
Foto: Shutterstock
Komunikasi merupakan masalah yang klasik, tapi ternyata cukup pelik. Komunikasi di antara pasangan, antara orang tua dan anak, antara atasan dan bawahan, punya challenge masing-masing. Karena dunia ini terus berubah, gaya komunikasi juga perlu berubah mengikuti perkembangan zaman. Di dunia kerja dulu komunikasi cenderung kaku, rigid, satu arah, dominan, dan arogan. Intinya, atasan pasti benar, anak buah pasti salah.
Sekarang model komunikasi seperti itu sudah tidak relevan lagi. Kalau masih nekat diterapkan, jangan heran jika pesan yang ingin Anda sampaikan hanya akan mental. Lalu, komunikasi seperti apa yang perlu diterapkan dan dicontohkan oleh seorang atasan sebagai leader organisasi?
Bersama Membangun Jembatan
Suatu ketika sebuah perusahaan meminta Erwin Parengkuan, CEO dan pendiri TALKinc, menjadi coach bagi mereka. Perusahaan itu bercerita, sejak awal berdiri hingga selama sekitar sepuluh tahun mereka selalu menjadi market leader. Tiba-tiba saja mereka disalip oleh perusahaan lain dan menjadi nomor dua. Perusahaan yang awalnya begitu rapid karena kencangnya kompetisi mendadak tersadar bahwa ada sesuatu yang salah. Berangkat dari kesadaran itu, Erwin lalu memberikan coaching. Usai sesi coaching yang berlangsung dalam waktu kurang dari setahun, perusahaan itu kembali menempati posisi pertama. Apa yang mereka lakukan.
“Hearing session. Setiap bulan mereka mengadakan forum yang diikuti oleh seluruh karyawan yang datang dari semua level dan dari seluruh Indonesia. Dalam forum itu mereka boleh bicara apa saja langsung kepada CEO dan CEO tidak boleh membantah. Ia harus mendengarkan dan merespon secara positif. Ini jembatan komunikasi yang perlu dibangun,” kata Erwin.
Ia mengamati, sekarang ini orang makin baper, makin mudah marah, makin mudah tersulut oleh berbagai isu. Akibatnya, kondisi secara umum jadi tidak menyenangkan. Jika situasi di luar perusahaan sudah unpleasant, sudah sepantasnya pemimpin organisasi menciptakan sebuah playground. Playground itu bukan berupa ruangan khusus yang dilengkapi dengan berbagai perangkat permainan, melainkan berupa kondisi saling menghargai di antara semua orang di dalam organisasi, tanpa terkecuali.
“Termasuk, menghargai karyawan di level paling bawah. Jika tidak bisa terkoneksi dengan CEO, bagaimana mereka akan bisa bekerja sepenuh hati? Respek merupakan hal yang sangat human dan sangat mendasar dalam sebuah hubungan,” lanjut Erwin.
Dalam ilmu komunikasi dijelaskan bahwa komunikasi mengandung dua komponen, yaitu communicator dan communicant; orang yang berbicara dan orang yang mendengarkan. Namun, dari pengalaman selama 17 tahun di dunia komunikasi, Erwin menemukan satu komponen lain.
Lebih lanjut ia menguraikan, komunikasi berakar dari bahasa Latin, yaitu communio, yang artinya adalah bersama. Ketika mengandung makna ‘bersama’, maka dalam membangun sebuah relationship harus ada respek. Respek inilah yang menentukan keberhasilan komunikasi seorang pemimpin.
Masalahnya, sering kali seorang leader bisa menjadi sangat dominan, sangat arogan, tidak pernah mau memahami anggota timnya, dan hanya menuntut untuk dipahami. Hal tersebut membuat sang leader sulit menghargai orang lain.
Akibatnya, komunikasi jadi macet. Namun, Erwin menilai, sikap itu tidak sepenuhnya salah, karena setiap orang memang punya ego. Ketika memegang posisi sebagai atasan disertai judul jabatan yang mentereng dan gaji besar, wajar saja jika ia ingin selalu didengarkan, diakui, dan dianggap.
