Foto: Shutterstock

Seperti halnya semua profesi yang memiliki masa kedaluwarsa dalam hal fisik, maka ketika usia meredupkan prestasi, berkurang juga kucuran hadiah, bonus dan perolehan materi lainnya. Bila tidak hati-hati yang tertinggal hanyalah kebahagiaan semu dan cerita nestapa. Berita tentang kehidupan menyedihkan mantan atlet nasional peraih medali masih kerap tersiar. Seperti petinju legendaris Ellyas Pical, orang Indonesia pertama peraih sabuk juara dunia IBF pada 1985. Ia dikabarkan hidup sengsara setelah melewati masa aktifnya sebagai atlet dan bekerja menjadi office boy dan satpam, karena tidak memiliki skill lain untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik.
 
Nasib mantan atlet tanah air yang bernasib kurang baik selepas masa jaya kerap mencuat lewat media sosial. Sebut saja, Marina Segedi, mantan atlet nasional pencak silat yang bekerja sebagai sopir taksi. Leni Hadi, mantan atlet perahu naga di kejuaraan dunia dan SEA Games yang bekerja sebagai buruh cuci di Jambi. Dan masih banyak lagi.
 
Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di tanah air, tapi di negara maju sekalipun. Boris Becker, atlet tenis asal Jerman yang berjaya dan sempat menjadi petenis nomor satu dunia di era 80-an dan dikabarkan memiliki kekayaan ratusan juta dolar, tahun lalu dikabarkan bangkrut. Mike Tyson, mantan petinju asal Amerika Serikat, yang dijuluki si leher besi dan menghasilkan 300 juta dolar pada masa keemasan kariernya di era‘80-‘90-an, juga dinyatakan bangkrut pada tahun 2003. Mantan kiper nasional Inggris tahun 2010, David James, juga dikabarkan bangkrut pada tahun 2014. Ia harus melelang barang-barang berharganya.
 
Sehebat apa pun seorang atlet dan sebanyak apa pun uang yang dihasilkan selama aktif sebagai atlet, memang akan habis cepat atau lambat. Menurut National Basketball Association, organisasi yang menggelar liga basket profesional di Amerika Serikat, sekitar 60% anggotanya mengalami masalah keuangan lima tahun setelah pensiun. Sementara, menurut laporan yang dilansir Sport Illustrated, 78% pemain American football alias rugby mengalami bangkrut dua tahun setelah berhenti mengikuti kompetisi. Bagaimana di Indonesia? Saat kompetisi sepak bola di Indonesia sempat dibekukan, banyak atletnya yang kelimpungan, padahal belum pensiun.
 
 


Memiliki uang melimpah dan mengelola uang banyak, sama pentingnya untuk menjamin masa depan. “Seorang atlet harus menyadari bahwa menjadi atlet bukan profesi yang bisa bertahan selamanya. Karena itu, seorang atlet harus mempersiapkan diri dan merancang masa depan sejak masih menjadi atlet,” ujar Yuni Kartika, Mantan atlet bulu tangkis nasional, pengurus klub bulu tangkis.
 
Bagaimana caranya mengelola pendapatan selama menjadi atlet untuk menjamin masa depan yang bisa jadi lebih panjang daripada masa kejayaan prestasi adalah hal terpenting. Rata-rata usia 30 adalah batas maksimal menjadi atlet.
 
Menyiapkan bisnis adalah salah satu jalannya. Sonny Dwi Kuncoro, pebulu tangkis peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 misalnya, mulai merancang dan mencicil modal mendirikan gelanggang olahraga di Surabaya sejak masih berada di puncak prestasi.
 
Namun, pilihan bisnis dan investasi tak selalu berkaitan dengan olahraga, seperti yang dilakukan oleh Liliyana Natsir yang kini sudah bersiap untuk mundur dari kompetisi bulu tangkis yang membesarkan namanya.  Wanita yang dipanggil Butet ini berbisnis pijat refleksi kesehatan dan properti. Dari pemasukan sebagai atlet Butet membuka bisnis refleksi di Serpong Tangerang. Ia juga akan mendalami bisnis properti di kampung halamannya, Manado, sambil beristirahat dari kejenuhan bermain bulutangkis.
 
Atlet muda seperti Alya Nadira, Atlet polo air, mencari ‘side job’ saat masih aktif sebagai atlet polo air. “Selain sibuk latihan, saya juga memvideokan aktivitas sehari-hari, baik di lapangan maupun di luar lapangan dan saya unggah di YouTube. Hal ini ternyata membuka peluang untuk mendapatkan tawaran endorsement sehingga saya punya pemasukan tambahan,” ujar putri pemain bola nasional, Tias Tano Taufik itu. Alya menjadi atlet nasional polo air sejak ia berusia 15 tahun.
 
Dengan penghasilan yang ia dapatkan dari polo air dan pemasukan sampingan, Alya mengembangkan beberapa bisnis. “Saya punya bisnis makanan angkringan, juga bisnis baju bertuliskan istilah olahraga renang dan polo air yang dijual secara online,” ujarnya.
 
 
 
Menentukan Nasib Sendiri
 
Dalam banyak kesempatan, Menpora Imam Nahrawi mengatakan, atlet berprestasi yang telah mengibarkan bendera Merah Putih di kancah internasional sudah selayaknya mendapatkan penghargaan terbaik dari negara.
 
