
Foto: Unsplash
Survei yang dilakukan oleh Engine Insight dari Smartsheet mengungkapkan bahwa kegiatan work from home (WFH) ternyata cukup berat bagi pekerja, terutama kalangan milenial dan gen-Z. Sebanyak 95% pekerja gen-Z dan 93% pekerja milenial mengaku mereka merasakan masa sulit dalam transisi WFH.
Tiga perempat kelompok pekerja Amerika Serikat merasa kurang terhubung dengan orang lain selama masa pandemi. Dari jumlah tersebut, 82% di antaranya merupakan gen-Z, dan 81% merupakan milenial. Selain itu, 60% pekerja Amerika merasa kurang terinformasi tentang keadaan perusahaan selama WFH. Di dalamnya terdapat 74% gen-Z dan 66% milenial.
Kemudahan berkomunikasi juga menjadi tantangan selama WFH. Sebanyak 48% gen-Z dan 46% milenial menyatakan bahwa berkomunikasi dengan rekan kerja menjadi sulit selama WFH. Sementara hanya 35% gen-X dan 36% baby boomers yang merasakan hal serupa.
Hampir sepertiga pekerja melaporkan bahwa sulit untuk memahami status proyek pekerjaan selama WFH. Hal ini dirasakan oleh 50% gen-Z dan milenial. Di samping itu, lebih dari 40% gen-Z dan milenial merasa sulit kumpulkan informasi yang dibutuhkan selama WFH. Sementara, hanya 33% gen-X dan baby boomers yang merasa demikian.
Gen-Z dan milenial tampaknya lebih menyukai pertemuan tatap muka dibandingkan pertemuan digital. Jadi tak heran video meeting dan email tak bisa menggantikan kemudahan interaksi langsung. Sebanyak 61% gen-Z dan 57% milenial mengeluhkan bahwa video conference menghambat produktivitas mereka. Sementara hanya 35% gen-X dan 26% baby boomers merasakan hal yang sama.
WFH yang efektif tak hanya butuh kecakapan digital. Nyatanya, WFH merupakan cara baru dalam bekerja yang butuh dipelajari dan didukung, bahkan bagi anak muda yang sudah akrab dengan dunia digital. WFH yang menyenangkan dan produktif dapat timbul dari pembelajaran proses, komunikasi, dan budaya. Hal ini memang butuh waktu dan komitmen.
Baca Selanjutnya: Memasuki Tatanan Baru (New Normal)

Foto: Unsplash
Memasuki Tatanan Baru (New Normal)
Dalam konteks Indonesia, pemerintah akan menerapkan tatanan kehidupan baru (new normal) dalam hadapi COVID-19. Hal ini dilakukan mengingat WFH dalam jangka panjang dinilai dapat menghambat perekonomian. Implementasi new normal tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja, Perkantoran, dan Industri Dalam Mendukung Keberlansungan Usaha Pada Situasi Pandemi.
Di antara beberapa panduan new normal adalah dengan pengaturan WFH. Di mana sebagian pekerja esensial yang menangani pekerjaan tertentu boleh datang ke tempat kerja, sedangkan sisanya tetap menjalani WFH. Waktu kerja pun harus disesuaikan dengan tidak menerapkan lembur yang akibatkan pekerja kekurangan waktu istirahat dan akhirnya menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh.
Penyesuaian jam kerja ini tentunya diterapkan berdampingan dengan protokol kesehatan yang diberlakukan untuk perusahaan. “Kita tak menyerah, tetapi menyesuaikan diri. Kita lawan COVID-19 dengan kedepankan dan mewajibkan protokol kesehatan ketat,” kata Presiden Joko Widodo.
Jam kerja fleksibel juga akan diterapkan di Selandia Baru dengan sistem empat hari kerja. Ide yang dicetuskan oleh Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru ini salah satunya dilakukan demi mendongkrak pariwisata negara tersebut.
Menurut Ardern, sistem empat hari kerja akan mendukung perekonomian sekaligus menyeimbangkan kehidupan para pekerja. “Saya mendengar banyak orang mengusulkan empat hari kerja. Seperti yang telah saya katakan, banyak hal yang telah kita pelajari dari krisis COVID-19. Salah satunya fleksibilitas bekerja dari rumah. Produktifitas tetap bisa dicapai dengan cara tersebut,” ujarnya.
WFH maupun hari kerja yang lebih pendek telah didukung oleh para pakar sumber daya manusia sebagai sebuah alternatif new normal. “Cara ini memberikan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan kerja bagi orang-orang dengan kesibukan tertentu. Misalnya mahasiswa, para ibu, dan para orang tua yang butuh lebih banyak waktu untuk mengurus keluarga,” jelas Alin Abraham, konsultan sumber daya manusia di Singapura. (f)
BACA JUGA:
7 Bahasa Tubuh untuk Tingkatkan Kemampuan Wawancara Kerja Virtual
Mengapa Perusahaan Butuh Pemimpin Culture Makers?
Setelah Pandemi COVID-19 Berakhir, Perusahaan Perlu Berinvestasi Pada Sumber Daya Kesehatan