
Foto: Shutterstock
Survei Nielsen 11 kota besar di Indonesia (2017) menemukan 24% gen Z anak-anak (usia 10-14 tahun) sudah memiliki ponsel pintar. Sebanyak 58% gen Z remaja (15-19 tahun) telah memiliki ponsel pintar. Sebanyak 75% gen Z remaja mengakses internet rata-rata 2,5 jam per hari atau lebih lama satu jam dibandingkan gen Z anak-anak. Sebanyak 47% gen Z remaja mengakses internet rata-rata 1,5 jam per hari atau lebih lama satu jam dibandingkan gen Z anak-anak.
Masalahnya, kelekatan dengan ponsel juga bisa membawa masalah. Simak curhat para ibu berikut ini dan tip dari pengajar yang bisa Anda jadikan contoh.
Vaniza Andhika Dewi, 36, Facility Manager, Depok
Mengubah Kebiasaan Sebelum Terlambat
Sebagai wanita bekerja, pergi pagi pulang malam sudah menjadi rutinitas, terutama saat Ila (10) masih balita, ketika saya membangun karier. Hingga suatu hari saya merasa anak-saya mulai menjauh dari saya. Tiap didekati dan mengajaknya ngobrol, ia malah lari menjauh. Seperti asing dengan ibunya sendiri.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketergantungannya pada gadget. Karena anak tunggal dan di rumah tidak ada teman bermain, saya memberinya ponsel untuk hiburan. Tapi, lama-kelamaan saya melihat ada perubahan pada perilakunya. Dari siang sampai malam, Ila tidak bisa berpisah dari ponselnya. Bangun tidur langsung mencari ponselnya. Kalau sudah main game, jangankan bisa diajak bicara, dipanggil namanya pun ia tidak akan mau menoleh.
Ila makin tenggelam dengan ‘dunianya’ sendiri dan terkesan tidak berminat untuk berinteraksi dengan orang lain. Sedih rasanya melihat Ila seperti itu. Apalagi ia juga sering menyatakan bahwa ia merasa kesepian. Saya berusaha memutuskan ikatan kecanduan Ila dengan membatasi pemakaian ponsel. Ila hanya boleh bermain dengan ponselnya selama 1 jam per hari, itu pun setelah ia selesai mengerjakan PR-nya di malam hari.
Ponsel tidak lagi digunakan untuk bermain game saat saya sedang bekerja, tapi hanya boleh digunakan untuk menelepon atau video call saya saat Ila sedang kangen. Handphone juga dipegang oleh neneknya supaya bisa terkontrol.
Demi bisa mengisi kesepian Ila, saya juga berusaha mengurangi kesibukan bekerja. Tiap kali ada tugas ke luar kota, sebisa mungkin saya bawa Ila. Saya juga memberinya pengertian bahwa saya bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhannya, bukan karena saya ingin meninggalkan, apalagi mengabaikannya.
Seiring waktu, Ila sudah tidak lagi kecanduan gadget dan ia jadi lebih mau berinteraksi dengan orang lain. Meski sibuk, saya berusaha menjaga komunikasi kapan pun ada kesempatan. Saya memperlakukannya seperti sahabat, sehingga Ila juga nyaman untuk bercerita apa pun, mulai dari soal tugas-tugas sekolah hingga masalah cowok.
Yuanita, 35, Musikus, Bekasi Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketergantungannya pada gadget. Karena anak tunggal dan di rumah tidak ada teman bermain, saya memberinya ponsel untuk hiburan. Tapi, lama-kelamaan saya melihat ada perubahan pada perilakunya. Dari siang sampai malam, Ila tidak bisa berpisah dari ponselnya. Bangun tidur langsung mencari ponselnya. Kalau sudah main game, jangankan bisa diajak bicara, dipanggil namanya pun ia tidak akan mau menoleh.
Ila makin tenggelam dengan ‘dunianya’ sendiri dan terkesan tidak berminat untuk berinteraksi dengan orang lain. Sedih rasanya melihat Ila seperti itu. Apalagi ia juga sering menyatakan bahwa ia merasa kesepian. Saya berusaha memutuskan ikatan kecanduan Ila dengan membatasi pemakaian ponsel. Ila hanya boleh bermain dengan ponselnya selama 1 jam per hari, itu pun setelah ia selesai mengerjakan PR-nya di malam hari.
Ponsel tidak lagi digunakan untuk bermain game saat saya sedang bekerja, tapi hanya boleh digunakan untuk menelepon atau video call saya saat Ila sedang kangen. Handphone juga dipegang oleh neneknya supaya bisa terkontrol.
Demi bisa mengisi kesepian Ila, saya juga berusaha mengurangi kesibukan bekerja. Tiap kali ada tugas ke luar kota, sebisa mungkin saya bawa Ila. Saya juga memberinya pengertian bahwa saya bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhannya, bukan karena saya ingin meninggalkan, apalagi mengabaikannya.
