Kisah sebelumnya di KOTA KELAHIRAN BAGIAN I
Kematian ibu yang sudah tak lagi mendapat tempat di hatinya membuat Sofi harus terbang jauh ke Montreal, Kanada. Di kota tempat ibunya bermukim yang sekaligus kota tempat Sofi lahir, Sofi harus mengambil abu jenazah ibunya dari Rose, sahabat ibunya, untuk ditabur di Beaver Lake. Sedikit demi sedikit Rose mengingatkan Sofi akan kenangan masa kecil yang telah Sofi lupakan.

PASPOR KEDUA
Lepas magrib aku tiba di rumah. Ayah sudah mandi dan sarungan. Pertanda ia tak ada acara malam hari. Mama Mona, ibu tiriku,  sudah memakai baju rumah, daster batik yang modis. Di mana dan kapan pun berada, Mama Mona tak pernah lusuh. Selalu berpakaian dan rambut rapi disisir. Jadi, ia selalu tampak bersih, segar, dan enak dilihat. Aku ingin seperti itu kalau tua nanti. Keduanya sedang duduk di ruang tengah, menonton televisi. Ben dan She, kedua adik kembarku, laki-laki dan perempuan yang duduk di kelas 1 SMP, ada di kamar masing-masing. Sibuk dengan gadget-nya.

Tak bosan aku mengingatkan, boleh mereka mengisi aktivitas dengan gadget, tapi akan seru juga kalau membaca atau ngobrol di luar kamar. Mama Mona memelukku  tanpa mengatakan apa-apa. Aku memeluk Ayah dan menepuk-nepuk pundaknya. Aku merasa Ayah membutuhkan itu.

“Saya boleh mandi dulu, ya,” kataku pada Ayah dan Mama Mona sambil berjalan menuju kamar, tak menunggu persetujuan mereka. Setelah meliuk-liuk dibonceng ojek di jalanan yang penuh asap, tubuhku basah oleh keringat.

Dua puluh menit kemudian, aku sudah duduk bersama Ayah dan Mama Mona. Ayah mengambil paspor yang tergeletak di meja dan menyerahkannya padaku. Dan itu paspor Kanada! Sumpah, aku lupa selama ini aku memegang paspor Kanada. Karena aku lahir di Montreal, otomatis aku menjadi warga negara Kanada.

Menurut Ayah, Ibu yang  bersikukuh membuatkan paspor itu sejak aku lahir, kendati aku juga punya paspor Indonesia. Ibu menganggap itu adalah hakku. “Setelah usai 18 tahun, sesuai dengan undang-undang, kau boleh memilih, mau jadi warga negara Indonesia atau Kanada,” kata Ayah, ketika beberapa tahun lalu ia memintaku untuk memperbarui paspor itu.

Aku sendiri lupa tentang keberadaan paspor itu karena aku tak pernah berpikir untuk pergi dari Indonesia. Jadi, 2 kali ke luar negeri, ya, memakai paspor Indonesia. Kini, usiaku sudah 23 tahun. Dan aku belum sempat mengurus untuk mencabut kewarganegaraan Kanada. Ampun, aku memiliki warga negara ganda!

“Pergilah ke Montreal. Siang tadi Rose mengabarkan ibumu meninggal dunia setelah dirawat 10 hari di rumah sakit karena diabetes.” 

Terkesan Ayah berusaha sekali mengontrol getaran suaranya. Mama Mona meninggalkan kami berdua. Tampaknya, ia ingin memberi kesempatan pada  Ayah  untuk menumpahkan kesedihan ditinggal orang yang pernah menemani hari-harinya. Pasti Ibu menempati salah satu sudut di hati Ayah yang sangat khusus.
 
 

Cinta keduanya begitu besar dan menggebu pada awalnya. Kisahnya bahkan sempat menjadi trending topic di  keluarga, pada akhir tahun ‘80-an. Bagaimana tidak, Ibu menolak menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, seorang petani kopi  sukses di Lampung. Lelaki yang dipilihkan Kakek itu konon  seorang pengusaha mebel dari Jepara. Ibu memilih menikah dengan Ayah, yang sama-sama calon dosen, calon pegawai negeri sipil, dengan wali hakim.

