
Foto: Pexels
Menjadi generasi sandwich, orang dewasa yang harus menanggung hidup orang tua sekaligus anak-anaknya memang penuh tantangan. Generasi ini dianggap terhimpit dalam berbagai problematika. Selain harus menanggung beban finansial, generasi ini harus pandai mengelola konflik yang berpotensi terjadi dalam keluarga.
Namun nyatanya menjadi generasi sandwich bukanlah hal yang negatif. Itulah yang dialami oleh Sielly, Moza Pramita, dan Nilvia Hakim. Mereka tak menganggap tanggung jawab terhadap keluarga sebagai beban. Justru keberadaan orang tua merupakan sebuah support system asalkan bisa menjalin komunikasi yang baik. Inilah pengalaman mereka.

Foto: dok. Pribadi
Sielly (37), Desainer Grafis, JakartaTak Jadi Beban
Sejak menikah delapan tahun lalu, keluarga saya memang tinggal serumah bersama dengan bapak mertua. Sementara ibu mertua saya sudah meninggal sebelum kami menikah. Posisi suami sebagai anak tunggal mengharuskan kami untuk bertanggung jawab penuh dalam mengurus orang tua. Bagi saya ini bukan beban, tapi memang sewajarnya demikian.
Sejauh ini belum ada masalah serius yang terjadi. Sebab bapak mertua tidak terlalu campur tangan dengan urusan rumah tangga saya dan suami, termasuk dalam hal mengasuh anak. Tak pernah juga ia complaint tentang makanan yang kami masak di rumah. Beberapa keluarga dekat pun masih kerap datang ke rumah memberikannya obat atau vitamin.
Walau saat ini kondisi bapak mertua kurang fit dan harus pakai kursi roda karena faktor penyakit dan usia sudah 75 tahun, dengan adanya bapak mertua di rumah, saya dan suami terbantu untuk ikut mengawasi anak-anak di rumah bila kami sibuk bekerja. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, ada suster yang kami percayakan untuk mengurus.
Bagi saya sebagai menantu, rasa kepedulian dan tanggung jawab kepada mertua itu harus ada. Walau, ada juga beberapa orang tua yang tidak ingin menjadi beban bagi anak-anak mereka. Sebagai anak, kita tidak boleh alergi pada orang tua.
Prinsip saya, sesibuk apapun kita bekerja, harus ‘dipaksa’ untuk mengurus orang tua dan mertua. Setiap kali saya ke pasar saat akhir pekan, saya akan tanyakan kepada bapak mertua mau dibelikan apa. Dengan demikian ia merasa lebih diperhatikan dan menumbuhkan semangat.
Baca Selanjutnya: Moza Pramita (44), Pengusaha dan Konsultan Agency, Jakarta

Foto: dok. Pribadi
Moza Pramita (44), Pengusaha dan Konsultan Agency, Jakarta
Bersyukur Tinggal Bersama Orang Tua
Setelah menikah pada tahun 1999, saya dan suami memilih tinggal di apartemen selama 4,5 tahun. Selama itu, ketika anak pertama sudah lahir pada tahun 2004, secara bergantian setiap weekend kami berkunjung ke rumah mertua dan ke rumah orang tua saya.
Tahun 2015, kami jual rumah yang kami tempati di daerah Kuningan, Jakarta Selatan dengan rencana akan membangun rumah di tempat lain. Tapi, karena satu dan lain hal, rencana itu kami urungkan. Kami memilih tinggal bersama orang tua saya. Namun, pasca meninggalnya bapak mertua pada September 2019, saya, suami, dan kedua anak pindah dan tinggal bersama dengan ibu mertua.
Tinggal bersama mertua sama sekali tidak menjadi beban bagi saya. Kadang saya menjadi pengawas bagi orang tua dan mertua, hingga membantu mereka dalam penggunaan teknologi. Saya juga kerap meluruskan informasi keliru yang mereka dapatkan dari grup-grup whatsapp. Saya sendiri yang merawat mertua tanpa bantuan suster. Kadang-kadang, saya berbagi peran dengan ipar bila saya berkunjung ke rumah orang tua saya.
Bicara soal pola asuh anak, kecenderungan untuk memanjakan anak sebenarnya datang dari kedua belah pihak orang tua. Sebab anak pertama saya merupakan cucu pertama bagi orang tua dan juga mertua. Untungnya untuk hal ini, saya dan suami sejalan, kami sama-sama tegas bahwa anak tidak boleh untuk selalu dimanjakan.
Bahkan dalam hal pola makan anak-anak, saya angat berperan penuh. Memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak sudah memenuhi gizi seimbang. Kedua anak saya bahkan sudah tahu mana makanan yang diberikan oleh orang tua yang boleh dimakan atau tidak.
Baca Selanjutnya: Nilvia Hakim (38), Paralegal, Tangerang

