
Foto: Shutterstock
Orang tua milenial lebih santai dan cenderung boros dalam memenuhi keinginan anak-anak mereka. Benarkah demikian? Faktanya, studi terkini tentang gaya belanja orang tua milenial di Amerika Serikat mengungkap bahwa lebih dari separuh pengeluaran rumah tangga mereka terserap oleh belanja untuk anak (National Retail Federation, 2018). Bagaimana dengan kita?
Tiga orang tua milenial (kelahiran tahun 1981-1996, versi terkini Pew Research) membagi kisahnya kepada femina.

Meuthia Ayu Nelarenta (30), Associate Producer TV, Jakarta
Tipe Orang Tua Santai
“Saya bukan tipe orang tua yang strict, yang menggunakan prinsip first thing first saat anak meminta untuk dibelikan sesuatu,” ungkap ibu dari Naya (5) dan Kiya (2) ini. Wanita yang akrab dipanggil Nela ini mengatakan bahwa saat masih kanak-kanak ia pun tidak mengalami batasan ketat saat menginginkan sesuatu. “Orang tua saya tipe orang yang royal,” lanjutnya, tertawa.
Berkaca pada pengalaman masa kecil ini membuat Nela pun melakukan hal yang sama. “Tidak tega rasanya kalau tidak dikasih,” ungkap Nela. Sebagai orang tua, ia ingin anaknya memiliki kenyamanan hidup minimal sama, bahkan jauh lebih baik dari yang pernah ia rasakan saat masih kanak-kanak dulu. Apakah ini memang kecenderungan dari orang tua milenial, ia tidak berani menyapu rata.
Namun, meski mengaku tidak begitu membatasi keinginan anak, Nela tetap membuka ruang komunikasi dan negosiasi dengan mereka. Di ruang inilah ia bisa memberikan masukan alternatif terhadap pilihan-pilihan anaknya. Misalnya, ketika Naya minta dibelikan squishy seharga Rp300.000-an, Nela tidak menolaknya, tapi membuka negosiasi.
“Saya memberikan alternatif mainan lain yang lebih edukatif dan jangka usia pakainya lebih lama. Kalaupun harganya lebih mahal, tidak apa-apa, selama itu sepadan dengan kualitas dan nilai fungsinya,” ungkap Nela. Rupanya, kehadiran para YouTuber cilik ikut menjadi jendela pamer bagi segala brand aksesori dan permainan anak keluaran terkini. Saat ini putrinya sedang gemar mengikuti YouTuber cilik Zara Cute (jumlah subscriber menembus angka 1.094.486), dan The Rempong HD (jumlah subscriber: 399.110)
yang terdiri atas tiga bocah, yaitu Owen, Ayya, dan Qian. Tiap minggu mereka aktif membuat tantangan dan me-review berbagai mainan baru yang tren untuk anak perempuan atau laki-laki. Dari para YouTuber cilik ini juga anakanaknya mengenal dan paham brand-brand yang sedang tren. Di antaranya, merek peralatan sekolah Smiggle, fashion merek Justice, dan berbagai tren mainan, seperti Shopkins, The Sylvanian Family, Baby Alive, yang rata-rata harganya di atas Rp300.000 hingga di atas Rp1 juta! Dari para YouTuber ini juga putrinya tahu bahwa squishy orisinal adalah yang punya kualitas slow raise, yang kalau ditekan membalnya lambat.
Meski anak-anaknya termasuk yang mudah diajak bernegosiasi dan tidak rewel, ia pernah dibuat kewalahan saat Naya merengek minta dibelikan Melchan doll, boneka elektronik bayi perempuan berbagai seri yang bisa didandani, dan memiliki banyak pernik padu-padan aksesori. Harganya memang cukup fantastis: Rp500.000 lebih hingga di atas Rp1 juta!
“Baru pertama kali itu Naya benar-benar merengek minta dibelikan. Akhirnya kami membelikan juga. Naya juga bisa menerima, kami hanya bisa membelikan versi boneka Melchan yang lebih murah, dari pilihan semulanya yang seharga Rp1,5 juta,” cerita Nela.
Namun begitu, Nela tidak khawatir anaknya berubah konsumtif, sehingga sampai harus membatasi akses menonton YouTuber cilik favorit mereka. Sejak awal saya tidak pernah menanamkan kecintaan atau gengsi terhadap brand tertentu. “Bagi anak-anak saya, beli mainan di Pasar Prumpung atau di mal, bahagianya sama saja,” ungkap Nela.
