Kisah sebelumnya:
KOTA KELAHIRAN BAGIAN 1
KOTA KELAHIRAN BAGIAN 2

Kematian Ibu yang sudah tak lagi mendapat tempat di hatinya membuat Sofi harus terbang jauh ke Montreal, Kanada, untuk menaburkan abu jenazah ibunya. Di kota tempat ibunya bermukim yang sekaligus kota tempat Sofi lahir, sedikit demi sedikit ia mengetahui sejarah hidupnya, sejarah hubungan ayah dan ibunya lewat cerita Rose, sahabat ibunya.

BAGIAN 3
Ibu telah sukses membuatku tidak pernah mengingatnya. Tak pernah mengenangnya. Bahkan, aku tidak menangisi kematiannya. Bisa jadi juga karena kebersamaanku dengannya begitu singkat. Semuanya terhapus dengan keterlibatan Nenek, Kakek, dan saudara-saudara ayahku yang mengambil alih perannya merawat dan mengasuhku.

Namun, mataku merebak saat membaca 13 amplop berisi ucapan ulang tahun yang ia simpan dalam sebuah amplop plastik besar, yang kutemukan di koper. Tiap tahun, di kartu ulang tahun yang tak ia kirim padaku, Ibu  menulis: “Sofi, kamu adalah hadiah terindah yang pernah aku terima dalam hidupku. Selamat ulang tahun! I Love you. “  Semua kartu ia tulis dengan kalimat yang sama.

Pukul 21.00 aku pamit kepada Rose untuk kembali ke hotel.

“Terima kasih untuk segala kebaikanmu, Rose..” Aku pamitan.

“Ya, Tuhan… ada benda lain dari Nemah yang harus kuberikan padamu.” Rose  melepaskan pelukanku dan berlari ke kamarnya. Ia kemudian menyerahkan sebuah amplop  bersegel. Seperti niatku semula, aku ingin menyelesaikan masalah Ibu sekarang juga. Maka, kubuka amplop bersegel itu. Sepucuk surat pendek yang ditulis tangan oleh Ibu.

“Dear Sofi,  terima kasih telah menaburkan abu jenazahku di Beaver Lake. Jika aku memilih dikremasi, tidak dikubur sesuai dengan tradisi, karena aku tak ingin orang lain terbebani, termasuk kamu, merasa perlu menengok kuburanku. Jika aku memilih Beaver Lake, itu karena menaburkan abu di laut lepas sudah biasa. Kebetulan, saat membuat surat ini  aku membayangkan kamu mengenakan mantel merah sedang meluncur ber-skating di Beaver Lake. Kamu  melambaikan tangan padaku. Kamu yang masih kecil, tentu saja. Sebab,  aku tak pernah bisa membayangkan sudah sebesar apa kamu sekarang. Sofi,  tiap bulan, sejak usiamu 10 tahun,  aku menyisihkan ini untukmu. Terserah hendak kamu apakan.”

Mataku melotot melihat jumlah deposito yang tercantum.

“Oh, ya, aku lupa bagaimana kamu memanggilku? Mom, Mama, ibu atau…  Apa pun, I love you.”

“Aku memanggilmu Ibu,” ucapku pelan. Aku yakin ia mendengarku. Rose menatapku, tak paham apa yang kuucapkan.

“Rose, besok aku perlu ke bank. Bisakah kamu menemaniku?” Aku tersanjung ketika Rose mengatakan ia sudah mengambil cuti 4 hari untuk menemaniku selama berada di kota kelahiranku.

“Besok akan kutunjukkan tempat-tempat penting padamu,” janjinya. Urusan Ibu  belum bisa kuselesaikan malam ini.
 
 


THE CLOCK TOWER
Esok harinya, sepulang dari bank, Rose mengajakku ke Old Montreal, sebuah sudut kota yang dipenuhi gedung-gedung tua dengan jalanan batu dan taman di sepanjang tepi sungai. Namun, siang itu bangku-bangku taman kosong. Beberapa  bahkan tak bisa diduduki  karena dipenuhi salju. Kereta kuda yang biasa digunakan turis  untuk berkeliling wilayah terkenal di Montreal itu, juga sepi penumpang. Di musim dingin,  tak banyak turis yang tertarik mengunjungi  Old Montreal yang di musim panas terkenal ramai itu.