Satu tahun setelah menikah, keduanya mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Montreal. Dari cerita yang kudengar, sejak menikah  Ibu  tak pernah diperkenankan menginjakkan kakinya di rumah kakek dan nenekku. Tapi, Ibu tak peduli. Ia tak pernah mengeluhkan tentang itu. Kakek  meninggal semasa aku di Montreal, menyusul Nenek 2 tahun kemudian.

Pakde-ku pernah mengontak Ayah untuk mengabarkan tentang warisan bagian Ibu. Aku tidak tahu pasti,  apakah Ayah mengabari Ibu  atau tidak tentang itu. Hingga kini,  aku tak pernah berkomunikasi dengan keluarga Lampung. Aku merasa tidak perlu. Kurasa mereka pun tak menyadari atau lupa punya keponakan aku.

“Ia seorang perempuan pemberani di masanya. Nenek berpesan kepada ayahmu untuk merawat cintanya yang besar.” Aku mendengar itu dari Nenek. Saat itu aku ingin tahu, apakah mereka dipaksa menikah, seperti yang masih terjadi di zamannya, dan itu yang  mengakibatkan mereka bercerai. Menurut cerita, badai mulai menerpa perkawinan mereka ketika Ibu mengandung aku. Rupanya, Ayah dan ibu telah sepakat untuk menunda punya anak hingga selesai S-2.

Beasiswa dan waktu yang terbatas akan menyulitkan keduanya untuk merawat dan mengasuh anak tanpa  ada orang yang membantu  dengan gaji terjangkau seperti di Indonesia. Akibatnya, Ibu stres berat karena dihadapkan pada siatuasi yang sulit; tuntutan menyelesaikan kuliah sesuai dengan masa berlaku beasiswa selama 2 tahun ditambah kondisi kehamilan yang buruk. Ia mengalami hiperemesis gravidarum, sering mual dan muntah, tanpa bisa makan atau minum sedikit pun yang membuatnya harus bolak-balik dirawat di rumah sakit.

Dalam keadaan itu, Ayah tak bisa sering menemani Ibu. “Ayahmu berpikir, Ibu sudah berada di bawah pengasuhan ahli, jadi Ayah bisa kuliah dan bertekad bisa selesai lebih cepat agar bisa membantu Ibu dan Ibu bisa menyelesaikan kuliahnya. Sementara ibumu mengharap,  Ayah menemaninya saat  melewati masa kehamilan yang sulit itu.” 

Ini masih menurut Nenek. Kelahiranku  makin memperburuk keadaan. Ibu merasa telah berkorban banyak: melahirkan, merawat anak, kuliahnya tertunda, dan beasiswa habis!  Ia harus bekerja apa saja, menjadi cleaning lady, mengasuh hewan, pelayan di restoran, dan banyak lagi, untuk mencukupi kehidupan keluarga. Sementara Ayah makin melejit. Ia diterima untuk melanjutkan S-3. Ayah  makin sibuk di kampus, membaca buku, ikut konferensi di berbagai negara, dan bertemu dengan para akademisi.

Ibu  bergelut dengan urusan domestik. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Aku bisa merasakan kepedihan Ibu. Tapi, aku tak pernah tega untuk mempertanyakannya kepada Ayah. Ayah dan Ibu bercerai 1 tahun sebelum Ayah lulus S-3. Ayah dan Ibu pisah apartemen. Ibu membawaku tinggal bersamanya.

“Suatu hari, ibumu meninggalkan kamu sendirian di apartemen dan kemudian terjadi kebakaran di apartemen itu. Ia dianggap telah menelantarkanmu dan kehilangan hak asuhnya. Itu alasan mengapa Ayah membawamu pulang,” cerita Kakek, ketika bertanya mengapa akhirnya aku ikut Ayah.

Saat mendengar itu, aku merasa menjadi sumber perceraian keduanya. Menjadi penyebab gagalnya Ibu menyelesaikan S-2. Bahkan, ia mengundurkan diri dari pegawai negeri di Indonesia. Memutuskan untuk tinggal di Montreal!  Aku merasa Ibu telah menghukumku, dengan tidak pernah menghubungiku, bahkan tak pernah pulang ke Indonesia.