Terbiasa mendiskusikan permintaan anak, Nela punya jalan untuk mengajak anak merasionalisasi nilai uang. Karena mereka menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuanya bekerja, mereka jadi tahu bahwa uang ini didapat lewat jerih payah perjuangan yang tidak mudah. “Ini yang membuat mereka tidak mudah meminta sesuatu saat ada temantemannya yang memiliki barang tertentu,” ujarnya, senang.
Lagi pula, sebagai milenial sejati yang mengejar experience, Nela lebih suka memanjakan anak-anaknya melalui staycation semalam di hotel saat akhir pekan, atau menjajal berbagai fasilitas. Baru-baru ini ia mengajak anaknya menikmati permainan di taman bermain, seperti Chipmunk dan Lolypop Land.

Anggelina (30), Marketing Asuransi Freelance, Jambi
Ajak Anak Menikmati Hidup
Berkaca pada pengalaman masa kecil ini membuat Nela pun melakukan hal yang sama. “Tidak tega rasanya kalau tidak dikasih,” ungkap Nela. Sebagai orang tua, ia ingin anaknya memiliki kenyamanan hidup minimal sama, bahkan jauh lebih baik dari yang pernah ia rasakan saat masih kanak-kanak dulu. Apakah ini memang kecenderungan dari orang tua milenial, ia tidak berani menyapu rata.
Namun, meski mengaku tidak begitu membatasi keinginan anak, Nela tetap membuka ruang komunikasi dan negosiasi dengan mereka. Di ruang inilah ia bisa memberikan masukan alternatif terhadap pilihan-pilihan anaknya. Misalnya, ketika Naya minta dibelikan squishy seharga Rp300.000-an, Nela tidak menolaknya, tapi membuka negosiasi.
“Saya memberikan alternatif mainan lain yang lebih edukatif dan jangka usia pakainya lebih lama. Kalaupun harganya lebih mahal, tidak apa-apa, selama itu sepadan dengan kualitas dan nilai fungsinya,” ungkap Nela. Rupanya, kehadiran para YouTuber cilik ikut menjadi jendela pamer bagi segala brand aksesori dan permainan anak keluaran terkini. Saat ini putrinya sedang gemar mengikuti YouTuber cilik Zara Cute (jumlah subscriber menembus angka 1.094.486), dan The Rempong HD (jumlah subscriber: 399.110)
yang terdiri atas tiga bocah, yaitu Owen, Ayya, dan Qian. Tiap minggu mereka aktif membuat tantangan dan me-review berbagai mainan baru yang tren untuk anak perempuan atau laki-laki. Dari para YouTuber cilik ini juga anakanaknya mengenal dan paham brand-brand yang sedang tren. Di antaranya, merek peralatan sekolah Smiggle, fashion merek Justice, dan berbagai tren mainan, seperti Shopkins, The Sylvanian Family, Baby Alive, yang rata-rata harganya di atas Rp300.000 hingga di atas Rp1 juta! Dari para YouTuber ini juga putrinya tahu bahwa squishy orisinal adalah yang punya kualitas slow raise, yang kalau ditekan membalnya lambat.
Meski anak-anaknya termasuk yang mudah diajak bernegosiasi dan tidak rewel, ia pernah dibuat kewalahan saat Naya merengek minta dibelikan Melchan doll, boneka elektronik bayi perempuan berbagai seri yang bisa didandani, dan memiliki banyak pernik padu-padan aksesori. Harganya memang cukup fantastis: Rp500.000 lebih hingga di atas Rp1 juta!
“Baru pertama kali itu Naya benar-benar merengek minta dibelikan. Akhirnya kami membelikan juga. Naya juga bisa menerima, kami hanya bisa membelikan versi boneka Melchan yang lebih murah, dari pilihan semulanya yang seharga Rp1,5 juta,” cerita Nela.
Namun begitu, Nela tidak khawatir anaknya berubah konsumtif, sehingga sampai harus membatasi akses menonton YouTuber cilik favorit mereka. Sejak awal saya tidak pernah menanamkan kecintaan atau gengsi terhadap brand tertentu. “Bagi anak-anak saya, beli mainan di Pasar Prumpung atau di mal, bahagianya sama saja,” ungkap Nela.