“Aku ingin menunjukkan padamu tempat ari-arimu dihanyutkan,” kata Rose. Drama apa lagi gerangan yang telah dilakukan Ibu! Aku pun menjajari langkah Rose, menyusuri Sungai Saint Lawrance,  di bawah suhu minus 9 derajat Celsius, menuju menara jam tua yang biasa disebut The Clock Tower. 

Dari kejauhan tampak Jembatan Jacques Cartier yang menghubungkan Montreal dengan Kota  Longueuil. Langit yang biru bersih tampak memantul di air sungai. Hmm, aku mulai menyukai langit biru di kota kelahiranku.

“Di sinilah tempatnya.” Rose menunjuk ke sungai yang mengalir di bawah The Clock Tower, yang dibangun tahun 1919 dengan tinggi 45 meter itu. Aku melihat serpihan es mengapung di permukaan air. Artinya udara belum terlalu dingin. Permukaan sungai, hingga kedalaman tertentu, bisa membeku jika suhu udara terus menurun.

Ke mana larinya ikan? Ikan tidak lari ke mana-mana, karena air tetap mengalir di bawah tumpukan es. Mereka yang hobi memancing tetap bisa melakukan hobinya dengan melakukan ice fishing. Hanya, mereka harus mengebor es lebih dulu, hingga kedalaman yang menyentuh air. Di lubang itulah kemudian pancing berumpan dilempar ke bawah.

Aku membayangkan Ibu melemparkan ari-ariku, mengingat jarak sungai dengan tempat aku berdiri cukup tinggi. Nekat sekali, karena ia bisa dituduh membuang sampah. Namun, kata Rose, “Ia membungkus guci berisi ari-arimu dengan kain. Lalu, menurunkannya dengan tali ke sungai. Sambil melepas ari-ari pelan-pelan, ia  mengucap doa agar kamu  tumbuh menjadi perempuan kuat yang berani menjelajah  tiap sudut bumi, bahkan luar angkasa….”

Wah! Sebuah doa yang membuatku menarik napas panjang dan menatap angkasa. Belum banyak sudut bumi, apalagi angkasa, yang kujelajah. Aku perempuan kuat dan pemberani? Terima kasih Ibu untuk doa dan harapannya.  Rose kemudian cerita, Ibu sempat bersitegang dengan pihak rumah sakit saat meminta ari-ari bayinya. Bagi pihak rumah sakit, permintaan itu tentu saja aneh karena ari-ari dianggap sampah yang harus dibuang. Dan tak pernah ada dalam sejarah di rumah sakit orang meminta ari-ari. Untung ada seorang dokter keturunan Cina yang membantu menjelaskan tentang kepercayaan pada ari-ari yang juga berlaku di tanah leluhurnya.

“Aku sendiri ngomel-ngomel mendengar permintaan itu. Tapi, begitulah Nemah, permintaan dan keputusannya kadang-kadang tak masuk akal.” Rose terkekeh saat kami sudah duduk di sebuah kafe, memesan kopi. Aku sependapat dengan Rose, Ibu memang nyeleneh. Termasuk masalah ari-ari. 

Secara tradisi, ari-ari yang dianggap teman si bayi,  dikubur baik-baik dan di dekat kuburannya diberi lentera. Dengan memperlakukannya secara baik,  bayi yang baru lahir diharapkan tidak rewel dan bisa tidur nyenyak. Lha, ini ari-ariku dihanyutkan ke sungai.
 
 


“Rose, kamu baik sekali,” pujiku, mengingat begitu banyak hal yang dilakukan olehnya  untuk Ibu, untuk kami. Juga begitu banyak tentang Ibu yang ia ketahui. “Persahabatan kalian luar biasa,” tambahku. “Nemah sudah kuanggap adikku,” jawab Rose, sambil meneguk kopinya dan aku mengunyah macaroon.

Rose bertemu Ibu pertama kali di toilet kampus. Saat itu, ia menyaksikan Ibu sedang muntah-muntah di kamar mandi. Rose yang saat itu bekerja di sebuah kafe di kampus, kaget melihat Ibu pucat, lemas, dengan butir-butir keringat memenuhi dahinya.

