Pastikan nggak bawa pekerjaan ke hari cuti, dan selesai cuti nggak disambut tumpukan utang pekerjaan. Foto ilustrasi: Pexels/Cottonbro Studio


Akhirnya... kamu sekarang sudah punya jatah cuti alias bisa ambil cuti.

Tapi, bisa jadi cuti debut ini bikin kamu ragu untuk mengambilnya. Data SHRM.org terbaru 2026 bahkan menunjukkan banyak pekerja masih merasa cemas mengambil cuti karena tekanan finansial dan kekhawatiran soal pekerjaan.

Mau pergi jauh, saldo rekening belum siap. Mau di rumah saja, takut merasa nggak memanfaatkan cuti. Belum lagi ada rasa sungkan meninggalkan pekerjaan karena masih tergolong anak baru.

Padahal, cuti adalah hak kamu sebagai pekerja, dan bukan hadiah. Manfaatkan jeda dari rutinitas kerja itu, yang nggak selalu identik dengan liburan mahal.

Cek 3 tip berikut agar cuti pertama kamu bisa berjalan lancar!

1/ Kenali dulu aturan cuti di kantor
Cek kebijakan perusahaan tentang cuti--kapan kamu mulai mendapatkan hak cuti, berapa hari yang tersedia, bagaimana prosedur pengajuannya, dan apakah ada periode tertentu yang dibatasi.

Di Indonesia, ketentuan cuti tahunan pada dasarnya memberikan 12 hari kerja setelah pekerja bekerja selama 12 bulan secara terus-menerus, meski aturan perusahaan atau perjanjian kerja bisa memiliki ketentuan yang lebih spesifik. 

Jangan mengandalkan asumsi atau pengalaman teman di kantor lain. Cek aturan yang berlaku di tempatmu.

2/ Jangan FOMO kegiatan selama cuti
Cuti bukan kompetisi untuk membuktikan siapa yang paling produktif saat liburan. Kalau bujet belum memungkinkan untuk traveling, lebih baik kamu pilih staycation, pulang kampung, atau menghabiskan waktu doing nothing.

Sayangnya salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah membawa pekerjaan ke dalam cuti. Survei yang dikutip SHRM.org pada 2024 menemukan 60% responden kesulitan benar-benar disconnect dari pekerjaan saat mengambil cuti.

Karena itu, selesaikan handover yang memang perlu, informasikan siapa yang bisa dihubungi jika ada urusan penting, lalu tentukan batas yang jelas. 

Kalau kamu sedang cuti, nggak perlu terus mengecek chat kerja setiap beberapa menit.

3/ Sisakan satu hari masa transisi
Kalau memungkinkan, jangan habiskan seluruh cuti untuk perjalanan sampai malam sebelum kembali bekerja. Sisakan sedikit ruang untuk beristirahat, membereskan barang, mencuci pakaian, atau sekadar kembali ke rutinitas tanpa terburu-buru.

Cuti yang menyenangkan bukan cuma soal ke mana kamu pergi, tetapi juga bagaimana kamu kembali--dan bukan disambut tumpukan utang pekerjaan dari sebelum cuti. 

Jadi, kalau ini adalah cuti pertamamu sebagai pekerja, mulailah memahami hakmu, merencanakan pekerjaan sebelum pergi, lalu benar-benar memberi diri sendiri waktu untuk off. 

Belajar memanfaatkan cuti juga bagian dari belajar bekerja yang lebih baik. (f)