Terbiasa mendiskusikan permintaan anak, Nela punya jalan untuk mengajak anak merasionalisasi nilai uang. Karena mereka menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuanya bekerja, mereka jadi tahu bahwa uang ini didapat lewat jerih payah perjuangan yang tidak mudah. “Ini yang membuat mereka tidak mudah meminta sesuatu saat ada temantemannya yang memiliki barang tertentu,” ujarnya, senang.
Lagi pula, sebagai milenial sejati yang mengejar experience, Nela lebih suka memanjakan anak-anaknya melalui staycation semalam di hotel saat akhir pekan, atau menjajal berbagai fasilitas. Baru-baru ini ia mengajak anaknya menikmati permainan di taman bermain, seperti Chipmunk dan Lolypop Land.

Anggelina (30), Marketing Asuransi Freelance, Jambi
Ajak Anak Menikmati Hidup
Kesukaran-kesukaran hidup yang dialami Angel di masa kecil diakuinya memengaruhi perkembangan karakternya. Sejak ia masih berusia 2 tahun, sang ibu harus banting tulang untuk mencari nafkah karena telah berpisah dari ayahnya.
“Berdua adik, kami harus mandiri karena Ibu tidak ada di rumah. Jadi, kami harus bisa mengurus kebutuhan kami sendiri ejak usia kanak-kanak,” kisahnya.
Mulai dari bangun pagi, masak, hingga menyiapkan kebutuhan sekolah adiknya menjadi tugas sehari-hari Angel. Karena, sehari-harinya sang ibu sudah pergi meninggalkan rumah sejak pagi untuk berjualan baju dan baru kembali saat matahari tenggelam.
Sedikit banyak, pengalaman yang membentuk jati dirinya ini memengaruhi gaya pola asuhnya terhadap kedua anaknya, William (7) dan Maximillian (4). “Kemandirian menjadi satu hal penting yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak. Misalnya saja, untuk urusan sekolah, ada PR atau ujian, anak-anak sudah tidak perlu lagi disuruh-suruh belajar. Semua sudah mengerti tanggung jawab masing-masing. Paling saya tinggal cek dan tanda tangan saja,” kata Angel.
Pernah merasakan kesulitan ekonomi saat masih kecil membuat Angel terdorong untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya. “Ada pasti rasa ingin memberikan sesuatu yang dulu tidak bisa saya nikmati di masa kecil,” akunya, dengan nada getir.
Salah satu cara untuk memanjakan anakanaknya adalah dengan kerap mengajak mereka liburan, atau menghabiskan waktu di akhir pekan.
“Saya bilang sama anak-anak, kalau akhir pekan itu enggak perlu belajar. Nikmati saja hidup ini, nonton, baca buku, makan-makan atau jalan-jalan. Yang penting harus bisa bersenang-senang juga dan ada waktu dengan keluarga,” katanya.
Sebagai orang tua yang datang dari generasi milenial, Angel memilih menghabiskan uangnya untuk membeli pengalaman. Salah satu hobi yang kerap dilakukannya bersama keluarga adalah traveling ke luar negeri. Dua kali dalam setahun ia rutin mengajak pesiar anak-anaknya saat libur sekolah, selain satu kali liburan bersama suami saat anniversary pernikahan.
Negara Singapura, Malaysia, dan Thailand pernah mereka jelajahi bersama dengan bujet tertinggi sampai Rp25 juta saat keliling Thailand selama 16 hari. “Orang banyak bilang ngapain traveling buang-buang uang saja, mendingan uangnya buat ganti kendaraan baru atau apalah.
Tapi, bagi saya mumpung masih kuat dan sehat, hidup itu harus bisa dinikmati. Yang penting sudah punya rumah dan kendaraan,” ungkapnya.
Meski agak longgar untuk menyisihkan bujet berlibur, Angel agak hati-hati untuk tidak selalu menuruti keinginan anak-anaknya dalam membeli mainan. “Saya ingin menyenangkan mereka, tetapi tidak ingin kebablasan juga membuat mereka manja,” cetusnya. Alih-alih menuruti semua permintaan anak-anaknya, Angel menerapkan aturan yang tegas untuk anak-anaknya. Misalnya saja, ketika mereka minta dibelikan robot-robotan, mobil-mobilan, atau figurine superhero Angel akan mengajak dulu anak-anaknya diskusi apakah mainan itu benar-benar memberikan manfaat.