“Aku agak terhibur ketika ia mengatakan sedang hamil. Artinya, ia muntah-muntah karena hamil, bukan sakit. Aku mulai khawatir ketika melihatnya  terus muntah hingga tak ada yang tersisa di perutnya, yang membuatnya tak memiliki tenaga untuk  bergerak. Takut terjadi apa-apa, aku  memanggil ambulans dan membawanya ke rumah sakit. Ternyata ia mengalami kehamilan yang sulit,” kenang Rose.

Karena sama-sama kerap berada di kampus, Rose dan Ibu mulai sering bertemu. Perasaan senasib, datang dari negeri yang jauh, membuat keduanya memiliki semangat juang yang sama. “Kebetulan juga sama-sama suka nasi,” Rose tertawa, dan mengatakan ia paling suka nasi goreng dan sudah bisa membuatnya. Ibu juga, menurut Rose, menyukai rice and peas, olahan nasi khas Jamaika, meski ia malas membuatnya.

Ibu memberikan bahunya untuk Rose yang menangis ketika suaminya pertama terserang stroke. Suaminya menjadi pemarah, karena Rose tak memahami keinginan suaminya yang sulit bicara. Sementara Rose juga harus bekerja karena kedua anaknya masih sekolah. Ketika Ibu kehilangan aku, Rose  menyiapkan waktu, telinga, dan hatinya untuk mendengarkan  Ibu menangis dan berkeluh kesah.

“Kami berhasil melalui perjalanan yang naik turun. Setidaknya, aku bisa melihat Nemah tertawa dan memiliki pekerjaan yang bagus, meski itu tak sesuai dengan rencana hidupnya dulu. Aku juga bisa mengantar anak-anak sekolah dan menerima ikhlas keadaan suamiku. Kini, aku senang bisa bertemu denganmu….”  Rose menarik kepalaku untuk disandarkan  di bahunya.

“Rose, aku mendengar Ibu tak menginginkan  kehadiranku. Ibu marah ketika mengetahui dirinya hamil. Kehadiranku mengganjal cita-citanya. Aku merasa bersalah sekali.” “Aku tidak tahu tentang hal itu. Yang aku tahu, ibumu berjuang mempertahankan kehamilannya. Ia gembira ketika kamu lahir selamat. Ia bersemangat membelikan mantel merah. Ia selalu merindukanmu.” Mendengar itu, aku meneguk kopi yang tersisa. Rasanya menjadi lebih enak dari tegukan sebelumnya.
 
 

UNIVERSITAS MCGILL
“Menurutmu, Ibu masih mencintai Ayah?” Aku menanyakan itu karena penasaran,  sampai akhir hayatnya Ibu tidak pernah menikah lagi.  Dan, aku  menanyakan itu  sambil menatap bendera Kanada yang berkibar di puncak kubah gedung Universitas McGill, yang berdiri tahun 1821, dan tampak berwibawa.

Aku yang mengajak Rose mendatangi universitas ini, sepulang dari Old Montreal karena letaknya di tepi jalan besar, tak jauh dari hotel tempat aku menginap. Aku ingin melihat dari dekat universitas tempat Ayah dan Ibu dulu mendapat beasiswa. Namun, tempat yang juga menyebabkan Ayah dan Ibu berpisah. Aku tahu, tidak mudah untuk menjadi mahasiswa di salah satu universitas terbaik di dunia ini. Dan ibu membuktikan, ia mampu.

Saat itu, Ibu mengambil ilmu politik. Aku membayangkan, jika saja rencananya berjalan mulus, Ibu sekarang mungkin sudah menjadi pengamat politik yang kerap muncul di televisi, anggota DPR, atau apalah mengingat ia adalah aktivis kampus. Atau, ia sudah menjadi profesor jika berkarier sebagai akademisi di kampus seperti Ayah.

 Ibu pintar. Ibu kuat. Aku rasanya tidak rela ia menyerah di tengah jalan. Bulu kudukku meremang membayangkan semangat Ibu menjalani hari-hari di gedung ini. Ia tentu memiliki citacita besar, termasuk mengamalkan ilmunya sekembalinya ke Indonesia.  Namun yang terjadi, hingga akhir hidupnya Ibu terpuruk makin jauh dari cita-citanya. Ia menjalani hidup hanya untuk bertahan.  Memikirkan itu, aku merasa ada yang mengganjal di tenggorokanku. 

