Beaver Lake
Aku turun dari bus di halte yang dekat dengan Beaver Lake. Rose yang menyarankan agar aku tak perlu memutar jalan atau mendaki Mount Royal. Ia berjanji akan menungguku di halte itu. Aku menolak  halus permintaan Rose untuk datang ke rumahnya dan pergi bersama-sama ke danau itu. Sebab, setelah ku-googling, letak danau itu lebih dekat dari hotelku dibanding dari rumah Rose yang berada di stasiun terakhir metro bawah tanah. Bahkan dari situ masih harus berjalan 3 blok lagi. Aku yakinkan ia, jika aku tak akan kesulitan mencapai tempat itu. Semua informasi tentang jadwal bus dan jarak tempuh sudah kuperoleh dari media sosial.

“Yang penting jangan lupa membawa benda  itu,” pesanku pada Rose di telepon, berulang. Sebab, untuk itulah mengapa sore ini aku berada di tengah suhu udara minus 10 derajat Celsius, beda dengan suhu Jakarta yang panas, 35 derajat Celsius.

“Ya, tapi pulangnya  kamu harus ke rumahku. Ada beberapa barang miliknya. Terserah hendak kamu apakan.” Ayah berpesan agar aku mengunjungi perempuan baik hati ini. Ia menyelesaikan semua urusan kematian Ibu. Rose, juga orang yang dipercaya oleh Ibu untuk menyampaikan wasiat sebelum kematiannya. Untuknya, aku membawa selembar tenun Lombok dan sebuah syal batik sutra. Tentu saja itu belum seberapa.

“Sudah kusiapkan kamar untukmu. Menginaplah beberapa malam di rumah,” ajak Rose.
Rose berteriak ketika kukatakan aku akan kembali ke  Jakarta lusa.
“Oh, ya! Sesingkat itu kamu di sini! Tidak ingin jalan-jalan dulu? Tidak ingin menyusuri kota masa kecilmu. Kota kelahiranmu.” Kupilih jawaban yang membuatnya menghentikan ajakan.
“Aku sekarang sedang tidak mood liburan. Mungkin lain kali aku akan datang khusus untuk liburan.”
“Kamu tidak lelah?” Tentu saja lelah. 

Penerbangan Jakarta–Montreal, lebih dari 21 jam dengan dua kali transit di Hong Kong dan Vancouver, cukup membuat kaki kaku dan jam tidur acak-acakan. Namun, aku tak tertarik berlama-lama di kota yang menjadi sumber petaka dalam hidupku. Coba aku berada di Praha, Santorini, atau Barcelona, akan kusisir habis tiap sudut kota dan kucicipi kulinernya seperti saran yang ditulis di buku atau situs Lonely Planet.

Semburan angin akhir November menerpa wajahku, saat turun dari bus. Rasanya seperti diguyur segelas air es, membuatku merasa beku sekejap. Segera kutarik ritsleting coat musim dingin dan menegakkan kerahnya hingga menutupi leher. Kubenahi syal  hingga menutupi telinga dan leher agar tak ada celah sedikit pun bagi angin untuk menyentuh kulitku.

“Bisakah waktunya diubah ke musim semi agar udara lebih hangat,”  protesku pada Ayah, setelah kucari tahu dan kutemukan suhu udara di kota itu lebih dingin dari freezer kulkas yang hanya 0 derajat Celsius. Tapi, Ayah tetap bersiteguh aku harus pergi musim dingin sesuai wasiat yang ditulis Ibu. “Kamu pernah mengalami 10 kali musim dingin. Jadi, suhu dingin tak akan masalah bagimu.”

Ayah mengatakan itu ketika aku agak menggerutu harus membawa perlengkapan berat seperti sepatu bot, sweater, dan jaket musim dingin. Dengan pakaian lengkap seperti ini, tetap saja membuatku tidak nyaman berada di luar ruangan. Ditambah pemandangan di bukit ini yang kerontang dan beku. Hanya ada jejeran pohon dengan batang dan ranting yang daun-daunnya untuk sementara digantikan oleh serpih-serpih salju yang memantulkan cahaya.
 
