
Foto: 123RF
Kini banyak orang kantoran yang tidak harus bekerja di kantor. Mereka bukan freelancer yang hanya bekerja ketika ada proyek, dan bisa bekerja untuk siapa saja. Mereka adalah karyawan sebuah perusahaan yang menawarkan skema bekerja yang fleksibel (flexible work arrangement) tanpa harus datang ke kantor, seperti telecommuting. Menurut dictionary.com, telecommuting adalah bekerja di rumah atau di mana saja, menggunakan komputer yang terhubung dengan kantor tempatnya bekerja. Klik page number di bawah ini untuk membaca pengalaman tiga karyawan yang menjalami skema kerja tersebut.
Baca juga:
Sistem Remote Working untuk Perusahaan: Kami Tetap Produktif Bekerja, Meski Bukan dari Kantor
Ini Alasan Penting Anda Harus Mengikuti Sertifikasi Profesi
3 Keahlian Dasar yang Penting untuk Mengembangkan Karier di Tahun 2017

Foto: Dok. Pribadi
Senior Manager Financial Services Accenture Indonesia
Lebih Percaya Diri Bertemu Langsung
Saya beruntung, perusahaan tempat saya bekerja saat ini memiliki program flexible working arrangement (FWA) bagi semua karyawannya, yang terdiri atas 3 kategori.
Pertama, work from home, karyawan memilih berapa hari ia ingin bekerja di kantor selama seminggu. Kedua, part time, karyawan memilih jumlah hari kerja aktif dalam satu minggu. Kedua kategori ini biasa dimanfaatkan karyawan yang jenis pekerjaannya bersifat administratif, seperti HRD, administrasi, dan accounting. Ketiga, working in home location, khusus untuk karyawan yang baru ditugaskan di luar kota atau luar negeri.
Sebagai konsultan, agak sulit bagi saya mengambil program formal itu karena jam kerja saya mengikuti jam kerja klien yang tidak bisa ditebak. Saya harus menjaga ekspektasi klien. Beruntung, kantor saya pada dasarnya tidak terlalu mementingkan kehadiran fisik. Penilaian kerja tiap orang dinilai berdasarkan kualitas pekerjaan dan ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan.
Karena itu, saya tetap bisa menjalankan remote working tiap kali memungkinkan, seperti kalau sedang tidak ada janji dengan klien dan tidak mengganggu jalannya proyek.
Untuk keperluan komunikasi, saya butuh koneksi internet yang stabil, aplikasi chat dan meeting place dengan conference call atau video call seperti Skype. Secara umum, kantor memang memanfaatkan conference call dan video call tiap meeting agar efisien. Kantor juga menggunakan one drive yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja oleh karyawan untuk menyimpan dan mengambil data.
Sistem kerja seperti ini membuat saya dan rekan-rekan kerja harus proaktif, tetapi juga bersemangat. Kantor tidak membeda-bedakan gaji, benefit, dan kesempatan promosi, baik mereka yang bekerja penuh di kantor maupun sesekali di rumah. Tiap orang punya kesempatan yang sama, tergantung kualitas kerja.
Meski peraturan sangat fleksibel, saya tetap menganggap tatap muka secara fisik itu penting. Terutama, jika saya dan rekan harus membahas isu besar atau sensitif. Saya lebih percaya diri menghadapi lawan bicara karena saya bisa merasakan langsung suasana hati dan kondisi dari body language-nya. Insting saya lebih bekerja.
Sementara, kalau lewat conference call atau video call, saya justru lebih mudah grogi karena tidak bisa merasakan langsung situasi dan kondisi lawan bicara. Saya malah lebih takut sering jadi salah bicara.

Foto: Dok. Pribadi
Kooswardini Wulandari, Communications Manager Opera Indonesia
Proses Kerja Lebih Sederhana
Sejak tahun 2015 saya menjalankan remote working karena perusahaan teknologi tempat saya bekerja saat ini belum memiliki kantor regional di Indonesia. Kantor regional terdekat berada di Singapura, atasan saya langsung pun berada di Taiwan.
