Foto: Shutterstock
 
Keputusan berpisah dari pasangan dan menjadi ibu tunggal tak membuat Renatta (bukan nama sebenarnya) khawatir akan kehilangan pijakan. Kendati saat proses bercerai, ia sedang tidak bekerja. Ia tetap berprinsip untuk tidak bergantung kepada orang lain. Setelah berpisah, ia pun aktif mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dirinya dan anak perempuan semata wayangnya.
 
Bersyukur, pekerjaan segera ia dapat. Namun, ada tantangan lain harus dihadapi, membagi waktu untuk bekerja dan bersama putri. Diakuinya, tak jarang timbul perasaan sedih ketika ia tak bisa menemani putrinya mengerjakan pekerjaan rumah akibat kesibukan kantor.
 
Karenanya, meski lelah setelah bekerja dari Senin hingga Jumat, demi membangun waktu berkualitas dengan sang putri, Renatta selalu belabelain mengajak putrinya untuk bermain ke luar rumah setidaknya sekali seminggu.
 
“Saya juga sempat dihantui ketakutan merasa kesepian. Perasaan ini membuat saya merasa tidak percaya diri,” cerita Renatta.
 
Ia merasa tak ada lagi tempat untuk mengadu kesedihannya, pundak tempatnya menangis. Ia tak sampai hati untuk berkeluh kesah kepada orang tuanya. Ia tak mau membebani mereka yang sudah membuka tangan membantu Renatta mengasuh si kecil yang kini sudah berusia 10 tahun.
 
Di sisi lain, ia juga cemas bahwa perpisahannya dengan mantan suami akan berdampak besar pada sang putri. “Dulu saya banyak dengar bahwa anak dari broken family akan kosong hatinya, dia akan cari pelampiasan lain di luar.”
 
Tak tinggal diam, ia berkonsultasi kepada psikolog. Ia ingat betul kata-kata psikolog bahwa memang anak-anak dengan orang tua yang berpisah lebih rentan, tapi bukan berarti akan berakhir jadi anak bermasalah. Semua tergantung dari bagaimana membangun hubungan antara anak dengan ayah dan ibunya, kendatipun mereka tidak tinggal bersama.
 
“Kalau hubungan kita dengan mantan suami baik-baik saja, anak juga akan baik.”
 
Ia bersyukur hubungannya dengan mantan suami berjalan baik. “Kami sudah seperti sahabat. Ia sering datang main ke rumah untuk bermain dengan anak kapan pun, jika memungkinkan.” Ini membuatnya tak perlu khawatir putrinya kehilangan figur ayah.
 
“Saya tidak memiliki hidup anak dan tidak mau egois mengontrol hidup orang lain. Mau bertemu atau tidak dengan dengan ayahnya, semua kembali pada anak. Jika ingin, saya tidak akan melarang, jika dia sedang tak ingin, saya tidak pernah memaksa. Tunggu suasana hatinya membaik dulu,” ujar Renatta.

 
 


 
Prioritas hidup Renatta kini adalah anaknya, termasuk soal biaya. “Saya sangat menghargai mantan suami tetap memberi biaya. Tapi saya tidak mendesak, karena saya punya prinsip, saya yang membesarkannya, maka saya akan memenuhi segala kebutuhannya. Kalau kita terus bergantung pada orang dan ternyata dia tidak bisa memenuhinya, ujung-ujungnya anak yang akan jadi korban.”
 
Karena mantan suami telah menikah lagi, tantangannya kini adalah menjaga komunikasi tetap berjalan baik sambil mencegah  kecemburuan keluarga baru mantan suami.
 
“Komunikasi kami sekarang hanya sebatas urusan anak. Kendatipun ia adalah ayah dari anak saya, saya tetap harus menjaga perasaan istri barunya,” terangnya.
 
Di tengah banyak tantangan, diakuinya, setelah menjadi ibu tunggal ia bisa lebih fokus pada pencapaian diri yang ingin ia raih. Untuk urusan traveling misalnya, wanita yang suka solo traveling ini bisa lebih bebas mengatur jadwal bepergian.
 
“Berbeda jika masih berkeluarga, pasangan pasti tidak suka atau ia merasa insecure kalau saya bepergian sendirian di negeri asing. Tapi, sekarang, saya bisa lebih bebas bepergian ke mana pun. Bahkan, kelak jika putri saya sudah besar, saya ingin membawanya dalam petualangan ke berbagai negara,” kata Renatta.
 
Pesan Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si,Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia:
 
Menjalin hubungan yang baik dengan mantan pasangan, dengan membuka akses anak untuk menghubungi atau menemui orang tuanya, memang terkadang sulit terjadi. Apalagi jika proses berpisahnya tidak berjalan mulus.
 
Pada kasus-kasus ekstrem, beberapa orang tua yang telah berpisah, bahkan memutus segala akses bagi anaknya untuk bertemu atau bahkan mengenal orang tuanya yang lain. Misalnya, menyingkirkan foto mantan pasangan atau mengatakan bahwa ayah atau ibu yang tidak mendapatkan hak asuh tersebut telah meninggal dunia. Tak jarang pula ada yang memberikan citra diri buruk tentang mantan pasangannya kepada si anak, dengan cara mencaci maki atau menggambarkannya sebagai orang yang jahat.
 
“Jika ini terjadi, hal yang diingat oleh si anak mengenai orang tuanya yang satu lagi itu hanyalah kenangan-kenangan buruknya. Dia akan kesulitan menjalin hubungan dengan laki-laki atau wanita lain pada saat dewasa nanti,” tutur Nina.
 
Anak perlu percaya, kendatipun orang tuanya tidak bersama lagi, keluarga bahagia itu tetap ada. Dari sebuah keluarga yang bahagia, anak bisa belajar cara berinteraksi dengan orang lain, baik cara berkomunikasi maupun menyelesaikan masalah. (f)


Baca Juga:

Jangan Unggah 3 Hal Ini di Medsos Jika Tak Ingin Rumah Tangga Anda Retak
Pesona Pria Lokal vs Barat
Cerita Dua Wanita Tentang Suka Duka Memiliki Pasangan Beda Bangsa