 

Pohon-pohon itu mencuat bak ratusan jari raksasa yang muncul dari hamparan salju. Sejauh pandangan, hanya ada dua warna  yang perkasa: putih salju dan cokelat tua pepohonan dengan tinggi yang tidak rata. Ada tiga pria, lima wanita, dan tiga anak-anak di halte. Dua wanita berkulit hitam, satu berkulit Asia, dan dua lainnya berkulit putih. Yang manakah Rose? Beberapa kali aku mendengar suara riangnya di telepon. Menurut Ayah, Rose berdarah Jamaika.

Berarti ia berkulit hitam. Hanya ada dua orang yang berkulit hitam. Aku  menebak, perempuan yang tengah menantiku memakai coat  selutut, berwarna kopi susu dan sepatu bot cokelat semata kaki. Ia setengah baya, bertubuh tinggi, dengan perawakan sedang. Rambutnya yang dicat warna madu dikepang dreadlock, melewati bahunya. Wajahnya segar. Tata riasnya  menyatu dengan kulitnya yang berwarna mocca. Sejak bus berhenti, mata perempuan itu mengikuti tiap  penumpang yang turun, dan berhenti ketika melihatku. Terlihat dari bola matanya yang tak henti bergerak, mencari-cari. 

“Sofi Anwar?” Aku mengangguk. Dari dekat, wajahnya mirip ratu talkshow, Oprah Winfrey, dengan hidung yang sedikit agak tinggi. Aku terkesan dengan senyum lembutnya yang membuatku  merasa nyaman. Ia memegang telapak tanganku kencang.

“Oh, my God, kamu sudah menjadi gadis dewasa. Kamu mewarisi mata Nemah. Mewarisi rambut ayahmu.” 
Ia menelitiku dari ujung sepatu bot hingga ujung rambut dengan mata takjub. Aku menyerah saat ia memelukku erat dan mengayun-ayun tubuhku. Kupejamkan mata saat mencium aroma parfum ringan dari tubuhnya yang mengingatkannya pada sesuatu yang manis, serabi, gulali, wafel, klepon…. “Kamu pasti tidak mengenaliku lagi.”

Wajah Rose setengah merengut, pura-pura merajuk. “Well, 13 tahun! Waktu yang cukup  lama. Aku juga sudah banyak berubah. Bobotku bertambah.” Rose menunjuk perutnya dengan matanya.
“Ya, kamu sudah berubah banyak,” jawabku diplomatis.

Ayah pernah cerita bahwa Roselah  yang menemani Ibu ketika melahirkanku. Tak jarang aku juga dititipkan di rumah Rose  saat Ayah dan Ibu harus berada di kampus sepanjang hari. Dia sahabat dekat Ibu. Tapi, aku sungguh lupa pada jasa-jasanya. Lupa pada wajahnya.

“Senang bertemu denganmu Rose. Kamu tampak sehat dan gembira. Kamu tidak lupa membawa benda itu, ‘kan?”
“Please, Sofi, stop memanggil ini sebagai benda.”
Suara Rose terdengar agak meninggi. Matanya menyipit menatapku. Protes. “Benda yang berisi abu, maksudku.” 
Perlahan Rose mengulurkan tangannya ke dalam tas dan mengeluarkan botol perak berukuran kecil. Ia usap-usap sejenak.

Secara takzim, dengan kedua tangannya ia  berikan botol itu padaku. Gayanya mengingatkanku pada perwakilan pasukan pengibar bendera saat memberikan bendera pusaka, dalam peringatan 17 Agustus di Istana Negara. Sepanjang usia, baru kali ini aku memegang abu jenazah. Dan itu adalah abu jenazah ibuku! Tapi, perasaanku demikian datar. Tak merasa kehilangan, karena  aku memang tak pernah merasa memilikinya.

Apa yang kurasakan sama halnya dengan saat di jalan aku bertemu mobil jenazah dan iring-iringan mobil berbendera kuning. Aku akan mengucapkan belasungkawa, setelah itu lupa. Segera kumasukkan botol perak itu ke tas selempang kulit sapi buatan perajin Garut. Aku  khawatir botol itu jatuh,  karena aku sulit menggenggamnya dengan telapak  tangan yang dibalut kaus tangan kulit. “Tolong, beri tahu apa yang  harus kulakukan,”  kataku pada Rose.
 