Seiring waktu, Ila sudah tidak lagi kecanduan gadget dan ia jadi lebih mau berinteraksi dengan orang lain. Meski sibuk, saya berusaha menjaga komunikasi kapan pun ada kesempatan. Saya memperlakukannya seperti sahabat, sehingga Ila juga nyaman untuk bercerita apa pun, mulai dari soal tugas-tugas sekolah hingga masalah cowok.
Anak Jadi Suka Menyendiri
Saya memiliki tiga anak: Kevi (12), Nina (6), dan Zavi (5). Saya bisa mengamati perbedaan perilaku dari mereka. Terutama untuk Kevi sebagai anak dari generasi Z. Saat kecil, Kevi adalah anak yang cerewet dan periang. Namun, sejak duduk di kelas 3 SD, atau kira-kira usia 9 tahun, perilakunya mulai berubah.
Kalau diingat-ingat, saat itu ia sudah mulai mengenal gadget. Perlahan tapi pasti, Kevi mulai menarik diri dan perilakunya berubah menjadi suka menyendiri. Selain sangat suka main game, Kevi yang kini sudah duduk di bangku SMP memang membutuhkan sekali ponsel untuk alat komunikasi dengan teman-teman sebayanya. Terus-terang, saya agak khawatir, karena Kevi bisa dibilang tidak mau mengobrol sama sekali.
Ia jadi pendiam dan menarik diri. Selalu saja mengurung diri untuk main game tiap hari. Sebagai generasi Z yang digital native, tidak terelakkan untuk bergantung pada perangkat teknologi digital. Bahkan, hingga saat ini bisa dibilang sulit untuk melepaskan ketergantungannya dengan ponsel. Ketika saya ingin menyita ponselnya, ia membutuhkannya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.
Saya penasaran, takut kalau kebablasan dalam mengawasi anak. Akhirnya saya minta password akun Line-nya untuk mengecek isi percakapannya dengan temantemannya. Saya juga follow Instagram-nya. Sejauh ini untungnya tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Meski demikian, saya tetapkan aturan bahwa pemakaian ponsel hanya boleh sampai jam 8 malam.
Saya perhatikan Kevi bukanlah anak yang suka eksis di dunia media sosial. Saking pendiamnya, saya juga enggak percaya kalau ia bisa dekat dengan lawan jenis. Saya sempat curhat kepada teman-teman saya mengenai kondisi perubahan perilaku Revi. Apakah memang perilaku remaja seperti ini ataukah ada hal lain yang menyebabkan ia berubah menjadi pendiam.
Tak ingin kedua adiknya berubah perilaku seperti Kevi, saya tegas menerapkan aturan diet gadget. Sebaliknya, saya lebih banyak membelikan mereka mainan seperti LOL, boneka, atau hot wheels agar mereka bisa bermain secara sehat yang melatih motorik kasarnya.
Kalau diingat-ingat, saat itu ia sudah mulai mengenal gadget. Perlahan tapi pasti, Kevi mulai menarik diri dan perilakunya berubah menjadi suka menyendiri. Selain sangat suka main game, Kevi yang kini sudah duduk di bangku SMP memang membutuhkan sekali ponsel untuk alat komunikasi dengan teman-teman sebayanya. Terus-terang, saya agak khawatir, karena Kevi bisa dibilang tidak mau mengobrol sama sekali.
Ia jadi pendiam dan menarik diri. Selalu saja mengurung diri untuk main game tiap hari. Sebagai generasi Z yang digital native, tidak terelakkan untuk bergantung pada perangkat teknologi digital. Bahkan, hingga saat ini bisa dibilang sulit untuk melepaskan ketergantungannya dengan ponsel. Ketika saya ingin menyita ponselnya, ia membutuhkannya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.
Saya penasaran, takut kalau kebablasan dalam mengawasi anak. Akhirnya saya minta password akun Line-nya untuk mengecek isi percakapannya dengan temantemannya. Saya juga follow Instagram-nya. Sejauh ini untungnya tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Meski demikian, saya tetapkan aturan bahwa pemakaian ponsel hanya boleh sampai jam 8 malam.
Saya perhatikan Kevi bukanlah anak yang suka eksis di dunia media sosial. Saking pendiamnya, saya juga enggak percaya kalau ia bisa dekat dengan lawan jenis. Saya sempat curhat kepada teman-teman saya mengenai kondisi perubahan perilaku Revi. Apakah memang perilaku remaja seperti ini ataukah ada hal lain yang menyebabkan ia berubah menjadi pendiam.
Tak ingin kedua adiknya berubah perilaku seperti Kevi, saya tegas menerapkan aturan diet gadget. Sebaliknya, saya lebih banyak membelikan mereka mainan seperti LOL, boneka, atau hot wheels agar mereka bisa bermain secara sehat yang melatih motorik kasarnya.
