
Dok. Pexels
Sejak tahun 1960, Amerika Serikat mencatat bahwa tingkat bunuh diri pada orang usia 5 hingga 24 tahun meningkat tiga kali lipat. Bahkan menjadi penyebab kematian ketiga terbesar pada remaja. Survei di Indonesia sendiri pada akhir tahun 2015 menunjukkan sekitar 18,6 % remaja ibu kota mempunyai ide untuk mengakhiri hidupnya.
Sedangkan data dari Kementerian Kesehatan 2015 dari hasil survei dengan menggunakan metode GSHS (Global School Health Survey) menyebutkan, pelajar perempuan lebih kesepian daripada pelajar laki-laki. Pelajar perempuan juga lebih cemas daripada laki-laki. Bahkan ide bunuh diri pada pelajar perempuan berada di angka 6.5% lebih tinggi dari pelajar laki-laki, sekitar 4.5%.
Sedangkan data dari Kementerian Kesehatan 2015 dari hasil survei dengan menggunakan metode GSHS (Global School Health Survey) menyebutkan, pelajar perempuan lebih kesepian daripada pelajar laki-laki. Pelajar perempuan juga lebih cemas daripada laki-laki. Bahkan ide bunuh diri pada pelajar perempuan berada di angka 6.5% lebih tinggi dari pelajar laki-laki, sekitar 4.5%.
Menurut dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ, yang disampaikan dalam masterclass Parenting 4.0 di Indonesian Women’s Forum 2018, faktor-faktor psikososial seperti tingkat pendidikan, urbanisasi, akses pelayanan kesehatan primer, serta minimnya pemahaman keluarga tentang kesehatan jiwa dapat memicu problem emosional dan perilaku remaja urban.
“Tidak setiap bunuh diri disebabkan oleh gangguan jiwa. Namun, menurut data WHO 2014, 80-90% remaja yang meninggal karena bunuh diri mempunyai psikopatologi signifikan seperti problem mood, problem kecemasan, problem perilaku, dan penyalahgunaan narkotika,” jelasnya.
Semakin rentannya anak dan remaja mengalami depresi, orang tua masa kini perlu memiliki pengetahuan yang cukup tentang apa itu depresi dan gejala-gejala yang mungkin timbul pada anak-anak. Orang tua wajib memperhatikan kondisi fisik dan mental anak, serta mengamatinya dari waktu ke waktu.
Dikutip dari buku Mayo Clinic Family Health Book: Panduan Kesehatan keluarga 2 (Intisari), daftar periksa berikut ini dapat membantu Anda memperoleh informasi tentang perasaan, pikiran, masalah fisik dan perilaku anak, serta risiko bunuh diri. Semakin dini Anda mengetahui tanda-tanda pada anak, semakin besar kemungkinan anak keluar dari depresi dan terhindar pada risiko bunuh diri.

Dok: Pexels
# Perasaan
Apakah anak Anda menunjukkan:
- Kesedihan
- Kehampaan
- Tidak punya harapan
- Rasa bersalah
- Merasa tidak berharga
- Kurang menikmati kegembiraan sehari-hari
# Pikiran
Apakah anak Anda memiliki masalah dalam hal:
- Berkonsentrasi
- Mengambil keputusan
- Menyelesaikan tugas sekolah
- Mempertahankan nilai
- Mempertahankan pertemanan
# Masalah Fisik
Apakah anak Anda mengeluhkan soal
- Sakit kepala
- Sakit perut
- Tidak bertenaga
- Masalah tidur – terlalu banyak atau kurang
- Perubahan berat badan atau nafsu makan – bertambah atau berkurang
# Masalah Perilaku
Apakah anak Anda:
- Mudah marah
- Tidak mau bersekolah
- Ingin menyendiri hamper sepanjang waktu
- Kesulitan bergaul dengan orang lain
- Meninggalkan kelas atau bolos sekolah
- Menghentikan kegiatan olahraga, hobi, atau kegiatan lain
- Minum minuman beralkohol atau menggunakan obat terlarang.
# Risiko Bunuh Diri
Apakah anak Anda pernah menyinggung atau berpikir soal:
- Bunuh diri
- Kematian
- Hal-hal yang tidak wajar lainnya
Bila anak memperlihatkan lima atau lebih dari tanda dan gejala di atas setidaknya selama dua minggu, ada kemungkinan ia mengalami depresi atau sakit mental lainnya. Catatlah berapa lama tanda dan gejala berlangsung, berapa seringnya muncul, dan berikan contoh. Informasi tersebut akan berguna bagi dokter atau terapis untuk lebih memahami keadaan emosinya. (f)
Baca Juga:
Ini Yang Perlu Dilakukan Untuk Mencegah Remaja Bunuh Diri
Demi Lovato: Saya Hidup dengan Gangguan Kesehatan Jiwa
Dorongan Untuk Sempurna Memicu Depresi Pada Remaja, 4 Hal Ini Perlu Jadi Perhatian Orang Tua dan Pendidik