“Sesuai dengan wasiatnya, Rose sudah mengurus jenazahnya untuk dikremasi. Wasiat yang lain, ia ingin kamu menaburkan abunya di Beaver Lake. Ayah akan carikan tiket untukmu. Paling lambat minggu depan kamu pergi. Wasiat orang meninggal harus segera ditunaikan. Mumpung kamu juga belum mulai bekerja. Kamu juga masih sempat untuk membeli baju dingin….”

Di usia 10 tahun aku terakhir bertemu Ibu. Itu artinya, 13 tahun aku tak pernah bertemu, tak pernah saling menghubungi. Tiba-tiba aku dilibatkan dalam prosesi yang aneh.  Aneh sekali….

“Benar atau salah, dia adalah ibumu. Lepas ia dengan penghormatan terakhir dari anak perempuannya.”

Ayah rupanya melihat ekspresi penolakan di wajahku. Ibuku? Yang terbayang di benakku ketika Ayah mengatakan ibu adalah Nenek. Dialah yang merawat dan mengasuhku dari usia 10 tahun. Dia yang mengajariku hitam, putih, dan abu-abunya kehidupan. Neneklah yang menemaniku  masa-masa galau  saat pubertas. Nenek yang tahu cerita cinta monyetku dan haid pertama yang membuat aku murung.
 
 

Ya, Nenek dan Kakek meminta untuk mengasuhku di Cirebon ketika Ayah membawaku dari Montreal.  “Ayah perlu menata ulang hidupnya. Kasihan jika ia harus sambil mengasuh anak sendirian,” cerita Nenek. Aku berterima kasih kepada Nenek dan Kakek. Kasih sayangnya yang tercurah membuatku bisa menjalani hidup  seperti  anak lain yang hidup dengan kedua orang tuanya.  Bisa jadi, karena itu aku dengan mudah melupakan masa kecilku di Montreal. Atau  karena memang tak ada yang berkesan? Kesan baik ataupun buruk!

 Setahun kemudian, Ayah menikah dengan Mama Mona, memiliki sepasang anak kembar. Ayah dan Mama Mona memintaku pindah ke Jakarta dan bersekolah di sana. Tapi,  aku menolak karena berat berpisah dari  Nenek dan Kakek, juga teman-teman. Lulus SMP, kembali Mama Mona memintaku pindah ke Jakarta.

“Jadi kapan kamarmu yang sudah kami siapkan akan kamu huni?”  Mama Mona menanyakan itu dengan wajah kecewa. Aku tidak tahu kapan. Sebab, aku merasa rumahku, ya, di rumah Nenek ini. Tiap tahun aku pasti liburan di rumah Ayah. Tapi, tak pernah lebih dari seminggu. Aku tak suka Jakarta, macet.

“Ayah memutuskan, sebaiknya kamu melanjutkan sekolah di SMA berasrama, di Bogor. Tentu kamu akan berat  meninggalkan Nenek, Kakek, juga teman-temanmu di sini.” 

Itulah yang dikatakan Ayah menjelang aku lulus SMP dengan suara yang agak memaksa. Aku menerima tawaran Ayah dengan antusias. Semua kaget mendengar keputusanku.  Mereka menduga aku akan menolak tawaran Ayah seperti yang sebelumnya. Tak kuceritakan bahwa aku mulai merasa tidak nyaman tinggal dengan Kakek dan Nenek, karena ada sepupuku yang terus terang mengatakan  aku telah merampas seluruh perhatian Nenek dan Kakek. Cucu yang lain tidak kebagian perhatiannya. 

Dengan tinggal di asrama, aku tidak menyakiti Ayah, Kakek, atau Nenek. Aku merasa berada  di tempat yang netral. Secara perlahan, aku mulai menyukai tinggal bersama teman-teman dari berbagai kota dengan karakter yang beragam. Rasanya aku  makin kaya pengalaman, meski terkadang menggerutu harus mengikuti disiplin yang diterapkan oleh pihak asrama. Sementara teman-teman lain di luar asrama bisa bebas nonton malam hari atau main-main sepulang sekolah, kami harus taat pada jadwal  dan kegiatan yang sudah dibuat. Belakangan aku baru bisa merasakan bahwa hidup di asrama membuatku lebih mandiri, menghargai waktu dan orang lain.

Lulus SMA, aku memilih kos di dekat kampus. Baru dua bulan ini, selulus kuliah, aku memilih tinggal bersama Ayah. Nanti, kalau sudah bekerja, aku berniat kos lagi.