Anggota tim saya di Jakarta hanya 6 orang yang semuanya bekerja secara remote. Meski tak bertemu tiap hari, saya dan tim selalu berkomunikasi lewat WhatsApp group. Mulai dari update pekerjaan, diskusi, bertukar ide, hingga mengambil keputusan.
Ini sangat berbeda dengan kondisi kantor saya dulu. Cabangnya tersebar dari Sabang sampai Merauke, lapisan kerja atau ‘birokrasi’ kerjanya pun sangat banyak. Makin lama, saya makin merasa kehilangan banyak waktu dan tidak bisa melakukan hal-hal lain yang saya sukai, seperti traveling dan menulis.
Akhirnya saya mencoba menjalankan remote working. Apalagi kantor saya sekarang ini adalah perusahaan multinasional yang karyawannya berada di seluruh dunia. Saat ini, rekan-rekan kerja saya tersebar di India, Norwegia, Amerika Serikat, Taiwan, Singapura, Afrika Selatan, Polandia, dan Jakarta. Saya membutuhkan waktu 6 bulan untuk menyesuaikan diri. Bukan karena sulit, tetapi karena budaya kerjanya sangat berbeda.
Pertama saya harus beradaptasi dengan ritme kerja diri sendiri karena selama ini saya terbiasa dengan rutinitas. Kini tidak ada rekan kerja atau bos yang mengawasi saya secara fisik. Saya harus self driven, inisiatif sendiri.
Kegiatan pertama saya saat bangun pagi biasanya adalah membalas berbagai e-mail. Setelah sarapan dan olahraga, saya akan mulai bekerja di meja kerja. Koneksi internet pun hukumnya wajib karena komunikasi pekerjaan saya sangat bergantung pada hal itu.
Kedua, harus beradaptasi dengan budaya kerja tiap rekan di berbagai negara. Yang paling terasa adalah soal waktu karena waktu tiap negara berbeda-beda. Kantor pusat perusahaan saya di Oslo, Norwegia, mulai aktif bekerja pukul 9 pagi waktu Oslo, itu berarti pukul 3 sore waktu Indonesia. Berarti meeting pukul 5 sore di Oslo, di Jakarta sudah pukul 11 malam.
Ketiga, saya harus mendorong diri untuk lebih aktif belajar. Karena perbedaan waktu, saya tidak bisa mengandalkan orang lain jika saya butuh jawaban. Saat saya masih anak baru, saya mengirimkan e-mail ke atasan, bertanya sesuatu. Ia hanya membalas dengan memberikan link untuk google drive yang berisi segala informasi tentang perusahaan yang perlu saya ketahui.
Namun, remote working juga membuat saya merasa kesepian. Sebab, saya dulu terbiasa dengan office gathering, outing, makan siang bersama, dan lain-lain. Untuk itu, saya mewajibkan diri keluar rumah tiap hari untuk apa saja.
Meski semua terbantu dengan keberadaan teknologi, menurut saya tatap muka dengan orang tetaplah penting. Dari gestur orang, ekspresi nyata, saya bisa merasa lebih memahami orang itu dan juga tidak merasa kesepian. Keluar rumah bertemu orang lain juga sangat membuka wawasan. Kehidupan saya saat ini terasa lebih seimbang. Pekerjaan selesai, kebutuhan diri pribadi pun bisa dipenuhi dengan lebih berkualitas.

Foto: Dok. Pribadi
Panca Syurkani, Pewarta Foto Media Indonesia
Mendisiplinkan Diri
Bekerja di lapangan dengan sistem remote working telah saya jalani sejak bekerja sebagai pewarta foto, tahun 2007. Di perusahaan media tempat saya bekerja ini, sejak 2010 pun sudah menerapkan sistem kerja serupa. Sebab, nature pekerjaan saya meliput kejadian dan peristiwa di lapangan tiap hari tentu tidak memungkinkan jika saya harus absen dulu di kantor saya yang terletak di daerah Kedoya, Jakarta Barat.
