Foto: Shutterstock

Dunia sedang berubah. Ekonomi sulit diprediksi. Industri mengalami disrupsi dan masa depan sedang ditata ulang di depan mata kita. Di era yang penuh ketidakpastian, meraih kesuksesan bukanlah hal yang tidak mungkin. Mawar Sheila, konsultan di Executive Learning Institute Prasetiya Mulya, menyebut era yang sekarang sebagai VUCA atau kepanjangan dari Volatile, Uncertainty, Complex, dan Ambiguity. Karena itu, ada baiknya membekali diri dengan amunisi skill yang tepat. Berikut ini tip-tip profesional untuk lebih menikmati pekerjaan sekaligus memenangkan kompetisi di masa depan. 

#1Mengubah Kesalahan Menjadi Berkah
 
Anggita (30), copy writer sekaligus endorser produk, kini menjadi campaign manager di sebuah perusahaan start up. Namun, setelah 6 bulan menjalani, Anggita merasa ternyata pekerjaannya tidak semudah yang ia bayangkan.
 
“Kalau dulu, menulis status terasa menyenangkan, sekarang malah terasa seperti beban karena menjadi tuntutan. Saya takut salah tulis,” ujar Anggita, yang tiap hari deg-degan takut dapat kritik pedas dari netizen.
 
Menurut Mawar, ketika seseorang menampilkan dirinya di media sosial, ia harus punya sesuatu yang bisa ‘dijual’. "Ada kompetensi yang menjadi core kita, lalu kita tampilkan dalam media sosial. Itu yang membuat influencer bisa bertahan. Dia harus punya tema, punya sesuatu yang memang dirinya, dan ada kekuatannya," katanya.
 
Tidak semua orang yang berhasil di media sosial, juga memiliki kompetensi seperti yang ia tunjukkan di media online. Sebaliknya, tak sedikit orang yang jauh lebih kompeten, tetapi sayangnya tidak jago atau tidak ingin menampilkan dirinya di media sosial. Ketika kesempatan itu berhasil diraih, setidaknya seorang influencer sudah selangkah lebih maju.
 
Mengutip James Altucher, penulis buku Choose Yourself, tujuan atau target yang tinggi harus dimulai dari perjalanan selangkah demi selangkah. Ketika satu peluang kecil terbuka, tinggal bagaimana seseorang mau terus meningkatkan progress, practice, dan persistence. Selalu mencari kemajuan, mau terus berlatih, dan tekun.
 
 

 #2 Saat Kepercayaan Diri Menurun
 
Sebagai yang termuda dalam satu divisinya membuat Nanda (27), yang bekerja di bagian business development, sempat merasa minder dan kurang pede. Pekerjaannya yang sekarang mengharuskannya sering bertemu dan presentasi di depan klien.
 
“Saya suka iri melihat orang lain, kok, bisa begitu percaya diri, gampang bicara dan meyakinkan klien. Saya, kok, masih kaku saja. Kadang-kadang suka takut, enggak pede.”
 
Rendahnya kepercayaan diri bisa menghalangi seseorang untuk berkembang. Menurut Mawar, perlu ditelusuri terlebih dahulu, apa alasan dari ketidakpercayaan diri tersebut. Apakah betul karena merasa kurang punya skill? Atau memang tidak mau ditempatkan di posisinya yang sekarang sehingga pekerjaannya tidak optimal? “Selesaikan dulu hal tersebut dengan diri sendiri,” saran konsultan dengan sertifikat sebagai Associate Certified Coach (ACC).
 
Idealnya, ketika menduduki posisi yang baru, seseorang menyadari apa yang menjadi kelemahannya. Bisa dimulai dengan memetakan hambatannya dan memahami apa saja yang dibutuhkan untuk mengisinya dengan skill yang sesuai. “Mulai dari langkah kecil, apa yang bisa ia lakukan.”
 
Di sisi lain, Mawar juga menekankan, sebaiknya kita jangan berkecil hati jika dalam satu tim menjadi orang yang punya kelemahan dalam hal tertentu. Sebab, bukan tidak mungkin sebetulnya ia punya kekuatan dalam hal lain, yang dilihat oleh pihak manajemen.
 
Mawar mengutip riset dari Gallup tentang adanya 34 kekuatan seseorang yang dibagi menjadi empat area yaitu Executing, Influencing, Relationship Building, dan Strategic Thinking.
 
“Nah, tiap orang punya paling tidak lima kekuatan yang paling menonjol. Akan lebih baik jika kita bisa fokus untuk memanfaatkan kelima talenta yang menonjol itu guna menyelesaikan pekerjaan kita secara lebih optimal, daripada terlalu melihat kekurangan.”
 
