
Foto: Fotosearch
Setelah ajakan wawancara kerja, kita harus siap tempur, dong untuk mendapatkan gaji (plus fasilitas) sesuai kemampuan dan keinginan. Memangnya mau dibayar pas-pasan padahal ada kesempatan buat dapat lebih banyak? Yuk, akali mitos yang salah sebelum menyesal berkepanjangan.
Minta terlalu banyak
Beberapa perusahaan ada yang meminta kita untuk menyebutkan 'harga' saat melamar pekerjaan. Tapi, nih, bukan berarti permintaan gaji yang terlalu tinggi atau di bawah standr nggak dilirik. Sebenarnya mereka hanya ingin tahu range gaji terbaru, meski sudah menetapkan gaji nominal tertentu. Kalau memang kita qualified, perusahaan nggak bakal takut memanggil dan memberikan gaji seusai permintaan kita, kok.
Nggak boleh nego gaji
Justru pewawancara senang melihat kita berjuang untuk mendapatkan gaji sesuai kemampuan yang kita miliki. Nggak salah, kok, agak ngotot meyakinkan dia bahwa kita berhak dibayar lebih. Sst... keputusan akhir tetap di tangan mereka, ya!
Sekali rendah, tetap rendah
Jangan patah semangat seandainya gaji awal kita dulu di bawah rata-rata. Sekarang saatnya menujukkan bahwa kita sudah berkembang, baik dari segi pengalaman maupun skill. Sehingga pantas memperoleh angka yang lebih manusiawi. Perusahaan menolak? Mungkin saatnya resign karena perusahaan nggak menghargai kemampuan kita.
Nego agar bergaji tinggi
Eits, negosiasi bukan hanya untuk memburu gaji setinggi langit. Kita juga harus cerdas memperhitungkan bonus, tunjangan jabatan, asuransi, dan fasilitas lainnya yang 'memperkaya' gaji. Gaji tinggi tetapi waktu kita banyak dihabiskan untuk lembur di kantor sehingga nggak punya me time? Pikir-pikir lagi, deh!
Angka gaji selalu fixed
Ternyata, gaji yang ditawarkan oleh perusahaan selalu bisa dinego. Kalaupun perusahaan sudah menetapkan standar sehingga gaji kita hanya mengalami sedikit kenaikan. Coba, deh, minta fasilitas lain atau bonus agar paket kompensasi yang kita terima makin lengkap.
(Klik laman di bawah untuk membaca 5 mitos lainnya)

Foto: Fotosearch
Nominal gaji selalu tetap
Nggaklah... Permintaan gaji yang lebih besar diloloskan perusahaan sebenarnya diperhitungkan dari penghasilan kita di perusahaan sebelumnya. Jika kita pasrah menerima gaji lebih rendah tanpa nego di perusahaan baru, pastinya bakal menyesal selama bertahun-tahun, tuh.
Nggak matre = membuka peluang
Strategi meminta gaji (benar-benar) sesuai standar cuma akan menyusahkan diri sendiri. Perusahaan bakal menilai kita kurang pede dan berharga, makanya dianggap nggak layak buat direkrut. Di sisi lain, kalau perusahaan menyetujui permintaan kita, ya, biasanya justru bikin kita nggak puas dan selalu berandai-andai untuk meminta gaji lebih tinggi.
Mensyukuri tawaran pertama
Pada kenyataannya, sih, kita nggak boleh pasrah dan harus selalu nego gaji yang ditawarkan pewawancara. Seringnya, nominal tersebut merupakan paket terendah dari standar yang disiapkan oleh perusahaan. Kalau kita bisa meyakinkan mereka, yakin, deh, bisa mendapatkan gaji yang paling oke.
Setuju dengan penawaran terakhir- A.S.A.P!
Kesalahan umum yang kita lakukan adalah menyetujui tawaran terakhir dari perusahaan. Alasannya: takut perusahaan menawarkan ke orang lain. Sebenarnya anggapan ini nggak sepenuhnya benar, kok. Lowongan bakal terus menunggu kita sampai akhirnya kita juga yang memutuskan untuk menolaknya. Kalau memang belum sreg, nggak ada salahnya meminta waktu pada perusahaan untuk memikirkan tawaran akhir mereka. Asal nggak lebih dari 24 jam, ya!
Menolak tawaran=gagal
Sekalipun kita menolak tawaran pekerjaan karena gaji nggak sesuai standar, bukan berarti kita gagal. Jika perusahaan benar-benar berminat terhadap performa kerja kita, maka mereka juga akan berusaha mempertahankan kita mati-matian. Misalnya dengan cara memenuhi syarat tertentu. (contoh: setelah bekerja tiga bulan atau menetapkan target tertentu pada kita).(f)
Baca juga:
Nggaklah... Permintaan gaji yang lebih besar diloloskan perusahaan sebenarnya diperhitungkan dari penghasilan kita di perusahaan sebelumnya. Jika kita pasrah menerima gaji lebih rendah tanpa nego di perusahaan baru, pastinya bakal menyesal selama bertahun-tahun, tuh.
Nggak matre = membuka peluang
Strategi meminta gaji (benar-benar) sesuai standar cuma akan menyusahkan diri sendiri. Perusahaan bakal menilai kita kurang pede dan berharga, makanya dianggap nggak layak buat direkrut. Di sisi lain, kalau perusahaan menyetujui permintaan kita, ya, biasanya justru bikin kita nggak puas dan selalu berandai-andai untuk meminta gaji lebih tinggi.
Mensyukuri tawaran pertama
Pada kenyataannya, sih, kita nggak boleh pasrah dan harus selalu nego gaji yang ditawarkan pewawancara. Seringnya, nominal tersebut merupakan paket terendah dari standar yang disiapkan oleh perusahaan. Kalau kita bisa meyakinkan mereka, yakin, deh, bisa mendapatkan gaji yang paling oke.
Setuju dengan penawaran terakhir- A.S.A.P!
Kesalahan umum yang kita lakukan adalah menyetujui tawaran terakhir dari perusahaan. Alasannya: takut perusahaan menawarkan ke orang lain. Sebenarnya anggapan ini nggak sepenuhnya benar, kok. Lowongan bakal terus menunggu kita sampai akhirnya kita juga yang memutuskan untuk menolaknya. Kalau memang belum sreg, nggak ada salahnya meminta waktu pada perusahaan untuk memikirkan tawaran akhir mereka. Asal nggak lebih dari 24 jam, ya!
Menolak tawaran=gagal
Sekalipun kita menolak tawaran pekerjaan karena gaji nggak sesuai standar, bukan berarti kita gagal. Jika perusahaan benar-benar berminat terhadap performa kerja kita, maka mereka juga akan berusaha mempertahankan kita mati-matian. Misalnya dengan cara memenuhi syarat tertentu. (contoh: setelah bekerja tiga bulan atau menetapkan target tertentu pada kita).(f)
Baca juga: