
Foto: Shutterstock
Sepuluh tahun lalu, banyak orang tua masih sangat berharap dan mengarahkan anak-anak mereka untuk berkarier di korporasi ternama, menjadi pegawai negeri, atau menjalani profesi yang umum seperti dokter, pengacara, atau meneruskan bisnis keluarga. Namun, dunia sudah berubah. Cita-cita para generasi Z dan Alfa pun semakin beragam. Lantas, apa bekal yang tepat untuk mereka?
Generasi milenial, mengacu pada mereka yang lahir antara tahun 1981 dan 1996, yang disebut-sebut sebagai generasi yang mengubah ‘permainan’ dalam berbagai bidang, kini telah menjadi orang tua. Saatnya kita membicarakan generasi Z (yang lahir antara tahun 1997-2010) dan Alfa (2011-2025).
Jika milenial tumbuh bersama dengan perubahan yang dipicu kemajuan teknologi, generasi selanjutnya telah betul-betul menghadapi dunia baru, dimana ada begitu banyak pilihan untuk segala hal. Misal untuk menuntut ilmu, mereka tak harus pergi ke sekolah, ada home schooling, atau pusat pelatihan keterampilan, workshop, belajar di internet, dan lain-lain. Pilihan profesi dan pekerjaan pun begitu beragam dan luas.
Menurut riset yang dilakukan onlineschoolcenter.com, 41 persen generasi Z ingin menjadi entrepreneur. Dari studi yang sama diperkirakan sebagian besar keinginan ini lebih didorong oleh kebutuhan. Tahun 2018, 1 dari 20 lulusan universitas di Amerika Serikat kesulitan mendapat pekerjaan. Kurang dari satu orang saja yang bisa menjadi pegawai tetap. Padahal sebagian besar lulusan perguruan tinggi memiliki utang kuliah (student loan). Hingga muncul pemikiran, kalau tidak ada kesempatan, mengapa tidak membuat kesempatan kerja sendiri?
Itu bukan satu-satunya alasan. Jika melihat karakter generasi Z yang disebut-sebut ingin bebas, multitasking, bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu, serta ambisius, dengan versi goals yang berbeda dari generasi sebelumnya, tak heran kalau pada generasi ini, keinginan untuk menjadi karyawan korporasi, semakin menurun.
“Kalau dikatakan saat ini banyak orang tua yang mendukung anaknya menjadi entrepreneur, itu terjadi karena saat ini yang dianggap heroes di antara anak muda itu adalah orang seperti Nadeem Makarim (pendiri Go-jek), Ahmad Zaki (pendiri Bukalapak), atau Rex Marindo (founder Warung Upnormal dan beberapa restoran kekinian lain). Orang melihatnya yang enak-enak saja, bayangkan masih muda sudah dapat kucuran dana trilyun-an, siapa yang enggak ingin? Ini kemudian diberitakan di media sosial, itu menjadi pengaruh yang membentuk persepsi bahwa memang menjadi businessman itu lebih enak ketimbang memiliki gaji tetap,” ujar pakar pemasaran Yuswohady.
Bukan sekadar melihat materi yang didapat, tapi juga melihat sosok para entrepreneur ini sebagai tokoh yang terpandang, populer, layaknya selebritas. Dan pemberitaan media yang terus menerus, lama kelamaan tidak hanya memengaruhi anak-anak, tapi juga para orang tuanya.
Belum lagi para selebgram atau Youtuber yang jadi idola generasi Z ini. Melihat selebgram dan Youtuber idolanya berpenghasilan besar dengan kehidupan yang terlihat seru dan terkenal di masyarakat, tak perlu kaget kalau jadi Youtuber adalah cita-cita anak-anak zaman now.
“Bicara soal entrepreneurship di Indonesia, menurut para pengusaha yang saya temui dalam berbagai seminar, beberapa tahun belakangan ini adalah saat yang tepat untuk menjadi entrepreneur. Saat ini sudah ada banyak kemudahan teknologi dan dukungan pemerintah, apalagi jika dibandingkan dengan pengusaha zaman dulu,” ujar Antonny Liem, CEO, MCM (Merah Cipta Media) Group dan Merah Putih Inc.
Baca Juga: Mindset dan Jiwa Entrepreneurship

Dok: Shutterstock
Mindset dan Jiwa Entrepreneurship
Banyak orang penasaran bagaimana orang tua Mark Zuckerberg dulu mendidik Mark hingga menjadi sosok entrepreneur sukses seperti saat ini. Bukan rahasia kalau Mark, pendiri Facebook yang kini juga merambah ke Instagram dan Whatsapp, dianggap salah satu hero, panutan banyak orang muda di dunia.
Dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media, ayah Mark, Edward Zuckerberg, yang berprofesi sebagai dokter mengatakan, tidak ada rahasia atau formula yang pasti untuk membentuk karakter anak. Namun, jika dipikirkan, ada beberapa hal yang menurutnya membentuk karakter Mark.
Menurut Edward, seorang anak akan berani mengambil risiko jika memiliki latar belakang keluarga yang lebih stabil, seperti yang ia berikan untuk Mark. Ia juga memilih untuk bekerja di rumah, sehingga dapat meluangkan waktu lebih banyak dengan anak-anaknya. Meki begitu ia memberi batasan jelas, ada area untuk ia bekerja dan tempat untuk anak-anak bermain.
“Nasihat terbaik yang bisa saya berikan untuk para orang tua adalah ketimbang menyetir hidup anak, lebih baik kenali kelebihan dan kekuatan anak dan dukung perkembangannya pada hal-hal yang mereka minati,” ujarnya.
Mark seperti ayahnya juga berusaha dekat dengan anak-anaknya, setidaknya di awal kehidupan kedua putri hasil pernikahannya dengan Priscilla Chan, Max dan August. Saat mereka lahir, pada tahun 2015 dan 2017, Mark mengambil cuti dua bulan penuh. Meski menurut pengakuan Priscilla pada acara Ted, Mark mencoba mengajari Max melakukan coding pada usia dua tahun, Mark justru mendorong kedua anaknya untuk lebih banyak beraktivitas di luar ruangan, menikmati keindahan bunga, dan mengumpulkan daun di kebun. Seperti surat untuk sang anak August, yang ditulis Mark di akun tulis Facebook-nya. Seperti ayahnya, Mark juga ingin memberikan kestabilan dalam keluarga, sehingga tak perlu khawatir akan masa depan.
Konsep serupa yang juga diterapkan Diajeng Lestari, founder dari HIJup dalam membesarkan anak-anaknya. Sejak usia belia, Diajeng sudah mulai dari mengajarkan hal dasar yang akan membentuk mindset. “Saat ini Laiqa sudah mulai saya kenalkan pada konsep creating. Kebetulan dia suka seni. Misalnya apa yang bisa dibuat dari barang bekas. Sekarang pengenalannya dari menemukan ide-ide baru seperti itu,” ujarnya.
Kondisi dunia yang terus bergerak dan serba tak pasti, juga menjadi perhatian Anthony dalam memberikan bekal hidup untuk anaknya. “Saya akan dorong mereka agar tidak terjebak pada kotak tertentu. Pendidikan itu penting dan bagaimana membentuk mindset bahwa hidup itu ditentukan oleh usaha kita,” ujar Antonny.
Menurut Yuswohady, menjadi seorang entrepreneur ada hard skill seperti ilmu bisnis, keuangan perusahaan, dan marketing, serta soft skill yang harus dipersiapkan. “Terpenting adalah soft skill-nya, terutama mental. Ketahanan yang tidak terlihat oleh banyak orang, padahal itu bagian yang tersulit seperti kreativitas, inovasi, dan tahan banting,” jelasnya.
Sebagai orang tua sangat penting untuk membangun lingkungan, iklim dan role model. Ketimbang bilang ini itu, seorang anak akan lebih mudah menyerap apa yang mereka lihat. Sebagai orang tua, ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur, menurut Yuswohady, yaitu pertama membangun rasa percaya diri bahwa jualan itu bukan sesuatu yang posisinya di bawah. Ini untuk membentuk mindset bahwa jualan itu tidak memalukan. “Karena hambatan pertama itu adalah malu. Kalau dia sudah gengsi dan enggak percaya diri maka jualan juga enggak natural,” katanya.
Kedua, adalah melatih anak untuk meyakinkan orang. Ketiga adalah melatih kemampuan anak untuk menjalin dan menjaga relationship. Membangun jejaring. menjaga konsumen dalam jangka panjang. Jika anak-anak sudah diajarkan itu, setelah anak besar, ia sudah memiliki dasar entrepreneurship-nya yang kuat.
“Kalau sudah besar, dia bikin produknya, itu hard skill. Tapi kalau untuk di usia dini yang terpenting adalah tiga hal tadi. Entrepreneurship itu tidak bisa dipelajari di sekolah, harus praktek,” tukasnya. (f)
Baca Juga:
Pria Juga Ingin Berperan Mengasuh Anak
Merayakan Hari Anak, Terungkap Fakta Bahwa Remaja Indonesia Masih Takut Bicara Soal Seks Pada Orang Tua