Dok: Shutterstock

Dunia terus berubah, termasuk dalam persaingan usaha. Jika diawal tahun 70-an, Fortune 500 memproyeksi masa hidup perusahaan adalah 75 tahun, saat ini harapan hidup perusahaan konon hanya bisa bertahan 15 tahun saja. Angka ini pun diprediksi akan terus menurun. Bahkan sejak tahun 2000, 52% perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500 mengalami kebangkrutan atau diakuisisi perusahaan lain sebagai dampak dari disrupsi era digital. 

Apa penyebabnya? Perubahan terus terjadi dan dinamis membuat tantangan bisnis terus meningkat. Perusahaan pun harus cukup lincah untuk bisa bertahan di dunia yang serba tak menentu ini.

Lantas apa kunci agar perusahaan masa kini bisa sukses? Banyak ahli menyebutkan bahwa budaya inovasi dalam organisasi yang tumbuh dengan sehat akan membuat perusahaan mampu bertahan hingga akhirnya keluar menjadi pemenang. Di era disruptif, ketika perubahan terjadi sangat cepat, perusahaan harus terus berinovasi, menciptakan pasar-pasar baru, pengalaman, produk, layanan, hingga proses yang baru. 

Hal ini melatari Accenture, perusahaan konsultan global yang bergerak di bidang manajemen, layanan teknologi, dan alih daya (outsourcing) yang telah membantu klien di lebih dari 52 negara, mengedepankan tema #EqualityDrivesInnovation untuk penelitian global menyambut International Women’s Day 2019. 

Jauh melangkah dari sekadar diversity, yang kini sudah menjadi kebijakan umum di perusahaan, #EqualityDrivesInnovation ingin melihat sejauh mana budaya kesetaraan dapat mendorong innovasi. Menurut Nia Sarinastiti, Marketing & Communication Lead yang juga adalah Inclusion & Diversity Lead Accenture, topik tahun ini berkaitan erat ketika inovasi meningkat maka kesempatan perusahaan untuk berkembang dan bertahan lebih besar. 

Data Accenture menyebutkan secara global, gross domestic product akan meningkat hingga US$8 triliun hingga tahun 2028, jika mindset inovasi meningkat 10% di setiap negara. 

Survei global dilakukan Accenture dengan mewawancara150 orang C-Suite atau para pemimpin perusahaan dari delapan negara, 95% pemimpin perusahaan ini menyebutkan bahwa inovasi menjadi faktor vital dalam menjaga kelangsungan perusahaan. 

Sayangnya, Indonesia sendiri, berdasarkan data Global Innovation Index, saat ini baru menduduki urutan ke-85 dalam Indeks Inovasi Dunia. Meski konsisten menunjukkan kenaikan peringkat dari tahun-tahun sebelumnya, Indeks Inovasi Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Malaysia, Brunei Darusallam dan Vietnam.

“Apa yang mendasari ketertinggalan ini mungkin masih harus diteliti, namun salah satu hal yang mungkin menjadi penyebab adalah ‘complacent’. Jadi mudah puas ketika konsumen meningkat, layanan dicari, bahkan permintaan masih meningkat,” jelas Nia. 

Selanjutnya: #EqualityDrivesInnovation

 

Suasana diskusi hangat di Grup B. Dok: Femina

#EqualityDrivesInnovation

Penelitian #EqualityDrivesInnovation dilakukan lewat survei online. Tahun ini survei diikuti oleh 18.000 profesional dari 27 negara selama bulan Oktober 2018. Di negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, terdapat 700 profesional yang ikut ambil bagian dalam survei tersebut. 

Temuan apa yang didapat dari survei tersebut? Menariknya, secara global organisasi yang telah menerapkan budaya kesetaraan mendorong untuk terbentuknya budaya inovasi 6 kali lebih tinggi dibanding perusahaan yang belum menerapkan budaya kesetaraan. Sedangkan dari survei Indonesia ditemukan fakta bahwa perusahaan yang telah menerapkan budaya kesetaraan mendorong meningkatkan inovasi hingga tiga kali dari perusahaan yang belum menerapkan budaya kesetaraan. 

Budaya kesetaraan terbukti telah mendorong perusahaan untuk berinovasi dan memimpin dengan cara baru. Nia menjelaskan bahwa seperti halnya lingkungan kerja yang mendorong wanita untuk bisa mencapai level teratas, budaya kesetaraan juga menjadi multiplier dalam hal inovasi dan kemajuan. 

Namun, ada gap antara perusahaan dengan karyawan ketika bicara tentang inovasi. Data global menyebutkan bahwa pemimpin perusahaan merasa telah mendorong karyawannya untuk lebih inovatif (berada di angka 76%). Sementara karyawan justru merasa belum banyak yang dilakukan perusahaan untuk mendorong inovasi. Walaupun untuk hal ini angka survei Indonesia yang sebesar 60%, lebih tinggi dari angka global yang berada di angka 46%. Ini artinya, 6 dari 10 karyawan di Indonesia mengaku sudah didorong perusahaannya untuk berinovasi, sedangkan global baru 4 dari 10 orang.