“Ibu sudah melupakan ayahmu, tapi tidak pernah bisa melupakanmu,” jawab Rose.

 “Apakah Ibu punya teman dekat pria?”

Aku mengajak Rose berjalan  menikmati suasana kampus yang cukup ramai, karena menjelang ujian dan libur akhir tahun.  Aku  ingat,  Ayah pernah mengusulkan agar aku melamar kuliah S-2 saja. Dan,  salah satu universitas yang ia sebut adalah McGill. Kata Ayah, aku punya peluang untuk masuk karena aku lulus dengan nilai bagus. Bahasa Inggrisku juga bagus. Kemampuan beradaptasiku juga tak diragukan.  Aku menganggap itu pujian seorang ayah untuk anak perempuannya. Belum tentu benar.

“Selama kamu diterima di universitas,  apalagi yang ternama, tersedia pilihan beasiswa. Tidak seperti zaman Ayah dulu, susah mencari beasiswa,” Ayah mencoba terus merayuku. Aku memang bersikukuh ingin bekerja dulu, mencari pengalaman, dan memiliki penghasilan.  Dengan itu, aku berharap bisa memilih bidang yang paling tepat. Apakah aku ingin berkarier sebagai dosen seperti Ayah, atau karier lainnya.

Yang jelas, hingga saat ini aku masih galau. Bisa jadi karena aku baru saja kuliah, mungkin masih butuh waktu untuk mengambil jarak dari gaya hidup anak kuliahan. Namun, aku, kok, ngiri, ya, melihat mahasiswa dengan mata setengah mengantuk dan rambut yang kelihatannya disisir jari tangan, keluar masuk kampus McGill,  menggendong tas laptop.

Semalam mungkin mereka begadang mengerjakan tugas.  Sebab, aku dengar dari Ayah, 10 menit saja mereka telat menyerahkan tugas, nilai mereka bisa berkurang, bahkan gugur. Saat aku berhenti di depan patung James McGill,  pendiri universitas  yang tangan kirinya memegang topi dan tangan kanannya memegang tongkat, Rose bercerita.

“Ada beberapa pria yang ingin menjadikan ia pacar atau istrinya.  Selain kulit Asia dan paras ayunya, Nemah itu pintar dan ceria. Ia pandai membuat suasana beku menjadi cair dan membuat orang merasa dihargai. Seorang ayah tunggal di daycare, tempat Nemah bekerja, pernah mendekatinya. Setelah beberapa kali kencan, Nemah mengatakan tidak cocok. Hubungan dengan para pria biasanya berakhir dengan persahabatan. Hanya dengan pria Maroko, ia menjalin hubungan yang cukup lama. Namun,  Nemah mengaku, terlalu rumit untuk sebuah perkawinan di usianya itu. Ia tak lagi memiliki energi untuk mengurai kerumitan….”

“Kamu punya pacar?”

“Pernah punya, tapi sekarang sudah putus,” jawabku. Rose menepuk-nepuk pundakku penuh simpati.

“Terima kasih. Aku sudah siap pacaran lagi, kok. Kamu punya calon?” candaku.

“Kamu pacaran dengan Brain saja. Jadi menantuku.” Aku tertawa tergelak-gelak mendengarnya.

“Rose, tolong foto aku di samping foto patung ini….” 
Aku bergaya di dekat patung Kakek McGill. “Sekarang ambil gambarku  dengan latar belakang gedung. Jangan lupa, perlihatkan  bendera Kanada yang sedang berkibar….”

“Sekarang di sini, ya, Ros….”

“Ambil gambar langit birunya lebih dominan….” Beberapa kali Rose menuruti keinginanku sampai  ia menggerutu. Namun kemudian, ia menghampiriku,  ketika melihat aku  mengusap mata berulang-ulang.  Berada di kampus ini membuatku memikirkan Ibu.
 
 

COTE VERTU
Pukul 11.00 nanti aku check out dari hotel. Sesuai dengan tiket, pesawat aku akan berangkat malam ini. Rencananya, sebelum ke bandara aku akan mengajak Rose makan siang. Namun, ia ngotot untuk makan siang di bandara saja.