 

Rose kemudian mengajakku berjalan, memasuki kaki bukit Mount Royal yang memiliki tinggi 233 meter dan berada di jantung Kota Montreal. Di jalan, kami berpapasan dengan sebuah traktor kecil yang sedang membersihkan salju yang menutupi jalanan. Sudah beberapa hari Montreal diguyur salju. Sambil berjalan, ‘lidah’ truk itu mengeruk salju yang menumpuk di jalan dan membuangnya ke tepi jalan, membentuk bukit-bukit kecil. 

Selain bebas salju, jalanan juga tidak licin karena es yang menempel di jalan diberi garam khusus agar mencair. Menyelamatkan pejalan kaki amatir seperti aku dari terpeleset. Konon, di musim dingin, ruang gawat di rumah sakit lebih banyak menangani korban yang terpeleset di salju. Jika bukan wasiat Ibu, aku  malas berdingin-dingin di luar seperti ini. Ingin saja aku segera menyelamatkan diri, ke ruangan yang berpenghangat.

Beda dengan penduduk kota. Dari kejauhan, aku melihat beberapa orang menuruni bukit dengan papan ski. Di jalan, kami berpapasan dengan orang yang berjalan satu arah atau berlawanan arah  yang  terdengar berbincang  riang. Menurut Rose, minus 10 di musim dingin dianggap udara yang ‘bagus’ untuk keluar bagi masyarakat yang biasa menghadapi suhu di bawah itu! Hah, pantas saja!

“Anak-anak itu membawa apa?” tanyaku pada Rose saat melihat beberapa anak membawa benda warna-warni dengan panjang sekitar 1 meter, menyerupai ember mandi bayi, tapi dangkal dengan tali di salah satu ujungnya.
“Itu toboggan, alat untuk meluncur di  jalur salju. Anak-anak akan duduk memegang tali dan meluncur.”
“Hi, kamu berani main toboggan sendiri?” tanya Rose, kepada anak yang berjalan searah dengan.
Sambil terus berjalan anak itu menjawab, “Ya. Aku sudah main toboggan sejak aku usia 5….” Ia mengangkat kelima jarinya.

Menurut taksiranku ia masih duduk di kelas 2 SD. Ayah dan ibunya tersenyum dan mendengarkan anaknya bicara. Ia tidak menyela dan menambahkan apa pun. 

“Aku juga suka skating. Kalau sudah besar Mommy akan mendaftarkan aku ke klub hockey….”
Hockey adalah salah satu olahraga yang digandrungi masyarakat setempat, seperti halnya sepak bola di Italia atau basket di Amerika Serikat. Pemainnya mendapat bayaran yang fantastis. Anak  laki-laki itu lancar bercerita dengan susunan kata yang bagus. Ia mengucapkan, “Bye,” dengan sopan ketika hendak berjalan mendahului kami.

“Tempat toboggan masih agak jauh dibanding arena skating yang kita tuju. Letaknya ada di sebelah sana. ” Aku mengikuti jari Rose yang menunjuk ke sebelah kiri. Wow!  Baru kali ini aku melihat arena skating yang besar di alam terbuka, yang di musim panas itu adalah danau tempat bebek-bebek liar bermain. Luasnya lebih dari lapangan bola. 

Mataku jadi sibuk mengikuti wara-wiri ratusan orang, menurut perkiraanku, yang mempertunjukkan kemahiran mereka.  Aku sedikit deg-degan ketika melihat seorang anak perempuan kecil berputar-putar, lalu meloncat mesti tak terlalu tinggi.  Takut ia tersungkur jatuh. Aku lega ketika ia berhasil menjejakkan kakinya kembali. Dan, itu dua remaja berpegangan tangan, mengangkat satu kaki yang berbeda, membungkukkan badannya! Meluncur bagai pesawat hendak take off. Banyak  juga yang berpelukan. Ada puluhan gaya yang membuat mataku sibuk mengamati dan jantungku berdebar menunggu gerakan tak terduga yang terkadang dilakukan oleh mereka.