Agar efektif, saya ditugaskan standby di Istana Merdeka oleh redaktur saya. Jadi, saya tiap hari langsung menuju ke sana. Dengan begitu, saya tidak akan ketinggalan atau kehilangan momen, jika ada peristiwa atau kejadian penting yang tentu tidak akan bisa diulang. Setelah memotret, mengolah foto, dan membuat caption foto, hasilnya akan segera saya kirim ke redaktur atau asisten redaktur di kantor untuk dijadikan berita.
Meski jarang sekali ke kantor, koordinasi dengan sesama rekan pewarta foto dan tim editorial berjalan dengan lancar lewat WhatsApp group. Jika ada penugasan tertentu, biasanya redaktur atau asisten redaktur akan menugaskan para pewarta foto minimal 1 hari sebelumnya. Saya harus selalu siap dengan kamera, laptop, charger, dan modem wi-fi agar bisa bekerja dari mana saja.
Untuk perhitungan absen kantor, saya dan pewarta foto lainnya wajib mengisi laporan absen dari tanggal 1 – 30. Pada akhir bulan, laporan berisi lokasi dan waktu penugasan itu harus kami serahkan ke HRD. Sebenarnya, belakangan ini HRD sudah membuat aplikasi digital untuk absen, tapi saya belum mencobanya.
Secara fisik, saya memang tidak perlu hadir di kantor, tapi penilaian terhadap karya dan pekerjaan saya terus berjalan. Saya dinilai dari foto yang saya ambil, bukan dari kuantitas, tapi dari kualitas. Tentu harus memiliki nilai berita sesuai standar perusahaan media tempat saya bekerja.
Selain foto, kinerja saya juga dinilai dari komunikasi yang baik dengan tim editorial. Misalnya, selalu merespons perintah penugasan di mana pun dan kapan pun. Jika kinerja saya dan rekan-rekan dinilai bagus oleh redaktur, perusahaan pun memberikan apresiasi berupa uang dalam jumlah tertentu. Cara ini membuat saya lebih semangat berkarya. Kalau memang kerja saya kurang baik, mereka tak segan menegur kami. Tapi, kalau bagus, saya diapresiasi. Fair enough.
Sebagai pewarta foto, saya dan rekan-rekan memang terbiasa bekerja sendiri. Tapi, pertemuan secara fisik tetap penting. Saya rutin kumpul bersama rekan-rekan atau redaktur tiap 2 minggu atau 1 bulan sekali. Tiap kumpul, kami sharing ide, evaluasi foto-foto, atau sekadar ngobrol saja. Dari situ, biasanya saya bisa mendapat banyak wawasan baru, misalnya angle foto unik, kejadian unik, info kegiatan, dan lain-lain. Kalau ada keluhan yang terkait pekerjaan, kami utarakan di forum ini agar bisa ditemukan solusinya.
Untuk menjaga kualitas pekerjaan, karena tidak ada yang mengawasi, saya harus mendisiplinkan diri. Agar tidak ketinggalan momen dari peristiwa atau kejadian penting, saya selalu berusaha hadir di lokasi liputan sebelum waktu yang ditentukan. Sebisa mungkin, saya juga selalu melakukan riset kecil-kecilan untuk lokasi atau acara yang akan saya liput supaya saya bisa mendapatkan angle foto terbaik.
Saya juga membiasakan diri untuk tidak menunda-nunda pekerjaan. Kalau sudah selesai motret, mengolah, dan membuat caption foto, saya harus langsung kirim foto-foto itu ke redaktur agar tidak menumpuk dan tidak kehilangan nilai beritanya. (f)
Baca pengalaman para profesional lainnya di kanal http://www.femina.co.id/womens-leadership-network/