“Kamu mau tinggal dua minggu atau sebulan di Montreal?”
“Lima hari saja. Dua hari di jalan, pulang dan pergi. Tiga hari di Montreal.”
Ayah hanya angkat bahu sambil berkata setengah pasrah, “Terserah kamu.”
 
 

MANTEL MERAH

Rasanya senang sekali ketika akhirnya aku tiba di rumah Rose. Aku bisa duduk di  ruangan berpenghangat. Dari jendela,  aku bisa menyaksikan salju. Ternyata, aku lebih suka menyaksikan salju dari jauh, dibanding berada di bawah guyurannya seperti yang baru saja kualami saat berjalan dari stasiun metro ke rumah Rose. Aku harus berjalan tertatihtatih karena harus memilih jalan agar tidak terpeleset, sementara salju merintangi pandanganku.

Dari balik jendela ini, aku bisa melihat serpihan putihnya, tampak lembut di bawah semburat lampu jalan. Membuat perasaanku terayun-ayun, mellow. Apalagi sambil mendengarkan suara penyanyi favorit Rose, Bob Marley, penyanyi asal Jamaika. Urusan Ibu tampaknya sudah menjelang babak akhir. Mudah-mudahan aku sudah memberinya penghormatan terbaik untuknya, seperti yang Ayah harapkan. Dan aku merasa gembira menunaikannya.

Kini, rasa kesalku kepadanya yang membatu bertahun-tahun,  sudah mencair,  seperti salju yang mendarat di atas rambutku. Aku percaya, banyak hal  baik yang telah ia lakukan. Pasti, ia punya alasan yang tidak kuketahui saat melakukan sesuatu.  Sebentar lagi, aku  akan kembali ke hotel. Menuntaskan kebutuhan tidurku yang terpotong.  Mudah-mudahan bisa tidur lelap.

Besok, masih ada waktu sehari untuk mendatangi kampus tempat  dulu Ayah dan Ibu bersekolah. Siapa tahu aku jadi bersemangat sekolah. Setelah itu, sedikit bersenang-senang, mencoba sandwich Schwartz, seperti yang disarankan Ayah, karena konon itu merupakan ikon Montreal dan salah satu yang  terenak di dunia.

Kata Ayah, dulu sekali aku pernah mencicipinya. Tapi, lagi-lagi aku tak ingat. Lalu, aku akan  membeli oleh-oleh buat Mama Mona dan adik kembarku. Ayah minta dibelikan bagel di Jalan St Viater, yang masih dibuat secara tradisional. Aku sudah cek, semua lokasinya tak jauh dari hotel. Lusa siang, kembali ke Jakarta. Kembali mencari kerja, aktif di Geng Baca.
  
“Rumahmu simpel dan nyaman,” ucapku, sambil mengedarkan pandangan di dalam rumah mungil dua lantai dengan dua kamar tidur di lantai atas. Lantai bawah digunakan untuk dapur kecil yang menyatu dengan meja makan. Sisa ruangan digunakan untuk ruang keluarga berisi kursi dengan jok yang nyaman untuk bersandar yang menghadap ke televisi berlayar sedang. Sebuah meja segiempat, penuh dengan pigura foto keluarga.

“Aku membeli rumah ini 3 tahun lalu, setelah bertahun-tahun tinggal di apartemen. Aku tinggal sendirian.  Dua anakku kerja di luar kota. Brian di Toronto dan Nikita di New York. Suamiku meninggal 2 tahun yang lalu.” 

Rose menunjukkan sebuah foto keluarga.  Keempatnya kulihat sedang tertawa lebar. Rose kemudian bercerita bahwa sebagai seorang perawat di rumah sakit, ia perlu mengumpulkan uang untuk membeli rumah yang nyaman. Selama ini, ia mencari uang sendiri karena suaminya terkena stroke menahun. Bebannya baru lepas beberapa tahun kemudian, setelah kedua anaknya lulus kuliah dan bekerja.

Berulang kali ia menekankan, bahwa sebagai imigran, untuk meraih sesuatu dibutuhkan kerja yang tiga kali lebih keras. Rose, meskipun sudah menjadi perawat di negaranya, ia tetap harus mengambil sekolah lagi di negeri barunya. Dan itu bukan hal mudah, karena sambil sekolah ia harus bekerja apa saja.

