
Foto: Pixabay
Promosi adalah satu kata yang paling ditunggu-tunggu oleh seorang staf atau karyawan. Tak hanya menyangkut kenaikan status dan penghasilan, promosi menjadi bukti bahwa kompetensi seseorang telah mendapat pengakuan secara profesional.
Anehnya, di tengah kompetisi super ketat ini ada beberapa orang yang menjadi anomali. Di saat yang lain berlomba-lomba untuk dipromosi, mereka justru menghindar. Sayang rasanya jika kesempatan besar ini berlalu hanya karena alasan takut atau tak siap. Konsultan karier Sylvina Savitri dari EXPERD membantu mencari solusinya!
KASUS 1: BERBEDA KOMPETENSI
Sudah hampir setahun saya menjabat posisi asisten manajer yang mengurusi administrasi keuangan sebuah pabrik consumer good. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, saya sudah cocok dengan bos baru dan bisa bekerja sama dengan enak. Alhasil, semua pekerjaan bisa saya selesaikan dengan tuntas dan memuaskan.
Baru saja saya menikmati masa bulan madu, tiba-tiba diminta atasan menempati posisi baru sebagai sebagai manajer divisi akunting. Buat saya ini dilema. Meski masih sama-sama mengurusi uang, tapi saya bukan seorang akunting.
Ritme kerjanya juga berbeda, saya takut tidak bisa enjoy dan malah jadi kontra produktif. Apalagi dalam waktu dekat perusahaan akan mengadakan audit. Kehadiran saya bisa bikin runyam!
SOLUSI:
Rasanya tidak salah bila kita secara terbuka mengungkapkan sejauh mana kecakapan yang kita miliki, dan hal-hal apa yang perlu Anda perdalam atau pelajari untuk bisa menjalani peran tersebut dengan baik.
Jika dirasa butuh waktu, cobalah untuk minta waktu mempelajari pekerjaan manajer akunting tersebut, mulai melakukan apa yang menjadi tanggung jawab pekerjaan tersebut, tanpa harus secara formal mengisi posisi tersebut.
Selama masa ini, Anda bisa menerapkan prinsip quick-win. Artinya, tetapkan langkah-langkah bertahap untuk lebih mengenali bidang baru yang dipercayakan kepada Anda.
Misalnya, di minggu ke-1, tetapkan waktu untuk mendiskusikan lebih dalam apa saja yang menjadi tanggung jawab tugas, indikator keberhasilan, sasaran dan target kerja yang dibebankan. Dengan memahami lebih dalam tuntutan kerja yang ada, kita bisa melakukan penilaian dan kesiapan kita dengan lebih realistis.
Minggu ke-2, untuk menghadapi audit, Anda bisa mengatur jadwal bertemu dengan orang yang menguasai hal ini untuk mempelajari secara cepat sistematikanya. Dengan quick-win tahapan perjalanan Anda mengenali bidang pekerjaan baru ini akan lebih visible dan membuat Anda makin percaya diri terus maju ke depan. Sebab, keberhasilan target di minggu pertama akan menjadi suntikan energi untuk mensukseskan target berikutnya.

Foto: Pixabay
KASUS 2: TERKENDALA KEMAMPUAN BAHASA
Saya baru saja pindah ke divisi riset perusahaan multinasional. Dari yang awalnya melamar posisi asisten riset, saya malah ditempatkan untuk posisi manajer. Masalahnya, deadline riset di perusahaan baru ini super ketat. Dalam waktu maksimal dua hari saya harus menyelesaikan sebuah laporan riset komprehensif dalam bahasa Inggris. Meski sudah berusaha sekuat tenaga, nyatanya kecepatan menulis saya masih jauh di bawah rata-rata. Selama masa percobaan enam bulan ini, atasan berinisiatif membantu menerjemahkan laporan yang saya tulis ke dalam bahasa Inggris. Saya berencana untuk menghadap atasan dan mengatakan bahwa saya rela turun posisi, bahkan siap jika kontrak saya tidak diperpanjang. Sebab, tidak mungkin semua pekerjaan di kantor harus menunggu hingga kemampuan bahasa Inggris saya bagus.