“Selain mengajarkan mereka untuk menghargai nilai uang, saya juga membiasakan mereka berjuang dulu untuk mendapatkan apa yang mereka mau,” ujarnya. Salah satu contoh, Angel selalu memberikan reward kepada anak-anak untuk prestasi akademis yang mereka peroleh.
“Tiap kali mendapatkan nilai 100 untuk PR yang mereka kerjakan, saya berikan Rp2.000 untuk ditabung. Kalau nilai ujian bisa mendapatkan nilai 100, artinya mereka mendapatkan Rp10.000,” jelas Angel.
Dengan cara itu, ia bisa sekaligus memacu anak-anak rajin belajar dan membuat PR dengan hati-hati. “Nanti, kalau uang tabungannya sudah cukup, baru mereka bisa membeli mainan yang mereka idam-idamkan,” katanya, sambil tersenyum.
“Berdua adik, kami harus mandiri karena Ibu tidak ada di rumah. Jadi, kami harus bisa mengurus kebutuhan kami sendiri ejak usia kanak-kanak,” kisahnya.
Mulai dari bangun pagi, masak, hingga menyiapkan kebutuhan sekolah adiknya menjadi tugas sehari-hari Angel. Karena, sehari-harinya sang ibu sudah pergi meninggalkan rumah sejak pagi untuk berjualan baju dan baru kembali saat matahari tenggelam.
Sedikit banyak, pengalaman yang membentuk jati dirinya ini memengaruhi gaya pola asuhnya terhadap kedua anaknya, William (7) dan Maximillian (4). “Kemandirian menjadi satu hal penting yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak. Misalnya saja, untuk urusan sekolah, ada PR atau ujian, anak-anak sudah tidak perlu lagi disuruh-suruh belajar. Semua sudah mengerti tanggung jawab masing-masing. Paling saya tinggal cek dan tanda tangan saja,” kata Angel.
Pernah merasakan kesulitan ekonomi saat masih kecil membuat Angel terdorong untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya. “Ada pasti rasa ingin memberikan sesuatu yang dulu tidak bisa saya nikmati di masa kecil,” akunya, dengan nada getir.
Salah satu cara untuk memanjakan anakanaknya adalah dengan kerap mengajak mereka liburan, atau menghabiskan waktu di akhir pekan.
“Saya bilang sama anak-anak, kalau akhir pekan itu enggak perlu belajar. Nikmati saja hidup ini, nonton, baca buku, makan-makan atau jalan-jalan. Yang penting harus bisa bersenang-senang juga dan ada waktu dengan keluarga,” katanya.
Sebagai orang tua yang datang dari generasi milenial, Angel memilih menghabiskan uangnya untuk membeli pengalaman. Salah satu hobi yang kerap dilakukannya bersama keluarga adalah traveling ke luar negeri. Dua kali dalam setahun ia rutin mengajak pesiar anak-anaknya saat libur sekolah, selain satu kali liburan bersama suami saat anniversary pernikahan.
Negara Singapura, Malaysia, dan Thailand pernah mereka jelajahi bersama dengan bujet tertinggi sampai Rp25 juta saat keliling Thailand selama 16 hari. “Orang banyak bilang ngapain traveling buang-buang uang saja, mendingan uangnya buat ganti kendaraan baru atau apalah.
Tapi, bagi saya mumpung masih kuat dan sehat, hidup itu harus bisa dinikmati. Yang penting sudah punya rumah dan kendaraan,” ungkapnya.
Meski agak longgar untuk menyisihkan bujet berlibur, Angel agak hati-hati untuk tidak selalu menuruti keinginan anak-anaknya dalam membeli mainan. “Saya ingin menyenangkan mereka, tetapi tidak ingin kebablasan juga membuat mereka manja,” cetusnya. Alih-alih menuruti semua permintaan anak-anaknya, Angel menerapkan aturan yang tegas untuk anak-anaknya. Misalnya saja, ketika mereka minta dibelikan robot-robotan, mobil-mobilan, atau figurine superhero Angel akan mengajak dulu anak-anaknya diskusi apakah mainan itu benar-benar memberikan manfaat.