“Tapi aku senang karena aku bisa lulus dan bekerja sebagai perawat,” ceritanya. Tak lama kemudian, Rose mengajakku melahap poutine dan salad yang kami beli di dekat stasiun metro. Makanan khas Quebec, salah satu provinsi di Kanada,  berupa kentang goreng yang diguyur gravy cokelat dan sobekan keju curd yang  gurih dan enak. Berulang kali aku mengacungkan jempol kepada Rose dan berterima kasih telah memilihkan makanan itu.
 
 

Usai makan, Rose menyerahkan sebuah koper warna biru. Ukurannya tidak bisa masuk kabin pesawat. Rose membawa koper itu dari apartemen Ibu yang harus dikosongkan karena masa sewanya kebetulan habis. Sesuai dengan wasiat Ibu, semua barang di apartemennya dibuang. Repot kalau didonasikan karena perlu menyewa mobil untuk membawanya,  sementara sewa mobilnya mahal. Rose tak membuang koper itu dengan alasan di dalamnya ada barang-barang lama,  yang salah satunya milikku dan ingin menunjukkannya padaku.

“Aku boleh membukanya di sini?” Aku turun dari kursi dan duduk di karpet. “Tentu saja, Dear. Silakan.” Koper tidak terisi pernuh. Di bagian atas ada sweater merah bertuliskan Universitas McGill, sepasang sarung tangan kulit, satu sarung tenun, satu kain batik motif truntum, sebuah vas bunga kristal, sebuah pena merek Parker yang tintanya harus diisi sendiri, dan kutemukan sebuah pigura perak.

“Ini aku dan Ibu, ya?” Rose mengangguk ketika kutunjukkan foto seorang perempuan sedang menggandeng tangan anak perempuan kecil berpipi penuh yang mengenakan jaket hijau, sedang tertawa lebar. 

Ibu yang mengenakan jaket biru juga tengah tertawa lebar. Baru kali ini aku melihat foto Ibu denganku. Sebelumnya,  aku melihat foto Ibu saat menikah dengan Ayah. Ia memakai kebaya putih sederhana dalam upacara sederhana, karena Ibu memang kawin lari. Foto lainnya,  Ibu dengan keluarga besar dari Ayah. Tampaknya, Ibu tergolong bukan orang yang suka difoto, mengingat zaman itu pun kamera belum sebanyak sekarang, yang bahkan ada di  tiap telepon seluler.

Selanjutnya, di koper itu aku menemukan kantong plastik yang cukup besar yang berisi mantel merah dengan label harga masih menempel. Mantel merah untuk anak perempuan. Mirip sekali dengan mantel yang dipakai oleh anak perempuan yang tengah skating di Beaver Lake tadi.

“Kamu tahu ini milik siapa?” Rose menatapku dan menunjuk aku dengan dagunya. “Milikku?” Rose mengangguk. “Aku tak pernah memakainya?”  Spontan aku mendekap mantel merah dengan leher tegak berkancing hias 4 buah.  Lalu,  aku mematut-matut mantel sepanjang 3 jengkal itu di tubuhku,  di depan  cermin dekat pintu masuk.  Betapa sulit membayangkan aku mengenakan mantel yang sangat girlie itu.

 “Malam itu, sepulang kerja, Nemah membelikan mantel yang sangat kamu inginkan ini….” “Aku  menginginkan mantel merah?” Aku heran karena merah bukan warna kesukaanku. Aku menyukai warna biru dan hijau. “Ya, mungkin saat itu kamu masih suka warna merah, seperti umumnya anak-anak yang lain.”

Menurut Rose, Ibu berusaha sekali mengumpulkan uang untuk membeli mantel yang tidak murah itu. Berulang kali aku menunjukkan kepadanya mantel merah yang dipakai oleh teman sekelasku, saat Ibu menjemputku di sekolah. Hingga suatu saat, Ibu mengaku sedih melihatku  berdiri lama di sebuah toko yang menjual mantel sejenis. ‘Sedrama’ itukah Sofi kecil?
“Namun, Nemah meraung-raung saat tiba di apartemen tak menemukanmu. Tetangga di apartemen memberi tahu  bahwa kamu berada di kantor polisi!” Cerita Rose membuat aku berhenti mematut-matut diri. Soal kantor polisi ini belum pernah aku dengar.