Namun, seorang atlet sesungguhnya harus menyadari bahwa ia adalah CEO bagi dirinya sendiri. Menurut Yuni meski memiliki manajer, pelatih, dan keluarga yang memberi dorongan, klub yang memberi beasiswa sekolah, dan pemerintah yang menawarkan pekerjaan sebagai ASN, semuanya tetap kembali pada masing-masing individu.
 
Yuni memutuskan gantung raket pada usia 22 tahun, terbilang sangat dini untuk ukuran atlet. Ia lalu melanjutkan kuliah sambil mencari-cari peluang di bidang broadcasting. Ia kerap menjadi presenter acara olahraga, terutama kejuaraan bulu tangkis.
 
“Menurut saya, profesi atlet saat ini jauh lebih baik dibanding saat saya masih aktif. Baik dari segi gaji yang diberikan oleh klub, kontrak sponsor, hadiah, maupun kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Tapi, semua kembali lagi kepada atletnya, bagaimana ia mengelola pemasukan tersebut dan apakah mau menggunakan kesempatan yang akan datang dari bidang lain,” ujar Yuni.
 

Menurut Dedeh salah satu masalah terbesar yang dialami atlet adalah pendidikan. Karena waktu, tenaga, dan pikiran habis untuk berlatih, banyak atlet tidak meneruskan pendidikan hingga ke universitas. Akibatnya saat karier atlet selesai, tak tahu harus apa karena keahlian yang dimiliki terbatas soal olahraga yang ditekuni. Pemerintah juga sulit untuk membantu menempatkannya sebagai ASN dengan posisi yang baik.
 
Inilah yang menimbulkan banyak anggapan bahwa atlet belum bisa dijadikan profesi mapan. “Oleh karena itu, pendidikan adalah hal yang utama juga. Tak ada pilihan, pendidikan adalah keharusan. Selain untuk modal di masa depan, ilmu yang kita terima di bangku kuliah juga bisa membantu peningkatan prestasi di lapangan. Hal ini juga yang mendorong saya untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin,” ujar Dedeh, yang saat ini sedang menyelesaikan disertasi untuk program doktoral jurusan jasmani di Universitas Negeri Jakarta.
 
Triyaningsih juga sepakat. “Kendati ingin menjadi atlet, tak lantas mengabaikan pendidikan. Kita terlatih mempunyai pemikiran yang lebih rasional. Sehingga, ketika kita bertanding, kita bisa berpikir cepat tentang strategi kemenangan,” katanya.
 
 
 
“Zaman sekarang, ada banyak mantan atlet yang menjadi anggota DPR, pelaku bisnis, pejabat pemerintah, pengajar, perwira angkatan dan kepolisian, dokter, dan banyak lagi karena pendidikan yang ditempuhnya. Ini sangat menggembirakan. Tentunya patut ditiru atlet-atlet junior,“ ujar Triyaningsih.
 
Triyaningsih pun sudah berencana untuk menjadi pelatih setelah pensiun. “Saya ingin berbagi dengan atlet-atlet junior lainnya kelak.”
 
Berpikir jauh ke depan menjadi hal penting bagi seorang atlet selain memaksimalkan keahlian yang dimilikinya. Seorang atlet perlu mengenali keahlian lain untuk menghadapi persaingan pekerjaan di masa akan datang.
 
“Kita sendiri yang menentukan nasib kita setelah pensiun. Namun memang, perlu ada bimbingan khusus misalnya dari Kemenpora. Mungkin bisa saja diajarkan bagaimana mengatur keuangan, dilatih kemampuan lain selain olahraga yang ia geluti atau ilmu berwirausaha,” ujar Alya.
 
Menurut Dedeh, banyak profesi yang masih berhubungan dengan dunia olahraga yang bisa dikembangkan selain menjadi pelatih, misalnya mempelajari manajemen olahraga bisa di bidang event organizer (EO) atau membangun bisnis di dunia olahraga, dan lain-lain. Namun, untuk berbisnis, seorang atlet perlu ilmu agar tak salah berinvestasi dan mengelola bisnisnya.
 
Bagi Dedeh, tantangan terberat jadi atlet adalah pada saat ia bertekad kuat untuk mengejar prestasi tertinggi serta menjadi juara, tapi sarana dan prasarananya kurang memadai, try out dan training camp kurang maksimal karena alasan dana atau kusutnya birokrasi.
 
“Saya juga berharap, pemerintah tidak melupakan atlet-atlet yang belum beruntung mendapatkan medali, karena mereka sama-sama berjuang dan berusaha menjadi yang terbaik. Prestasi olahraga itu tidak bisa dihasilkan secara instan, tapi diciptakan. Apa yang menjadi kebutuhan dalam proses pencapaian prestasi itu, semoga bisa didukung dengan maksimal juga dengan pendanaan yang cukup,” imbuh Dedeh.
 
Sejak kecil atlet sudah bekerja keras untuk jadi juara, mereka mengorbankan segalanya, tak berlebihan jika mereka berharap perjuangannya bisa dihargai pemerintah. Dan tidak hanya atlet yang berdomisili di ibukota tapi juga atlet yang berdomisili di daerah. Kita semua berharap iklim yang lebih mendukung atlet di negeri ini terus akan membaik, tak hanya memerhatikan olahraga populer. (f)

Baca Juga:

5 Pelajaran Hidup di Balik Emas Pertama Syuci Indriani di Asian Para Games 2018
5 Fakta Kemenangan Pemain Bulutangkis Anthony Sinisuka Ginting di China Open
Berkenalan Dengan 10 Atlet Wanita Peraih Emas Asian Games 2018