Namun, respek tak harus ditunjukkan dalam hal-hal besar, kok. Sangat bisa diperlihatkan dalam hal yang sederhana. Erwin bercerita, meski statusnya merupakan pemilik perusahaan, ia memberi kesempatan kepada karyawannya untuk menyampaikan keinginan. Sesederhana ketika menentukan menu makan siang. Ia akan meminta karyawannya untuk memberi input. Mereka ramai mengajukan usul dan pilihan menu makan siang jatuh pada menu yang paling banyak dipilih saat voting.
Begitu juga ketika menentukan tempat tujuan outing. Semua orang mengajukan usul, termasuk Erwin sendiri. Ketika pada akhirnya usulan Erwin tidak menang, baginya tidak masalah. Ia menghargai timnya dan menghargai pilihan mereka.
Yang kini juga menjadi tantangan dalam komunikasi dalam organisasi atau perusahaan adalah komunikasi di antara dua generasi yang usianya jauh berbeda yang sering kali tidak nyambung. Anda mungkin mengalami sendiri. Kenapa ini terjadi? Sebab, mereka sulit untuk saling menghargai. Bisa jadi yang senior merasa juniornya ngasal, yang junior merasa seniornya kuno banget.
Karena itu, Erwin menyarankan, agar komunikasi dengan milenial bisa terjalin dengan baik, leader perlu meningkatkan keterampilan mendengarkan, sekaligus meninggalkan arogansi dan mental block. Leader juga perlu bersikap lebih agile dan fleksibel, karena sikap inilah yang diinginkan oleh milenial, generasi yang kini mendominasi dunia kerja.
Ia menekankan, apa pun posisi seseorang di dalam organisasi – entah direktur, resepsionis, atau office boy -- semua bekerja atas nama perusahaan. Itu berarti, meski deskripsi tugasnya berbeda, jabatannya berbeda, generasinya berbeda, semua orang punya tujuan yang sama, yaitu membuat organisasi bertumbuh jadi lebih sukses.
Baca Selanjutnya: Berawal dari Pengendalian Diri

Foto: Unsplash
Berawal dari Pengendalian Diri
Komunikasi mengandung dua kualitas utama, yaitu kemampuan mengendalikan diri atau self control dan kemampuan untuk membangun hubungan. Self control berarti mengendalikan semua yang ada pada diri kita, termasuk sikap, emosi, pola pikir, cara berkomunikasi, tekanan suara, dan bahasa tubuh.
Sebelum menerapkan self control, seseorang harus punya self awareness yang tinggi terlebih dahulu, salah satunya aware tentang perannya sebagai leader dalam organisasi. Seorang CEO harus aware bahwa ia diharapkan oleh anggota timnya untuk mendengarkan, menghargai, mengarahkan, membimbing, memberi stimulus, memberi feedback, dan sebagainya.
Contoh lain, ketika sedang diwawancara oleh media, Erwin sadar betul bahwa secara profesional ia sedang ditanya tentang hal yang berkaitan dengan keahliannya. Namun, pada saat yang bersamaan, melalui wawancara itu media juga bisa menilai kepribadiannya. “Dua hal ini, yaitu branding secara personal dan profesional, merupakan kombinasi yang saling terkait. Kita menampilkan branding yang mewakili corporate culture, tetapi juga personal branding sebagai pribadi yang hangat,” katanya.
Erwin menegaskan, branding ini harus jalan bersama dan selaras. Barangkali banyak orang berpikir, di kantor dia memilih jadi orang yang pendiam, tapi di luar kantor petakilan. Itu berarti dia tidak genuine. Hal ini akan terbaca oleh lawan bicara.
