Foto: 123RF

Mengetik nama seseorang di situs pencarian Google dan mengikuti setiap halaman untuk mencari informasi tentang seseorang, kini menjadi hal yang lumrah dilakukan. Hingga kemudian muncul istilah ‘stalking’ yang akrab dipakai untuk menggambarkan kegiatan mencari informasi alias ngintip tentang orang lain lewat media sosial.

Saat ini sangat mudah mencari reputasi seseorang, reputasi baik, juga reputasi buruk. Sekarang, coba googling nama Anda sendiri. Apa yang Anda temukan? Sudah puaskah Anda dengan ‘citra diri’ tersebut?

Seperti halnya di dunia nyata, setiap orang juga perlu membentuk personal branding-nya di dunia digital. Bahkan digital personal branding kini dinilai jauh lebih penting. Mengapa? Karena di dalam ekonomi global, semua hal terkait dengan digital.

Banyak pekerjaan yang terhubung dengan digital. Google dan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, serta Linkedin memiliki ‘kecerdasan’ dalam memberikan hasil yang lengkap tentang siapa Anda, di mana lokasi Anda, hingga apa saja yang Anda kerjakan.

Bahkan lebih lengkap dari sebuah kartu nama yang hanya mencantumkan informasi terbatas nama, jabatan, dan nomor kontak. Jejak digital ini pada akhirnya membentuk reputasi seseorang.

Sekarang apakah Anda senang dengan jejak digital tentang diri Anda di mesin pencari? Apakah semua informasi itu mewakili diri Anda yang sebenarnya? Apakah yang tercantum sudah cukup menunjukkan ke mana pemikiran Anda? Di dunia pekerjaan, apakah sudah bisa menunjukkan profesionalitas dan kemampuan Anda?

Seperti dikatakan oleh Jeff Bezos, pendiri Amazon, “Your brand is what people say about you when you’re not in the room.” Artinya, apa yang kita tampilkan atau terpancar dari diri kita inilah yang akan dilihat oleh orang lain.

Bagi Lily Marpaung (33), membangun digital personal branding yang tepat sangat penting, mengingat pekerjaannya sebagai PR Manager untuk Zalora Indonesia sangat dekat dengan dunia digital. “Lagipula, sekarang ini siapa sih yang tidak googling nama seseorang di internet saat baru bertemu? Ketika saya mencari anggota tim baru, saya pasti akan melihat bagaimana kepribadian mereka di media sosial.”

Itu sebabnya, berbicara tentang konten yang ada di media sosial-nya, Lily sangat memilih konten apa saja yang akan ia tampilkan.

“Kuncinya, harus mencerminkan profesionalitas diri. Saya membangun personal branding di media sosial sebagai seorang ibu bekerja yang juggling antara pekerjaan dan keluarga,” kata ibu satu anak ini.

Untuk Instagram, konten yang ia unggah biasanya lebih dikurasi dan sifatnya tidak privat. Umumnya berkaitan dengan pekerjaan atau hal-hal yang ia sukai, seperti mode, kecantikan, dan travel. Sementara Twitter, Lily lebih aktif membahas isu-isu sosial, politik, dan kesehatan.

Sementara Angela Welas (30) mengaku sebelumnya tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan atau unggah di media sosial akan memengaruhi bagaimana ia membangun personal branding. Bahwa ternyata, unggahan-unggahan fotonya di instagram yang selalu ‘color coordinated’ dan diatur dengan baik, menjadi portfolio tersendiri untuk pekerjaannya sebagai content creator.

“Saya baru menyadari bahwa pengalaman dan bagaimana cara saya mengeksekusi foto untuk diunggah di media sosial, banyak membantu dalam pekerjaan, terutama dalam mendapatkan tawaran pekerjaan dari fashion brand lokal sebagai content creator untuk media sosial mereka. Padahal dari awal, saya tidak berniat ke sana. Namun, inilah pentingnya personal branding di Instagram, akan banyak membantu mengembangkan karier,” katanya.

Pahami lebih jauh tentang Personal Branding di laman selanjutnya.
 
 


Menurut Amalia E. Maulana, Ph.D, Brand Consultant & Ethnographer Director Etnomark Consulting, istilah digital personal branding mulai berkembang saat dirasakan kebutuhan untuk ‘hadir’ di dunia virtual, melengkapi kehadiran di dunia nyatanya.

Berbagai cerita yang dibagi di platform media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan juga video di YouTube, adalah bagian dari kegiatan marketing communication dari sebuah personal branding.

Secara luas, pengertian personal branding adalah berbagai kegiatan, baik yang sehari-hari maupun yang didesain khusus, yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka membangun reputasi. Ini merupakan
bagian dari investasi membangun brand equity.

Dalam dunia profesional, kini tak sedikit head hunter dan HRD (Human Resource Department) sebuah perusahaan mencari informasi tentang calon pegawainya lewat online. Dua alasan terpenting adalah:

Pertama, cara ini dinilai lebih cepat dan efisen daripada memanggil atau bertanya ke 10 orang yang kemungkinan mengenal calon karyawan bersangkutan.

Kedua, di era ketika digital yang memiliki peranan besar hampir di setiap lini kehidupan, tidak sedikit perusahaan yang ingin mengetahui sejauh mana pemahaman calon karyawannya dalam mengikuti perkembangan teknologi. Apakah Anda cukup digital confident?

Dengan demikian membangun digital personal branding menjadi penting sebagai bagian dari profesionalisme, bukan sekadar mengampanyekan diri sendiri. Tapi juga bagaimana seseorang membawa nilai-nilai dan kemampuan yang ia miliki. (f)

Baca juga:
4 Syarat Membuat Foto yang Menarik Pada CV
Ini Tiga Kata yang Paling Banyak Muncul di Profil LInkedIn Para Profesional Indonesia
3 Cara Agar Sarjana Lebih Mudah Mendapat Kerja
Waktu yang Pas Berkata ‘Tidak’ Dalam Pekerjaan