“Selain mengajarkan mereka untuk menghargai nilai uang, saya juga membiasakan mereka berjuang dulu untuk mendapatkan apa yang mereka mau,” ujarnya. Salah satu contoh, Angel selalu memberikan reward kepada anak-anak untuk prestasi akademis yang mereka peroleh.
“Tiap kali mendapatkan nilai 100 untuk PR yang mereka kerjakan, saya berikan Rp2.000 untuk ditabung. Kalau nilai ujian bisa mendapatkan nilai 100, artinya mereka mendapatkan Rp10.000,” jelas Angel.
Dengan cara itu, ia bisa sekaligus memacu anak-anak rajin belajar dan membuat PR dengan hati-hati. “Nanti, kalau uang tabungannya sudah cukup, baru mereka bisa membeli mainan yang mereka idam-idamkan,” katanya, sambil tersenyum.

Amithya Ratnanggani Sirraduhita (34), Ibu Rumah Tangga, Jakarta
Jorjoran Belanja Pendidikan Anak
Dibandingkan pengeluaran lainnya, belanja untuk pendidikan anak mengambil porsi yang lebih besar bagi Amithya. Alasannya, ia ingin memastikan ketiga anaknya: Abbey (15), Marsha (11), dan Ceira (6) mendapatkan kenyamanan dan keamanan.
“Saya menginginkan sekolah yang tidak memberikan tekanan atau beban terlalu besar untuk anak, di mana anak mendapatkan beban pendidikan sesuai usianya. Saya tidak keberatan keluar uang besar untuk mendapatkannya,” kata Amithya.
Di era seperti sekarang, orang tua milenial memang punya banyak pilihan sekolah. “Salah satu yang saya cari saat memilih sekolah, selain kegiatan ekstrakurikuler, adalah adanya pendidikan intrakurikuler yang mengasah kecerdasan emosional anak, kepercayaan diri, dan mengasah jiwa kepemimpinan anak,” ungkap Amithya.
Total tiap bulannya Amithya merogoh kocek minimal Rp25 juta untuk biaya sekolah di sekolah nasional plus dan kursus tambahan seperti seni dan pelajaran untuk ketiga anaknya. “Belanja pendidikan ini jadi lebih tinggi karena Abbey adalah penyandang autisme, yang membutuhkan terapi tambahan, dan totalnya bisa mencapai Rp12 juta per bulan,” terang Amithya.
Meskipun putra sulungnya berkebutuhan khusus, Amithya tidak memberikan perlakuan yang khusus dalam arti lebih memanjakannya ketimbang anak-anaknya yang lain. “Apalagi mereka juga sudah besar semua. Paling saya pernah memberikan Marsha gadget sejak usia 9 tahun. Tapi, itu pun ia mendapatkannya atas jerih payahnya mengumpulkan nilai-nilai sekolah di atas 8. Cuma karena kesalahan saya yang lupa password yang saya setting untuk proteksi keamanan, terpaksa saya membelikannya lagi HP baru, iPhone-7, yang masih ia gunakan sampai sekarang,” ceritanya.
Amithya menganggap, memberikan gadget untuk Marsha bukanlah bentuk memanjakan, tetapi memang karena kebutuhan, untuk komunikasi dan mendapatkan informasi-informasi untuk tugas sekolahnya. Walau merasa masih berlaku wajar, Amithya mengakui ia sering ‘lemah hati’ ketika si bungsu merengek minta dibelikan sesuatu.
“Ini akibat pengaruh dari influencer di YouTube yang sering ia tonton. Hampir tiap minggu ia minta dibelikan mainan yang sedang viral dibicarakan di YouTube. Dan, sayangnya, saya suka enggak tega untuk tidak membelikannya. Apalagi kalau melihat sorot matanya yang penuh harap tiap kali minta dibelikan,” imbuh Amithya.
Akhirnya Amithya mencoba bernegosiasi dengan putri bungsunya itu. “Saat ini saya batasi, harga mainan yang akan saya setuju untuk dibeli itu hanya di bawah Rp500.000, atau bahkan tidak boleh lebih mahal dari Rp200.000,” kata Amithya.
Amithya mengaku, ia juga menjadi makin lemah hati terhadap si bungsu kalau dalam seharian itu dia bisa menjaga sikap. “Mandi sesuai jadwal, tidak rewel atau pilih-pilih makanan di rumah, dan membereskan seluruh mainannya setelah bermain. Jadi, membelikan mainan ini akhirnya menjadi bentuk reward bagi Ceira,” ungkap Amithya.