“Ketika seseorang sudah sampai pada tahap self awareness, ia akan sadar bahwa komunikasi itu bukan tentang apa yang akan dibicarakan, tapi tentang bagaimana menyampaikan pesan agar pesan itu diterima dengan baik. Karena, komunikasi adalah seni, bukan matematika atau fisika. Sayangnya, tidak semua orang punya kesadaran itu, apalagi jika sudah terbungkus oleh ego soal jabatan mereka,” kata Erwin.
Pengalaman di kelas memberi Erwin pelajaran bahwa orang mempunyai tiga ekspektasi dari lawan bicaranya, yaitu warm, reliable, fun. Ketika seseorang punya self awareness yang tinggi karena ia paham pentingnya pengendalian diri dalam membangun hubungan, ia akan bisa tampil menjadi pribadi yang lebih hangat dan menyenangkan demi bisa nyambung dengan orang lain. Dengan begitu, ia bisa menciptakan meaningful engagement.
Jujur saja, deh, siapa, sih, yang mau berdekatan dengan orang yang menyebalkan? Apalagi, kalau dia adalah leader di perusahaan. Begitu melihat sosoknya muncul dari pintu lift yang perlahan terbuka, bawaannya ingin kabur saja. Pahit… pahit… pahit…. Wajar sekali, jika kita hanya ingin berdekatan dengan orang yang menyenangkan.
“Ketika Anda tampil sebagai sosok yang menyenangkan, Anda akan berada di top of mind lawan bicara. Kalau itu terjadi, segala sesuatu yang berkaitan dengan Anda akan equivalent dengan organisasi tempat Anda bekerja. Dengan begitu, Anda akan bisa memenangkan hati customer,” kata Erwin.
Di dalam organisasi, jika Anda adalah leader yang menyenangkan, Anda juga akan berada di top of mind anggota tim. Saat menemui tantangan yang tidak bisa mereka atasi, mereka tidak akan ragu datang pada Anda dan berdiskusi untuk mencari solusi terbaik. Mereka tidak ragu untuk mengetuk pintu ruangan Anda dan mengajukan berbagai usulan yang inovatif, karena mereka tahu bahwa Anda akan mendengarkan dengan baik. Situasinya akan jauh berbeda jika Anda sebagai leader cenderung kaku dan dingin. Anggota tim tidak datang pada Anda ketika terganjal masalah, karena mereka tahu hanya akan dimarahi dan nantinya keluar ruangan atasan tanpa solusi yang jelas.
Seandainya leader begitu terbebani oleh jabatannya sehingga tidak bisa menjadi orang yang fun, kesalahan terletak pada dirinya. Jika ia keukeuh dengan pendapatnya sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain, itu kesalahannya. Kalau ia tidak mau menjadi leader yang punya empati, itu juga kesalahannya.
“Tidak semua orang mau berubah, meskipun perubahan itu sebetulnya mandatory. Saat ini teori evolusi Darwin menjadi semakin nyata. Kalau tidak bisa beradaptasi dengan perubahan akibat pandemi ini, perusahaan akan mati. Bisa dibilang, sekarang ada sense of urgency, orang dipaksa untuk keluar dari zona nyaman dan tetap terkoneksi dengan semua stakeholder-nya, termasuk anggota tim,” kata Erwin.
Dan, sukses atau tidaknya komunikasi bisa diukur dari impact. Jika komunikasi itu inspiring dan mampu memotivasi karena di dalamnya ada kisah sukses, kalimat yang dilontarkan jelas dan tersusun rapi, ada emosi sekaligus logika yang dilibatkan, maka lawan bicara akan melakukan sesuatu. Taking action inilah hasil yang diharapkan dari komunikasi yang baik. (f)
Penulis: Veronica Wahyuningkintarsih (Kontributor - Jakarta)
Baca Juga:
5 Hal yang Bisa Dilakukan Perusahaan untuk Mendukung Wanita di Tempat Kerja
5 Prediksi Dunia Kerja 2021
10 Kalimat untuk Mengundang Respon Positif Saat Rapat Virtual