Foto: Dok. Pribadi
Nilvia Hakim (38), Paralegal, Tangerang
Berusaha Memutus Rantai Sandwich Generation
Saya tidak bangga maupun terpaksa mengakui diri sebagai "Generasi Roti Lapis" atau mungkin lebih familiar dengan sandwich generation. Saya menikah di usia yang cukup matang, yaitu 36 tahun. Tapi harus saya akui keadaan saya pun sudah cukup mapan dari kaca mata saya sebagai anak sulung dari tiga bersaudara.
Orang tua saya adalah wiraswasta yang bergerak di bidang usaha sewa-menyewa kendaraan pribadi. Pernah mencapai puncak kejayaan bisnis di tahun 90an, hingga krisis moneter 1998 memukul habis usaha mereka dan mereka tidak siap karena tidak memiliki perencanaan keuangan dan pensiun yang baik. Sehingga saat ini, ketika ayah memasuki usia 70an dan ibu 60an, mereka nyaris tak mendapatkan sisa kejayaan dari bisnis yang mereka jalankan lebih dari tiga dekade lalu.
Satu hal yang patut saya syukuri, mereka berhasil mendidik ketiga putri mereka sampai jenjang pendidikan strata satu dan bersaing di dunia kerja yang semakin dinamis. Jadi, sejak mulai bekerja, saya sudah membantu perekonomian keluarga dengan mencicil hutang orang tua, membantu biaya pernikahan adik kedua, dan berhasil menjadikan adik bungsu saya sebagai dokter, serta membiayai pernikahan saya sendiri.
Walau saya tidak lagi tinggal serumah dengan orang tua, tapi sampai hari ini ketika saya telah berumah tangga, saya masih tetap membantu kehidupan orang tua. Meskipun sekarang beban pengeluaran itu sudah tak sebanyak dulu ketika saya masih lajang, dan karena kini prioritas kebutuhan bertambah dan berubah seiring kehidupan saya yang baru.
Dengan pengalaman tersebut, saya berusaha memutus mata rantai sandwich generation ini cukup sampai di saya dan suami saja. Meski belum dikarunia anak, saya dan suami telah melakukan langkah antisipasi yaitu menata keuangan dengan baik antara penghasilan, pengeluaran rumah tangga dan kebutuhan orang tua, mertua dan beberapa sanak saudara; melakukan investasi mulai dari tabungan konvensional, reksadana, dan properti (rumah dan tanah); memiliki proteksi diri mulai dari asuransi (kesehatan dan jiwa) yang disediakan kantor, investasi berbasis unit-link, hingga jaminan hari tua dari BPJS Ketenagakerjaan.
Kami juga mengelola dan meminimalisir setiap hutang yang dimiliki baik jangka pendek (misal kartu kredit), jangka menengah (misal cicilan mobil) hingga jangka panjang (misal KPR rumah kami saat ini). Saya dan pasangan memiliki konsep yang sama tentang hidup sederhana dan minimalis, serta berusaha menjaga kesehatan. (f)
BACA JUGA:
Budaya dan Minimnya Persiapan Hari Tua Dorong Tumbuhnya Generasi Sandwich
Tip Efektif Melakukan Video Call untuk Silaturahmi Virtual
Ini Hal yang Tidak Cukup Diajarkan pada Anak-Anak Zaman Sekarang