 

 #3 Tantangan Peran Ganda
 
Mayra Amanda (36) menjabat sebagai division head di sebuah perusahaan farmasi di Jakarta. Berulang kali ia mengajukan diri untuk mutasi ke luar kota. “Suami dan anak saya tinggal di Bandung. Karena suami tidak mungkin pindah kerja, satu-satunya solusi agar saya bisa tetap bekerja adalah dengan pindah kantor ke kota yang sama dengan keluarga. Walaupun untuk itu saya harus turun level atau trade off karier, saya rela. Saya memang sudah siap dengan konsekuensinya. Namun, tampaknya pihak kantor belum mengizinkan sampai sekarang.”
 
Mengenai hal ini, Mawar mengatakan, “Saya banyak menemukan wanita dari berbagai profesi menghadapi pertentangan ketika tuntutan karier dihadapkan dengan keluarga. Prioritas dan value individulah yang membuat orang menentukan mana yang akan dipilih."
 
Ketika seseorang memiliki prioritas pada keluarga, ada yang akhirnya enggan memilih tawaran untuk naik pangkat, tetapi harus pindah ke luar kota. Ada yang menolak dipromosikan karena itu berarti konsekuensinya ia harus sering menghabiskan waktu di kantor. Intinya, dilema peran ganda yang dihadapi wanita di dunia kerja itu nyata adanya.
 
“Pertanyaan tentang value hanya bisa diselesaikan di level pribadi. Tiap individu itu unik. Ada pula sebagian wanita yang value-nya adalah harmoni. Ia memikirkan karier jangka panjang. Maka, ia akan melihat, kondisi yang ia hadapi sekarang hanyalah kondisi sementara, bukan permanen. Ia juga menganggap tantangan yang ia hadapi dalam karier bisa dicari solusinya. Kita tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan pendapat orang. Apa yang dianggap penting bagi tiap orang, berbeda-beda. Dengan demikian, ia sudah siap menangani kendala dan konsekuensi yang akan ia hadapi,” jelas Mawar.
 
 
 
#4 Ditakuti Bawahan
 
Kalau disuruh memilih, Hani Mursanti (35) akan lebih memilih untuk tetap berkutat dengan data dan angka di laboratorium tempatnya bekerja sebagai analis. Ketika ia mendapat promosi menjadi manajer, ia harus memimpin tim. “Saya bukan tipe orang yang didekati anak buah. Entah mengapa, mereka takut ngobrol dengan saya,” ujar Hani, yang merasa berjarak dengan anggota timnya.
 
Dalam bekerja, ada yang jauh lebih penting daripada sekadar bagaimana pekerjaan bisa selesai. “Tidak hanya task oriented, pemimpin sekarang juga harus bisa people oriented,” saran Mawar. Ia menambahkan, sebetulnya tidak ada perbedaan, antara menjadi atasan yang bersikap galak terhadap bawahannya maupun bersikap baik. Keduanya sama-sama tidak menjamin pekerjaan bisa selesai atau tidak selesai.
 
“Bedanya adalah pada situasi yang diciptakan. Ketika perilaku atasan otoriter, ia membuat lingkungan orang-orang yang di bawahnya menjadi tertekan. Kalau sudah begitu, intensi yang muncul menjadi negatif. Bisa saja bawahan menyelesaikan pekerjaan, tetapi hanya sekadar asal-asalan selesai atau karena takut dimarahi. Berbeda ketika pemimpinnya menunjukkan sikap baik dan penuh perhatian terhadap bawahan, hasilnya adalah lingkungan kerja yang lebih suportif,” ujar Mawar.
 
Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu memiliki karakter kindness, compassionate, dan mindfulness.  “Akan lebih baik Anda menginvestasikan waktu setengah jam untuk ngobrol dengan bawahan. Selain membicarakan pekerjaan, tanyakan juga tentang keluarga ataupun kehidupan pribadinya. Daripada hanya punya waktu lima menit untuk delegasi tugas, tapi tanpa membuat percakapan dengan bawahan. Mungkin pekerjaannya bisa selesai, tetapi Anda tidak tahu ‘drama’ apa yang terjadi di balik itu, saat ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya.” (f)
 
Baca Juga:

Belajar Kepemimpinan Lewat Mentoring
Amplifying, Cara Wanita Saling Dukung Dalam Karier
Ini Ciri Rekan Kerja Yang Akan Membuat Karier Melesat