“Saya tahu alasan ini tidak pas, karena sebenarnya, bukannya membelikan barang seperti mainan, saya bisa saja memberikan pengalaman, seperti membawanya ke taman bermain yang lebih bersifat edukatif,” pungkasnya, sambil menghela napas. (f)
“Saya menginginkan sekolah yang tidak memberikan tekanan atau beban terlalu besar untuk anak, di mana anak mendapatkan beban pendidikan sesuai usianya. Saya tidak keberatan keluar uang besar untuk mendapatkannya,” kata Amithya.
Di era seperti sekarang, orang tua milenial memang punya banyak pilihan sekolah. “Salah satu yang saya cari saat memilih sekolah, selain kegiatan ekstrakurikuler, adalah adanya pendidikan intrakurikuler yang mengasah kecerdasan emosional anak, kepercayaan diri, dan mengasah jiwa kepemimpinan anak,” ungkap Amithya.
Total tiap bulannya Amithya merogoh kocek minimal Rp25 juta untuk biaya sekolah di sekolah nasional plus dan kursus tambahan seperti seni dan pelajaran untuk ketiga anaknya. “Belanja pendidikan ini jadi lebih tinggi karena Abbey adalah penyandang autisme, yang membutuhkan terapi tambahan, dan totalnya bisa mencapai Rp12 juta per bulan,” terang Amithya.
Meskipun putra sulungnya berkebutuhan khusus, Amithya tidak memberikan perlakuan yang khusus dalam arti lebih memanjakannya ketimbang anak-anaknya yang lain. “Apalagi mereka juga sudah besar semua. Paling saya pernah memberikan Marsha gadget sejak usia 9 tahun. Tapi, itu pun ia mendapatkannya atas jerih payahnya mengumpulkan nilai-nilai sekolah di atas 8. Cuma karena kesalahan saya yang lupa password yang saya setting untuk proteksi keamanan, terpaksa saya membelikannya lagi HP baru, iPhone-7, yang masih ia gunakan sampai sekarang,” ceritanya.
Amithya menganggap, memberikan gadget untuk Marsha bukanlah bentuk memanjakan, tetapi memang karena kebutuhan, untuk komunikasi dan mendapatkan informasi-informasi untuk tugas sekolahnya. Walau merasa masih berlaku wajar, Amithya mengakui ia sering ‘lemah hati’ ketika si bungsu merengek minta dibelikan sesuatu.
“Ini akibat pengaruh dari influencer di YouTube yang sering ia tonton. Hampir tiap minggu ia minta dibelikan mainan yang sedang viral dibicarakan di YouTube. Dan, sayangnya, saya suka enggak tega untuk tidak membelikannya. Apalagi kalau melihat sorot matanya yang penuh harap tiap kali minta dibelikan,” imbuh Amithya.
Akhirnya Amithya mencoba bernegosiasi dengan putri bungsunya itu. “Saat ini saya batasi, harga mainan yang akan saya setuju untuk dibeli itu hanya di bawah Rp500.000, atau bahkan tidak boleh lebih mahal dari Rp200.000,” kata Amithya.
Amithya mengaku, ia juga menjadi makin lemah hati terhadap si bungsu kalau dalam seharian itu dia bisa menjaga sikap. “Mandi sesuai jadwal, tidak rewel atau pilih-pilih makanan di rumah, dan membereskan seluruh mainannya setelah bermain. Jadi, membelikan mainan ini akhirnya menjadi bentuk reward bagi Ceira,” ungkap Amithya.
“Saya tahu alasan ini tidak pas, karena sebenarnya, bukannya membelikan barang seperti mainan, saya bisa saja memberikan pengalaman, seperti membawanya ke taman bermain yang lebih bersifat edukatif,” pungkasnya, sambil menghela napas. (f)
Reynett Fausto & Naomi Jayalaksana
Baca Juga:
Curhat dan Tip Yang Bisa Anda Contoh Untuk Mencegah Anak Kecanduan Gadget
Benarkah Generasi Z Adalah Generasi Kesepian?
Gaya Nola B3 Mengurus Naura, Anak Pertamanya Yang Juga Jadi Penyanyi