Rymenda Raskarina, Guru dan Kepala Sekolah di Anderson School, Tangerang Selatan
Banyak OrangTua Tak Tahu Anaknya Bermasalah
Selama 10 tahun berkecimpung di dunia pendidikan, saya melihat memang ada perbedaan perilaku dari anak-anak didik dari generasi sebelumnya dibandingkan dengan generasi sekarang (usia 9-15 tahun).
Terutama setelah masuk ke era digital, makin banyak anak-anak yang menurun konsentrasinya ketika di kelas. Mereka seolah memperhatikan saat guru mengajar, tetapi pikirannya tidak berada di sana. Sebagian lainnya ada yang menarik diri dari pergaulan. Keterikatan pada gadget memegang andil besar dalam pertumbuhan anak-anak. Mereka jadi mudah bosan. Kemampuan bersosialisasi juga menurun. Bagaimana tidak, mereka lebih suka bermain ponsel ketimbang bermain dengan teman-temannya. Bagi mereka, bermain dengan game lebih menarik.
Fakta bahwa makin banyaknya kedua orang tua yang harus bekerja dan terpaksa meninggalkan anak sendirian di rumah, makin menenggelamkan anak dalam kesepian. Anak-anak ini dibekali ponsel untuk alat komunikasi yang justru membuat keterampilan berkomunikasi mereka makin menurun.
Hampir semua anak yang kedua orang tuanya bekerja menunjukkan perilaku yang mengarah ke antisosial. Mereka lebih suka melakukan aktivitas sendiri dan menarik diri dari pergaulan. Ketika anak-anak lainnya bermain bersama di luar kelas, ia justru lebih suka menggambar atau membaca buku di dalam kelas. Bisa jadi karena minimnya kesempatan interaksi dengan orang lain menjadikan kemampuan komunikasi dan sosialisasi mereka kurang berkembang.
Sayangnya, tak sedikit orang tua yang kecolongan. Sementara di sekolah, pengajar bisa saja melihat perilaku yang berbeda. Itu sebabnya, penting sekali sinergi kerja sama orang tua dan sekolah. Untuk mengatasi generasi yang kesepian ini, sekolah banyak mendorong kegiatan diskusi grup di kelas, kerja sama grup, dan mewajibkan anak mengikuti setidaknya satu kegiatan ekstrakurikuler untuk memberikan mereka kesempatan mengembangkan kemampuan bersosialisasi. (f)
Baca Juga:
Gaya Nola B3 Mengurus Naura, Anak Pertamanya Yang Juga Jadi Penyanyi
Panduan Memanfaatkan Youtube Untuk Orang tua
Foto Ayah Menggendong Anak Sedang Viral di Internet. Ternyata Ini Penyebabnya
Terutama setelah masuk ke era digital, makin banyak anak-anak yang menurun konsentrasinya ketika di kelas. Mereka seolah memperhatikan saat guru mengajar, tetapi pikirannya tidak berada di sana. Sebagian lainnya ada yang menarik diri dari pergaulan. Keterikatan pada gadget memegang andil besar dalam pertumbuhan anak-anak. Mereka jadi mudah bosan. Kemampuan bersosialisasi juga menurun. Bagaimana tidak, mereka lebih suka bermain ponsel ketimbang bermain dengan teman-temannya. Bagi mereka, bermain dengan game lebih menarik.
Fakta bahwa makin banyaknya kedua orang tua yang harus bekerja dan terpaksa meninggalkan anak sendirian di rumah, makin menenggelamkan anak dalam kesepian. Anak-anak ini dibekali ponsel untuk alat komunikasi yang justru membuat keterampilan berkomunikasi mereka makin menurun.
Hampir semua anak yang kedua orang tuanya bekerja menunjukkan perilaku yang mengarah ke antisosial. Mereka lebih suka melakukan aktivitas sendiri dan menarik diri dari pergaulan. Ketika anak-anak lainnya bermain bersama di luar kelas, ia justru lebih suka menggambar atau membaca buku di dalam kelas. Bisa jadi karena minimnya kesempatan interaksi dengan orang lain menjadikan kemampuan komunikasi dan sosialisasi mereka kurang berkembang.
Sayangnya, tak sedikit orang tua yang kecolongan. Sementara di sekolah, pengajar bisa saja melihat perilaku yang berbeda. Itu sebabnya, penting sekali sinergi kerja sama orang tua dan sekolah. Untuk mengatasi generasi yang kesepian ini, sekolah banyak mendorong kegiatan diskusi grup di kelas, kerja sama grup, dan mewajibkan anak mengikuti setidaknya satu kegiatan ekstrakurikuler untuk memberikan mereka kesempatan mengembangkan kemampuan bersosialisasi. (f)
Baca Juga:
Gaya Nola B3 Mengurus Naura, Anak Pertamanya Yang Juga Jadi Penyanyi
Panduan Memanfaatkan Youtube Untuk Orang tua
Foto Ayah Menggendong Anak Sedang Viral di Internet. Ternyata Ini Penyebabnya