“Biar ngobrol-nya tenang, agar kamu tidak terus-menerus melihat jam tangan,  takut ketinggalan pesawat, saat kita ngobrol.” Begitu alasannya.  Aku setuju, meski sebenarnya aku paling tak suka makan di bandara, makanannya standar dan mahal!

Setelah berjam-jam bersama Rose, aku bisa merasakan kebaikan, ketulusan, dan kehangatan Rose padaku. Pantaslah kalau  Nemah memercayakan semua wasiat padanya.  Sepanjang kebersamaanku  dengannya, aku juga mendengar banyak cerita tentang Ibu, mengunjungi tempat-tempat yang dianggap bersejarah bagi aku dan Ibu.

Cerita selama  13 tahun itu memang diceritakan terpotong-potong. Mungkin masih banyak cerita lain yang belum terungkap. Namun,  itu  sudah cukup menggoyahkan anggapanku terhadap Ibu yang selama ini bersemayam di relung hati dan otakku.  Sikap Ibu, setidaknya terhadapku, tidaklah sejahat apa yang kubayangkan selama ini.

Sambil berbaring kudekap foto Ibu dan botol perak bekas tempat abunya. Kuucapkan permintaan maaf dan rinduku yang tiba-tiba bersemi. Kuucapkan keprihatinanku pada perjalanan hidupnya.  Efeknya, semalam aku sibuk  mencerna ulang dan merangkai semua cerita yang membuat aku berguling-guling tak bisa tidur.

Otakku begitu sesak dan serasa hendak meledak. Aku membutuhkan tempat untuk meledakkannya.  Akhirnya,  pukul 3 dini hari waktu Montreal, sama dengan pukul 3 sore di Jakarta, aku menelepon Ayah. Selama satu jam aku mempertanyakan sikap Ayah kepada Ibu, mengungkapkan kekesalanku dengan bahasa yang amburadul karena kuutarakan dalam keadaan emosi dan terisak-isak.

 “Ayah sudah menyiapkan diri bahwa suatu saat kamu akan mempertanyakan semuanya. Ayah tidak akan membela diri. Ayah minta maaf.”  Ayah mengatakan itu saat isakku mulai berkurang dan emosiku mulai melunak.

Percakapan itu membuatku lega dan bisa tidur lelap. Aku baru bangun ketika jam menunjukkan pukul 8.00. Dari jendela hotel, aku bisa melihat puncak Mount Royal yang kerontang dan beku. Langit kelabu. Menurut ramalan cuaca yang kulihat di televisi, hari ini Montreal akan diguyur salju. Tapi di luar sana, aku melihat sebuah hari baru yang menggairahkan. Pukul 11.30, kudengar telepon berdering. Rose mengabarkan, ia sudah menungguku di lobi hotel.

“Restoran apa yang paling Ibu sukai saat musim dingin?” Itu yang pertama kutanyakan saat menemuinya di lobi.

“Pho Bang New York, di Cina Town.” Rose menjawab pertanyaanku dengan kening berlipat-lipat.

Menurutnya,  ia mulai sering menemukan  tindakan spontanku yang  ‘nyeleneh’  seperti Ibu.

“Restoran Vietnam? Ayo, kita makan siang di sana.”

“Mudah-mudahan antrean tak panjang.” Rose melirik jam tangannya. “Masih terlalu pagi untuk makan siang.”

Restoran itu, menurut Rose, di  tiap musim tak pernah sepi pengunjung. Mereka tak keberatan, jika harus antre. Aku jadi penasaran, sedahsyat apa makanan Vietnam di tempat itu. Sepuluh menit kemudian kami sudah tiba di China Town, karena letaknya ternyata tak jauh dari hotel. 

Seperti harapan Rose, belum ada antrean sehingga kami mendapat meja dengan cepat. Menu yang dijual sebenarnya tak beda dengan restoran pho yang ada di Jakarta. Aku dan Rose sama-sama memilih sup daging sapi. Rasanya hampir sama dengan sup Vietnam pada umumnya. Bedanya, terasa lebih nikmat karena disantap dalam cuaca dingin.

“Kafe apa yang disukai  Ibu?” tanyaku, saat keluar restoran dan melihat antrean sudah mengular. Luar biasa, untuk menikmati makanan Vietanam ini mereka tak keberatan antre sambil menggigil.