SOLUSI:
Bila orang lain, seperti atasan Anda, bisa melihat kekuatan ini, semestinya kita pun harus melihatnya dan membuat kita lebih percaya diri menghadapi tantangan di pekerjaan yang baru. Tuntutan global dan kendala bahasa memang sekarang menjadi tantangan banyak orang di banyak perusahaan. Banyak tenaga ekspatriat seperti orang Jepang atau Korea yang terkendala dengan bahasa Inggris, tapi mereka sadar bahwa kendala ini bisa dilalui. Banyak orang tidak punya keahlian, tapi tetap percaya diri. Sebab, rasa percaya diri inilah yang akan mendorong kita untuk membuat kemajuan.
Dalam situasi kerja baru, tiga bulan pertama memang masa adaptasi dan sekaligus masa penilaian kinerja kita. Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Fokus pada hal yang menjadi keahlian kita. Tunjukkan betapa Anda berusaha untuk memperbaiki ketrampilan bahasa yang belum prima. Boleh saja Anda menghadap atasan, tapi bukan untuk mengibarkan 'bendera putih'. Jadikan momen ini untuk meminta bantuannya dalam mengevaluasi kemajuan Anda dan meminta feedback dari atasan untuk perbaikan diri.

Foto: Pixabay
KASUS 3: DIKORBANKAN
Sudah lama saya mendambakan bisa duduk sebagai Kepala Bagian di sebuah divisi di kantor saya. Masalahnya, saya tidak hanya mendapat warisan jabatan, tapi juga masalah! Hal ini terkait dengan kasus penggelapan uang perusahaan yang dilakukan oleh kepala divisi yang baru saja diberhentikan itu. Selain harus mengusut dan mengaudit keuangan, saya juga harus membenarkan masalah manajemen yang selama kepemimpinan beliau carut-marut. Belum juga merasakan nyamannya duduk di kursi jabatan baru, saya sudah dapat warning dari para staf di divisi itu yang dari sisi usia jauh lebih senior dari saya. Mereka mewanti-wanti saya untuk tidak mengadakan perubahan. Padahal, perubahan adalah hal mutlak untuk membenahi sistem menajemen yang amburadul dari pemimpin sebelumnya. Dari yang tadinya semangat, kini saya jadi pesimis. Saya merasa seperti kambing kurban! Risiko dan berat tanggung jawab yang saya pikul tidak sebanding dengan kesenangan materi atau batin yang saya peroleh.
SOLUSI:
Situasi yang Anda hadapi memang tidak ringan. Namun, pengetahuan mengenai kondisi yang ada sebetulnya hal yang positif buat Anda. Ini sepenuhnya di tangan Anda sendiri, apakah mau mencoba tantangan yang sudah lama dimimpikan atau akan mundur sebelum mencoba? Hindari memberatkan diri dengan pikiran akan beban yang akan dihadapi. Seringkali, ketika kita sudah menjalani, tidak seberat yang kita pikirkan.
Jangan membebani diri dengan harapan yang tidak realistis, misalnya keharusan untuk membuktikan kehebatan atau kesuperioran kita dalam waktu singkat. Buat daftar langkah-langkah atau rencana kerja yang lebih jangka pendek dan realistis. Di sini baru kita bisa lebih tenang, karena dapat mengetahui mana yang mungkin dan mana yang tidak mungkin dikerjakan.
Tidak harus melakukan gebrakan besar di awal. Lakukan riset, bicarakan dengan orang-orang yang tepat, baca emosi, baca politik, sebelum membuat manuver atau perubahan yang mempengaruhi orang banyak. Kalau kebetulan Anda menghadapi seorang trouble maker, atau si sulit, maka luangkan waktu untuk melakukan pendekatan personal. Tak perlu sampai keluar makan siang, mampir ngobrol di mejanya selama 10-15 menit tentang keseharian atau kesibukannya saja sudah cukup.