“Aku pernah menyaksikan kamu main skating di sini.” “Oh, ya….”
Aku tak mengalihkan pandanganku dari seorang anak perempuan yang mengenakan mantel merah, syal putih, dan topi rajut hitam, yang meluncur pelan-pelan menuju ke tengah arena. Ia melambaikan tangan kepada orang tuanya, yang berdiri di tepi arena.

“Kamu meluncur seperti anak bermantel merah itu. Katamu ingin seperti Michelle Kwan.”
“Michelle Kwan?” Sumpah, aku  tak ingat tentang pemain skating keturunan Cina asal Amerika, peraih medali emas olimpiade dan 5 kali juara dunia! Aku bisa skating, meski tidak mahir. Satu kali aku pernah bermain di arena skating buatan yang ada di sebuah mal di Jakarta. Teman-temanku kagum melihat aku menguasai keseimbangan dengan baik dan meluncur mulus, sementara mereka masih harus berpegangan. Dan, barusan Rose mengatakan, aku sudah bermain skating sejak kecil!

Aku pernah mendengar,  kemampuan skating sama dengan kemampuan naik sepeda, jika sudah bisa, meskipun bertahun-tahun tak pernah melakukannya, akan tetap ingat.

“Waktunya kamu menebar abu….”
“Kenapa, sih, dia mau sekali abunya disebar di sini? Tidak menaburkan ke laut seperti umumnya atau ke sungai.” 

Lagi-lagi aku menggerutu. Rose menggeleng. “Mungkin karena ini adalah taman favoritnya yang ia datangi tiap musim. Di  musim semi, ia akan datang ke sini bersamaan dengan burung-burung yang kembali dari negeri hangat, saat daun masih berupa putik dan tulip masih berupa kuncup. Di musim panas, kami kerap membawa bekal dan makan malam di sini,  sambil menikmati festival Tam-Tam dan sesekali turun bergoyang mengikuti irama gendang yang dipukul puluhan orang. Di musim gugur, Nemah selalu bergegas untuk melihat daun-daun yang berubah menjadi kuning, merah, dan kecokelatan. Di musim dingin seperti ini, ia akan meluncur di sana, bersama teman-temannya…”
 
 

“Rose, di mana aku bisa menyewa sepatu skating?”
Tiba-tiba saja terlintas pikiran gila, mengapa aku tidak membuat upacara tabur abu ini menjadi sedikit dramatis. Bukankah Ibu senang hal-hal yang dramatis!

“Ayo, aku antar kamu ke sana.” Rose meraih tanganku dan menuntunku, nyaris menyeretku. Seolah ia khawatir aku berubah pikiran. Kemampuan skating-ku jelas  masih kelas TK, dibanding mereka. Tapi, kapan lagi bisa skating di tempat yang sesungguhnya, sambil menaburkan abu pula.

“Enjoy….”  Rose mendorong punggungku lembut, melepasku memasuki arena setelah sepatu sewaan terpasang. Sebelum berjalan, kubuka botol pelan-pelan dan kututup dengan ibu jariku. Kugerakkan kaki perlahan. Setelah cukup percaya diri aku mulai mempercepat gerakan kakiku. Sambil meluncur, kuarahkan lubang botol ke bawah. Kugeser sedikit ibu jari dari lubang botol agar abu bisa tumpah, sedikit demi sedikit. Beberapa meter kemudian, aku berhenti sejenak. Memastikan apakah masih ada abu tersisa atau tidak di botol. Kuguncang-guncang botol lembut, menumpahkan isinya sambil kubaca doa semampu yang kubisa.  

“Selamat jalan Ibu Nemah Nawangsari….”

Tiba-tiba, srett, seorang remaja laki-laki menyenggolku. Tidak membuatku jatuh, tapi  botol perak itu lepas dari tanganku, melayang-layang. Namun, sebelum jatuh ke permukaan es,  aku melihat sebuah tangan kecil dibungkus kaus tangan warna-warni menangkap botol tersebut. Anak perempuan bermantel merah, yang tadi kulihat di luar arena, tersenyum di depanku, memamerkan giginya yang tidak tersusun rata. Pipinya merah seperti  tomat ranum karena kedinginan. Hidungnya berair. Ia memberikan botol itu padaku.