“Boulangerie Premiere Moisson di Jean Talon,” Rose menjawab sambil meneliti wajahku.
“Ayo, kita ke sana.”  Aku meraih tangannya.
 
 

Dalam perjalanan menuju kafe, Rose mengajakku melipir  ke Marche Jean Talon, salah satu pasar tradisional  yang tak jauh dari kafe. Karena pasar itu dibangun secara terbuka, pedagang dan pembeli sama-sama mengenakan baju musim dingin.

Menurut Rose, sekali sebulan ia dan Ibu datang ke pasar ini. Bukan hanya untuk berbelanja buah dan sayur yang dijajakan oleh para petani setempat, melainkan juga untuk menikmati makanan khas yang sulit didapat di tempat lain, seperti sosis bebek bakar yang murah dan enak. “Ini makanan kesukaan Nemah.” Rose membeli 3 buah  bhajis yang baru diangkat dari penggorengan.

Pedagangnya menjajakan itu layaknya pedagang gorengan di pasar tradisional di Indonesia. Makanan India itu berupa  irisan wortel dan bawang bombay yang digoreng dengan tepung. Serupa dengan bakwan. Bedanya, bhajis sangat terasa kunyit dan jintannya.  

Sambil makan bhajis, Rose mengajakku melintas lorong-lorong pasar hingga kemudian kami tiba di kafe, yang siang itu cukup ramai. Ah, pantaslah Ibu suka kafe ini. Tempatnya nyaman untuk duduk dengan aroma manis tak berkesudahan. “Nemah paling suka apple-raspberry pie.” Rose menunjuk irisan pie dengan raspberry merah di atasnya.

“Ok, aku pesan itu.” Tak terasa kami sudah mengobrol sana-sini hingga jam menunjukkan pukul 15.00. Rose mengingatkan aku untuk segera ke bandara. Di tepi jalan, sambil menunggu taksi lewat, aku membuka kedua telapak tangan, menadah salju. Meremasnya. Membiarkan wajahku disentuh olehnya. Aku mulai menyukai salju.  

“Kamu nanti kangen sama salju,” komentar Rose. Rose melambaikan tangan ketika sebuah taksi melintas.

“Cote Vertu,” kataku pada pengemudi saat kami sudah duduk di kursi taksi.

“Pierre Elliott Trudeau.” Rose mengoreksi dengan menyebut nama bandara internasiol di Montreal. “Aku mau ke Cote Vertu.” Cote Vertua adalah wilayah tempat Rose tinggal.

“Ada barang yang ketinggalan?”  Rose melirik jam tangannya. Aku menggeleng.

“Rose, bolehkah aku menyewa salah satu kamar di rumahmu, sebelum aku mendapat apartemen….” Lama ia menatapku.

Rupanya ia mencoba mencerna arti dari ucapanku yang tidak ia sangka. Kemudian, kudengar ia berulang-ulang ia menyebut nama Tuhan. Mengguncang-guncang tubuhku. Aku tak percaya ia begitu gembira. Seperti ia menemukan anaknya yang hilang.

“Baiklah, aku punya harapan untuk mempertemukanmu dengan Brian. Ia anak lelakiku yang baik. Sudah memiliki pekerjaan. Dua kali pacaran. Pertama dengan perempuan keturunan Rumani dan yang kedua keturunan India. Aku rasa ia cocoknya dengan perempuan keturunan Asia sepertimu. Dia suka nasi goreng. Kamu tak keberatan  jadi menantuku kan,  meski Brian berkulit hitam!”

Aku tertawa saja mendengar ocehannya. Belum kuceritakan kepadanya bahwa aku suka pria berkulit hitam. Dentra juga berkulit hitam. Oh, ya, hal lain yang aku katakan pada Ayah di telepon adalah keputusanku untuk tinggal di Montreal dengan segala alasan dan rencanaku.

Tentunya tak masalah karena aku memegang paspor Kanada. Tapi, aku lupa cerita pada Ayah  bahwa untuk modal awal tinggal di kota kelahiranku, aku punya uang 100 ribu dolar Kanada, sekitar 1 miliar. Warisan dari Ibu!  “Ayah doakan kamu diterima di Universitas  McGill,” kata Ayah di telepon pagi dini hari tadi, waktu Montreal. (Tamat)

***

Ida Ahdiah

 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/