Foto: Pixabay
Biasanya, butuh waktu enam tahun bagi Account Executive (AE) untuk naik ke posisi Account Manager (AM). Sebagai masa peralihan, saya menduduki posis Asisten AM. Namun, sejak diangkat rekan-rekan seangkatan mulai menjauhi saya. Kondisi yang tidak kondusif ini membuat saya jadi tidak betah dan sangat tertekan. Apalagi bagi saya yang pada dasarnya suka berada dalam kelompok atau bersosialisasi. Gara-gara tertekan, saya gagal menyelesaikan tugas dengan optimal. Daripada terus tersiksa, saya menghadap atasan dan menyatakan mundur dengan alasan hasil kerja saya tidak memuaskan. Pikir saya, jangankan saat nanti menjadi Account Manager, saat masih menjadi Asisten AM saja sikap mereka sudah seperti itu. Bagaimana ceritanya saat saya menjadi atasan mereka nanti?
SOLUSI:
Di posisi yang lebih tinggi, tantangannya sudah pasti akan lebih berat. Hal seperti ini memang butuh adaptasi. Memang ada pola hubungan yang berubah, tapi bukan secara personal, melainkan secara profesional. Tetaplah menjaga hubungan baik dengan kelompok Anda yang lama. Anda bisa tetap makan siang bersama mereka, memberikan kejutan ulang tahun, atau memberikan pujian.
Perluas jejaring Anda dengan rekan satu jajaran dan mereka yang lebih tinggi posisi kariernya. Siapa tau Anda jadi bisa punya kelompok baru yang lebih suportif. Jika dalam enam bulan ke depan tetap merasa “tersiksa” dengan intrik dan persaingan yang ada, evaluasi lagi apakah memang situasi kerja ini Anda bisa hadapi atau lebih banyak makan hatinya.
Jangan keburu paranoid bahwa Anda tidak akan bisa bekerjasama dengan rekan-rekan Anda kelak. Sebab, selama Anda menjaga profesionalitas dan performa, maka respek itu lambat laun akan Anda dapatkan. Kekhawatiran yang berlebihan justru bisa mengganggu kinerja Anda!

Foto: Pixabay
KASUS 5: BERAT DI KELUARGA
Saya ibu bekerja dengan dua anak. Harus diakui, saya harus jungkir balik untuk bisa menyeimbangkan peran, sebagai istri, ibu, dan wanita karier. Saya sangat mencintai pekerjaan saya dan mungkin hal ini lah yang membuat prestasi saya menonjol. Sehingga, atasan berencana untuk mempromosikan saya ke jabatan senior. Antara senang dan bingung. Sebab, posisi baru ini jelas akan menyita lebih banyak lagi waktu, perhatian, dan tenaga saya. Padahal, saya masih punya bayi usia 6 bulan yang memerlukan perhatian penuh dari saya. Saya sebenarnya ingin menyampaikan kegalauan saya ini, tapi saya takut penilaian mereka terhadap saya jadi negatif.
SOLUSI:
Hal yang tepat untuk mendiskusikan hal ini kepada atasan. Dan karena ini menyangkut keluarga, maka diskusi dengan suami atau anggota keluarga yang lain juga sangat penting. Memang benar, untuk maju seseorang harus berani keluar dari comfort zone. Tetapi, bukan berarti Anda benar-benar mengeliminasi kebutuhan kenyamanan ini. Karena tanpa ruang nyaman, Anda pun akan jadi tidak happy. Buntut-buntutnya, performa Anda pun akan buruk.
Masalah ini sebenarnya sangat terkait dengan prioritas Anda. Apabila prioritas Anda saat ini adalah karier, mungkin ada beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan. Seperti, Anda tak bisa lagi menjemput anak sepulang sekolah, atau menemaninya belajar di rumah. Tetapi, jika memang mungkin, Anda bisa membicarakan kemungkinan untuk mengundurkan masa promosi dalam jangka waktu yang realistis, seperti selama 6 bulan – 1 tahun untuk mempersiapkan keluarga Anda.
Untuk menghindari kesan negatif, jaga agar saat mengkomunikasikan hal ini Anda tidak terdengar seperti sedang mengeluh atau minta dikasihani. Tetapi pakai pendekatan dari sisi profesional, yaitu keterbatasan Anda saat harus memaksakan diri mengambil promosi dengan situasi keluarga yang saat ini sedang Anda hadapi. (f)