“Terima kasih,” kataku. Ia mengangguk, tersenyum,  dan kembali meluncur. Selesai sudah upacara tabur abu yang sangat aneh ini. Tapi itulah Ibu.  Seperti yang sering kudengar,  ibuku dijuluki  drama queen. Tindakan dan keputusannya kerap melawan arus. Membuat geger dan mendatangkan lebih banyak kontra ketimbang pro. Termasuk surat wasiatnya untuk tidak dikubur seperti tradisi keluarga besarnya, melainkan dikremasi! Ia memintaku menyebarkan abunya di arena skating! Saat musim dingin!
 
 

GENG BACA
Dua minggu lalu, aku sedang berada di tengah kegiatan Geng Baca, di  Komunitas Cinta itu Perlu, ketika Ayah meneleponku agar setelah selesai urusan, aku langsung pulang ke rumah, tidak mampir ke mana-mana dulu.

“Ada sesuatu yang kamu harus segera tahu. Tapi, tak apa selesaikan dulu urusanmu,” kata Ayah di telepon seraya memutuskan hubungan telepon, ketika kujawab aku sedang bersama anak-anak. Dua bulan setelah diwisuda, sambil menunggu panggilan kerja, seminggu sekali  aku datang ke komunitas Cinta itu Perlu, membantu Mbak Wes mengisi kegiatan di komunitas.

Tiap pekan, di Gelanggang Olahraga, yang letaknya tak jauh dari mal dan perumahan mewah, komunitas melatih puluhan anak yang tinggal di kampung padat berimpitan beragam kegiatan seperti menari, mendongeng, membuat kerajinan tangan, mewarnai, membaca, dan menulis. Mbak Wes mengajari anak-anak SD tari Jawa dan Fatra, anak muda yang beberapa kali ikut pentas di luar negeri, mengajari tari Betawi. Yang lain melatih kegiatan yang berbeda. Semuanya diberikan gratis.

Aku menawarkan tenagaku untuk menjaga gawang Geng Baca. Tiap Sabtu, anak-anak kuminta membaca buku, apa saja yang mereka suka. Minggu depannya mereka disuruh menceritakan apa yang mereka baca. Di awal pertemuan, aku tertegun  melihat kenyataan bahwa bercerita itu pekerjaan berat bagi anak-anak ini. Bukan saja karena mereka kesulitan menyusun kata-kata, tapi juga mengungkapkannya. Beda sekali dengan siswa di sebuah SD swasta tempat aku magang semasa liburan saat aku kuliah dulu. Di sana, anak-anaknya berani tampil, juga pandai menyusun kata. Komunitas memiliki koleksi buku yang cukup banyak, pemberian donatur.

Baru-baru ini aku juga  menerima kiriman 2 kardus buku dari sopir taksi aplikasi online yang kunaiki. Saat menurunkan aku di GOR, ia melihat anak-anak berlarian menyambutku hangat, gelendotan, dan memelukku sambil meneriakkan namaku. Beberapa menit kemudian, pengemudi yang wajahnya mirip aktor Korea,  Lee Sang Yoon, tapi lebih pendek,  meneleponku dan bertanya tentang kegiatan yang kulakukan bersama anak-anak itu. Setelah kuceritakan, ia mengaku ingin ikut membantu. 

“Saya punya banyak buku di rumah, bekas adik dan ponakan-ponakan. Saya akan kirim ke alamatmu. Buku bekas tidak apa-apa, ‘kan?” Aku tak menganggap serius tawarannya itu. Malah,  aku sempat ge-er kalau itu akalan-akalan dia untuk mendekatiku. Ternyata, dua hari kemudian, datang kiriman dua kardus buku cerita berbahasa Indonesia, Inggris, dan Cina yang jumlahnya 150 buku. Aku melonjak senang.

Segera kucari nomor teleponnya di aplikasi data perjalananku. Kutelepon Windu Hananta, begitu namanya. Tapi, ia tak mengangkat teleponku. Mungkin ia sedang membawa penumpang atau tak mengenal nomor teleponku. Akhirnya kufoto buku kirimannya dan kukirim ke WhatsAppnya sekalian mengabarkan kirimannya telah tiba dan ucapan terima kasih dari Komunitas Cinta itu Perlu. Sejam kemudian ia membalas, mengatakan maaf tadi tak bisa mengangkat telepon, karena sedang bersama girl friend-nya!  Ok, deh.
 
