkecipak di bawah air yang mengucur deras dari kran wastafel.  Membasuh kedua tangan.
Ah… Radit kecewa, sesuatu yang sedang dinikmatinya, harus terhenti. Melihat Btari menggerak-gerakkan tubuhnya, tenggelam dalam aktivitas, bagi Radit itulah keindahan yang sesungguhnya. Namun, Radit tak ingin membuat Btari kecewa. Perkataan Btari terlalu berharga untuk diabaikan. Dilangkahkan juga kakinya meninggalkan keindahan yang sempat menghipnotisnya itu, dengan terpaksa.

(Bersambung)

***

Triana Rahayu


Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
 
 
Baca juga:
Cerber: Sebatas Aurora [2]
Cerber: Sebatas Aurora [3]