Peserta FGD Grup A, meerka yang telah duduk ditataran C-Level di perusahaan. Dok: Femina

Untuk mendalami hasil penelitian kualitatif global tersebut, Accenture bekerjasama dengan Femina melakukan Focus Group Discussion (FGD) pada pertengahan Februari lalu bertempat di Innovest Co-Working Space yang terletak di Gedung Menara Duta di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. FGD ini melibatkan dua grup berbeda mewakili pemimpin perusahaan dan karyawan. Grup A terdiri dari profesional yang telah bekerja lebih dari 10 tahun dan berada di tataran C-level dalam perusahaannnya. Diskusi di grup ini diikuti oleh 9 peserta terdiri dari 6 direktur wanita dan 3 direktur pria, dipandu oleh Ratih Ibrahim, psikolog dari Personal Growth.

Sedangkan grup B diikuti oleh 11 profesional yang telah bekerja minimal 5 tahun dan beberapa di antaranya telah berada di level manajerial. Diskusi di grup B dipandu oleh Petty S. Fatimah, Editor in Chief Femina dan Editorial Director Prana Group. Diskusi pun berjalan santai dan inspiratif. 

Hasil FGD menyebutkan, dari skala 1 hingga 10, para karyawan (yang berada di grup B) memberikan nilai 8 untuk dukungan organisasi tempat mereka bekerja dalam mendorong karyawan menjadi lebih inovatif. 

Hasil FGD juga menyimpulkan bahwa ada tiga faktor besar yang mendorong seseorang untuk maju, melakukan perubahan. Pertama, fleksibilitas. Sebagian besar wanita yang menjadi responden FGD lebih suka jam kerja yang fleksibel untuk mendukung peran mereka sebagai seorang ibu. Siti Latifah, Campaign Manager dari sebuah perusahaan IT internasional menilai fleksibilitas yang diberikan kantornya mendorong dirinya untuk bisa lebih kreatif dan inovatif.

Budaya kerja fleksibel juga mulai diperhitungkan oleh perusahaan masa kini sebagai cara untuk membangun budaya kerja yang jauh lebih inovatif. Alih-alih mewajibkan karyawan bekerja 9 to 5, Dina Sandri Fani, GM Corporate HR mengatakan bahwa perusahaannya yang bergerak di bidang retail sudah menerapkan flexi working hours. 

“Jam kantor lebih preferable. Yang kita bangun adalah mature relationship-nya, melihat dari sisi pekerjaan, beres atau tidak, bukan lagi waktu kerjanya,” ungkap Dina. Kondisi ini juga didukung oleh peserta FGD di grup C-level yang berasal dari berbagai industri seperti e-commerce, public relation, media, financial technology, otomotif, dan arsitektur. Gambaran bahwa perusahaan Indonesia sudah sangat terbuka dengan sistem kerja flexy-time ini. 

Kedua adalah support atasan. Pemimpin memiliki dampak besar karena mereka adalah panutan sekaligus kunci bagi karyawan untuk mendapatkan peluang. Sebuah perubahan tidak akan terjadi jika tidak ada support dari atasan. 

Agustinus Seto Adjie Prasetyo, Finance Coordinator sebuah perusahaan otomotif, melihat pentingnya peranana atasan. "Karyawan memiliki passion dalam bekerja, namun opportunity datangnya dari atasan. Ketika atasan memberikan kesempatan dan dukungan, maka karyawan bisa bergerak dan berinovasi. Dalam hal ini pengaruh leader sangat besar sebagai role model," katanya.

Ketiga, komitmen terhadap keragaman gender. Di mana organisasi perusahaan memiliki proporsi yang seimbang antara pria dan wanita, termasuk dalam tingkat pemimpin. Kabar baiknya beberapa peserta FGD yang berasal dari perusahaan internasional justru menyebutkan bahwa di Indonesia komposisi kepemimpinan wanita lebih mudah dicapai dari negara lain, di mana perusahaan mereka juga berada. 

“Di perusahaan kami, budaya kesetaraan sangat terbuka, dari 16 leaders, 9 orang adalah wanita. Jadi tidak menutup kesempatan bagi wanita untuk sampai ke level senior. Kebijakan dari induk company di Kanada sangat mendukung diversity, terutama posisi senior diwajibkan 30% wanita. Lucunya, di Kanada dan Hongkong, mereka kesulitan untuk memenuhi kuota tersebut karena dominasi laki-laki. Di Indonesia sebaliknya, 46% pemimpinnya adalah wanita,” ungkap Shierly Ge, Chief Marketing Officer di perusahaan asuransi. (f)

Baca Juga:
Dorong Inovasi Lewat Budaya Kesetaraan