 

“Mau tahu apa yang mereka akan lakukan jika mereka punya uang satu truk?” kata Nina, seorang wartawan sambil menunjukkan lembar kertas berisi tulisan  anak-anak, saat kami bersiap pulang. Rupanya, saat latihan menulis barusan, Nina mengajukan pertanyaan dan meminta anak-anak menjawab dengan menulis di kertas. Pertanyaannya: Apa yang akan kamu lakukan jika memiliki uang satu truk? Mayoritas menjawab untuk membuat kamar tidur sendiri, makan di restoran, dan sisanya ingin menggunakan uang itu untuk jalan-jalan ke Ancol, Taman Mini, atau Monas!

“Enggak ada, lho, dari mereka yang ingin  menggunakannya untuk membeli mobil atau jalan-jalan ke luar negeri,” ucap Nina. Menurut Nina, bagaikan warna gigi dan arang, jika  membandingkan jawaban dari pertanyaan serupa kepada  anak-anak di sekolah swasta yang pernah ia latih. Mereka antara lain menulis, ingin menggunakan uang itu untuk membuat robot, membuat kereta api cepat, jalan-jalan ke Disneyland dan menonton bola di stadion Manchester, Inggris.   

Kami mencoba menganalisis keinginan anak-anak itu. Kesimpulan sementara, anak-anak yang berasal dari keluarga sederhana itu tak memiliki cukup bahan untuk modal bermimpi besar. Kami jadi makin membara untuk terus berada di tengah mereka. Memberi mereka bekal pengetahuan lewat buku,  cerita, dan kegiatan untuk modal mereka bermimpi dan  meraih impiannya.

“Makin besar kamu, makin seperti ibumu. Tidak mau diam,” itu komentar Ayah ketika kuceritakan bahwa meski belum mendapat kerja aku akan sibuk melakukan berbagai kegiatan. Aku kaget juga mendengarnya karena baru kali itu aku mendengar Ayah mengait-ngaitkanku dengan Ibu. Bisa jadi karena memang baru belakangan ini ia memperhatikan sepak terjang anak perempuannya.

Menurut Ayah, semasa kuliah Ibu adalah aktivis kampus. Jangan bayangkan ia memimpin demonstrasi menuntut sesuatu. Zaman itu demonstrasi masih dilarang. Yang dianggap aktivis kampus  adalah mahasiswa yang rajin mengikuti kegiatan kampus seperti diskusi atau mengelola koran kampus. Ibu kerap memegang peran penting dalam kegiatan-kegiatan tersebut.   

“Yah, saya sudah selesai. Apa hal penting yang ingin Ayah sampaikan?” Aku menelepon Ayah setelah memesan ojek.
“Nameh Nawangsari meninggal dunia….”
Sejenak, otakku mengolah data, mencari nama yang  Ayah sebutkan.
“Ibumu meninggal dunia….” Suara Ayah terdengar parau. Berita itu tak membuatku kaget, sedih, meraung, lemas atau apa pun respons yang biasanya dilakukan orang saat mendengar orang terdekatnya meninggal dunia.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Saya pulang sekarang,” kataku beberapa detik kemudian.
“Siapa yang meninggal, Fi?” Mbak Wes dan Nina bertanya berbarengan.
“Saudara.”

Tentu saja aku berbohong. Jika kuberi tahu ibuku yang meninggal, pasti keduanya  akan memeluk dan menasihatiku agar kuat dan sabar. Selanjutnya mereka akan terheran-heran melihat wajahku yang biasa-biasa saja. Lalu, akan muncul pertanyaan, di mana di kuburnya?  Aku malas menjelaskan bagaimana hubunganku dengan Ibu, di mana Ibu sekarang, kepada dua orang yang belum lama kukenal, meski keduanya adalah orang baik. (Bersambung: KOTA KELAHIRAN Bagian 2)
***

Ida Ahdiah
 
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/