
Foto: 123RF
Menurut Dr. Ir. Firman Kurniawan Sujono, M.SI, dosen Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia sekaligus pendiri lembaga kajian budaya digital, orang Indonesia termasuk unik dalam hal menggunakan kanal digital, seperti media sosial sebagai tempat untuk berekspresi.
Masyarakat Indonesia memang cenderung lebih suka ‘bersuara’ di dunia maya. Tak heran jika media sosial di Indonesia jauh lebih riuh dari media sosial di belahan dunia lainnya. “Medsos menjadi medium yang paling disukai masyarakat kita untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran mereka. Namun, mereka tidak menyadari bahwa konten yang mereka unggah lambat laun bisa menjadi personal branding diri mereka di mata orang lain,” ungkap Firma.
Ada berbagai alasan mengapa masyarakat Indonesia cenderung menjadikan medsos sebagai tempat ‘curhat’. Menurut Firman, kemampuan orang Indonesia untuk berbicara secara langsung itu lemah. Selain itu, budaya kita juga mengenal istilah ‘diam itu emas’, yaitu kita didorong untuk tidak berbicara jika tidak mengetahui kebenarannya.
Adanya aturan-aturan atau etika saat berbicara atau mengungkapkan pendapat seperti harus berbicara sopan, hati-hati, juga membatasi seseorang untuk berkomunikasi secara langsung. Kesulitan tersebut seakan terjawab dengan adanya media sosial karena seseorang dapat menyampaikan pikirannya tanpa harus berhadapan langsung dengan publik.
“Dalam hal ini kehadiran media sosial menjadi medium baru yang dapat menghilangkan semua batasan tersebut. Pendapat yang lama terpendam membutuhkan saluran untuk penyampaiannya. Di media sosial kita bisa ngomong apa saja, tidak berhadapan langsung, ekspresi tidak terlihat sehingga bisa lebih lepas. Dan karena bisa anonim, beban mentalnya menjadi jauh berkurang,” jelasnya.
Di dunia nyata, saat berkomunikasi tatap muka, etika tersebut menjadi rem. “Dan ketika etika tersebut tidak berlaku di sosial media tak sedikit orang yang akhirnya menjadi lepas kontrol saat berkomentar karena beban mentalnya berkurang,” ungkap Firman.
Selanjutnya: Cara Tepat Menampilkan Karakter di Media Sosial
Cara Tepat Menampilkan Karakter di Media Sosial
Tapi, di sisi lain Firman juga melihat media sosial bisa mengangkat nama orang-orang yang awalnya tidak dikenal menjadi terkenal. Seorang blogger atau vlogger dengan ribuan follower misalnya, kebanyakan berasal dari orang biasa yang berhasil mem-branding diri sehingga disukai sekaligus mendapat kepercayaan dari publik dan pendapatan yang cukup besar.
The Guardian, dalam salah satu artikelnya sempat merilis fakta tentang pendapatan vlogger dari kanal YouTube yang bisa mencapai 4.000 hingga 20.000 poundsterling (sekitar Rp72 juta – Rp360 juta per tahun).
Dari serangkaian pembicaraan di media sosial kita memang bisa melihat ‘pola’ seseorang. “Hal ini yang tidak disadari oleh banyak orang yang bermain di sosial media. Sistem digital mencatat semua interaksi penggunanya, yang disebut sebagai digital path. Melalui sistem algoritma, karakter seseorang dari interaksinya dengan medium digital dapat dikelompokkan dan dikarakterisasi. Orang cenderung abai kalau medsos digunakan orang lain untuk melihat karakter dirinya,” kata Firman.
Perlu disadari bahwa platform daring seperti media sosial berfungsi sebagai perpanjangan medium komunikasi tatap muka. Sehingga seseorang tidak perlu menjadi orang lain hanya karena media komunikasinya berbeda.
“Medsos itu multifacet, bisa untuk menampilkan sisi profesionalitas, bisa untuk menampilkan prestasi, bisa untuk curhat, bisa untuk memperkenalkan karakter. Nah, seharusnya pemilik akun medsos menyadari untuk apa ia bermain media sosial,” kata Firman.
Dengan demikian, jika ingin membangun jejak profesional, maka hal yang tidak terkait dengan profesionalitas tidak perlu diumbar di medsos.
“Seperti sikap politik, yang sebenarnya tidak ada relevansinya dengan profesionalitas yang hendak dibangun. Apalagi kalau seseorang memiliki afilisasi politik tertentu, kemudian disampaikan secara kasar terhadap lawan politiknya, hal tersebut bisa menjadi sangat tidak menguntungkan,” kata Firman.
Karena itu, Firman berpesan, penting untuk memastikan apa yang disampaikan in line dengan profesionalitas. “Kalau enggak perlu ya enggak usah diungkapkan di media sosial,” tambahnya.
Selain itu yang juga perlu dipertimbangkan adalah kepada siapa kita berbicara. Setiap platform media sosial memiliki karakter pembacanya masing-masing, termasuk status sosial ekonominya.
Ada medsos yang popular seperti Facebook, semua kelas sosial manusia ada di dalamnya. Ada juga yang elitis sepeti Linkedin yang cocok bagi profesional. “Target audiensi apa yg diharapkan, harusnya telah dirumuskan sebelum menggunakannya.”
Mungkin, muncul pertanyaan dalam diri Anda, kok, jadi serius ya memperlakukan medsos?
Firman kembali menegaskan, ada dua hal penting tentang medium digital seperti medsos. Pertama,
medium digital selalu menyimpan jejak digital.
Kedua, medsos adalah medium personal yang terpublikasi massal, sehingga konsekuensinya bersifat publik. “Maka kalau ingin bebas curhat, marah dan memaki, pakai saja analogi diari, buku harian konvensional yang dapat dikunci rapat untuk diri sendiri,” kata Firman. (f)
Baca juga:
Penting! Kemampuan TIK Jadi Modal Utama untuk Hadapi Era Kecerdasan Buatan
Gaya Kepemimpinan Feminin Bisa Dilakukan Pria Maupun Wanita