“Sore Sabtu di musim dingin itu, Nemah mendapat tawaran menemani orang jompo di sebuah perumahan. Jadwalnya dari pukul 2 hingga 8 malam. Katanya,  lumayan untuk menambah beli mantelmu. Kebetulan hari itu aku sedang tidak bekerja, jadi ia memintaku menemanimu di apartemen.” “Dan,  kamu tidak datang?”
 
 

Aku mulai curiga dengan penjelasan Rose yang panjang lebar. Jangan-jangan sumber segala malapetaka hidupku adalah Rose. Itu pula alasannya mengapa ia begitu baik kepadaku, kepada Ayah. Dadaku mulai sesak dibuatnya. “Aku datang sesuai yang kurencanakan. Namun, sebelum aku tiba, terjadi kebakaran. Kebakarannya tidak terlalu besar dan tidak berbahaya. Singkat cerita, saat pemadaman api sedang berlangsung,  seorang petugas pemadam kebakaran melihatmu menangis di depan jendela kaca apartemen lantai 4. Petugas kemudian  menjemputmu dengan tangga hidrolik.

Kepada petugas pemadam kebakaran kamu bercerita bahwa kamu menangis sejak mendengar tanda kebakaran di apartemen meraung-raung, disusul sirene mobil pemadam kebakaran. Namun, tak ada yang melihatmu. Selanjutnya, ketika api berhasil dipadamkan, kamu  dibawa ke kantor polisi karena mereka tak mungkin membiarkanmu sendirian di apartemen.” Aku sama sekali tidak ingat peristiwa itu. Diselamatkan pemadam kebakaran, dibawa ke kantor polisi….

“Ibu menjemputku ke kantor polisi?” Rose menggeleng. Aku menahan napas. Ceritanya  makin membuatku penasaran.

“Salah seorang penghuni apartemen memberi tahu aku bahwa kamu dibawa ke kantor polisi. Segera aku menyusulmu ke sana, sambil terus mencoba menelepon ibumu, tapi tidak berhasil. Untung aku berhasil menelepon ayahmu. Ia  kemudian menjemputmu.”

“Apakah Ibu  dihukum?” Rose bercerita, bahwa sesungguhnya tidak ada aturan yang pasti, usia berapa seorang anak bisa ditinggal sendirian di rumah atau apartemen. Yang jelas, orang tua disarankan sebaiknya meninggalkan anak sendiri saat anak itu sudah tahu mana yang berbahaya dan tidak.  Jadi, Ibu  tidak dipenjara. Namun, Ibu dianggap lalai karena ia tidak ada di tempat saat terjadi kebakaran yang bisa merenggut jiwa anaknya. Alasan itulah yang membuat Ibu  kehilangan hak asuhnya.

“Ayahmu mendapat hak mengasuhmu. Ibu mencoba berbicara dengan ayahmu, meminta maaf dan memohon agar kamu tetap bisa bersamanya, tapi ayahmu tak mengabulkan. Ia membawamu ke Indonesia.” Rose, salah seorang saksi dari perjalanan masa kecilku, menceritakan versi yang berbeda.

Dari cerita sebelumnya aku menganggap Ibu tega meninggalkan aku sendirian di apartemen. Apalagi kemudian terjadi kebakaran. Aku tidak tahu  bahwa Ibu memikirkan keamananku dengan menitipkan aku ke Rose. Aku tidak tahu, cerita mana yang benar. Tapi, saat ini hal tersebut tidak penting lagi. 

“Pernah terpikir olehnya untuk kembali ke Indonesia agar ia bisa sering melihatmu. Namun, ia tidak melakukannya. Di Indonesia, ia tak memiliki keluarga, suami, atau pekerjaan. Dengan berurai air mata ia mengatakan, ia percaya keluarga ayahmu  akan mengasuhmu dengan baik. Ia tak ingin kehadirannya mengganggu mereka dan membuatmu bingung. Ia memutuskan menutup sejarah Indonesia. Memulai hidup  menjadi warga negara Kanada.” (Bersambung)
 
 
Ida Ahdiah
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/